Petani Vietnam Tinggalkan Kopi demi Durian: Pendapatan Melonjak 7 Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan durian di Vietnam meningkat lima kali lipat dalam satu dekade, mencapai 200.000 hektare.
- Vietnam kini menjadi pemasok durian terbesar ke China, menggeser dominasi Thailand yang bertahan hampir dua dekade.
- Permintaan China yang melonjak, didorong media sosial, mengubah lanskap pertanian Asia Tenggara.

Petani di Dataran Tinggi Tengah Vietnam, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung kopi dunia, kini ramai-ramai beralih menanam durian. Perubahan ini bukan tanpa alasan: permintaan yang melonjak dari China telah membuat durian menjadi komoditas yang jauh lebih menguntungkan daripada kopi.
Pham Xuan Lan, seorang petani berusia 56 tahun di provinsi Dak Lak, adalah salah satu contoh nyata. Dengan 400 pohon durian yang ia tanam sejak dua dekade lalu, ia kini mampu meraup pendapatan hingga US$76.000 (sekitar Rp1,1 miliar) tahun ini. Angka itu tujuh kali lipat lebih besar dibandingkan jika ia tetap bertahan menanam kopi, yang hanya memberinya sekitar US$10.000. "Dengan durian, saya bisa membeli mobil, rumah untuk anak-anak, dan membangun vila untuk keluarga," ujarnya, menunjukkan kemakmuran yang kini dinikmatinya.
Fenomena ini bukan kasus terisolasi. Kementerian Pertanian Vietnam mencatat luas lahan durian nasional telah melonjak lebih dari lima kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir, mencapai 200.000 hektare. Dataran Tinggi Tengah, dengan iklim tropis dan tanah basal yang subur, memang selama ini menjadi andalan produksi kopi robusta Vietnam—negara penghasil kopi terbesar kedua dunia setelah Brasil. Namun, durian kini menjadi primadona baru.
Perubahan haluan ini tidak lepas dari kebijakan perdagangan. Vietnam baru resmi memasuki pasar durian China setelah nota kesepahaman ditandatangani pada 2022. Namun, dalam waktu singkat, Vietnam berhasil menjadi pemasok durian segar terbesar ke China berdasarkan volume, menggeser Thailand yang telah mendominasi hampir dua dekade. Data menunjukkan China mengimpor durian segar senilai hampir US$7,5 miliar pada tahun lalu, melonjak hampir 12 kali lipat dibandingkan 2015.
Di balik lonjakan permintaan itu, media sosial memegang peran kunci. Video-video orang membelah durian dengan tangan kosong di platform Douyin, padanan TikTok di China, telah ditonton miliaran kali. Influencer seperti Liulianzi bahkan memuji rasa durian yang "sangat manis, seperti dilapisi gula", dalam unggahan yang disukai lebih dari 17.000 pengguna. Fenomena ini terutama menarik minat generasi muda China, yang kemudian mendorong impor durian secara masif.
Namun, di balik euforia ini, ada catatan penting. Pemerintah China kini berupaya mengembangkan produksi durian domestik di Pulau Hainan, dengan lahan lebih dari 3.000 hektare. Meski demikian, para ahli menilai durian Hainan tidak akan mampu menggantikan pasokan dari Asia Tenggara. "Durian Hainan kami akan selalu menjadi pelengkap bagi durian Asia Tenggara," kata Feng Xuejie, pakar durian dari Akademi Ilmu Pertanian Hainan. "Ini bahkan bukan sebuah kompetisi."
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga sekaligus tantangan. Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar sebagai produsen durian, dengan berbagai varietas unggulan seperti durian Musang King yang juga ditanam di Vietnam. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang tepat—seperti perjanjian dagang dan pengembangan infrastruktur ekspor—Indonesia berisiko tertinggal dalam perlombaan memenuhi dahsyatnya permintaan China. Apakah Indonesia akan mampu memanfaatkan momentum ini, atau justru menjadi penonton di tengah ledakan ekonomi durian Asia Tenggara? Hanya waktu yang bisa menjawab.



