AS Serang Dua Peluncur Iran di Pulau Larak, Eskalasi Baru di Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Serangan AS menargetkan dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak, yang menurut pejabat AS sedang bersiap menanam ranjau laut di Selat Hormuz.
- Ini adalah serangan AS pertama ke Iran sejak akhir Juli, menandai berakhirnya jeda singkat di tengah kebuntuan perang yang telah berlangsung enam bulan.
- Insiden ini berpotensi memicu balasan Iran dan mengganggu jalur minyak dunia, dengan implikasi langsung bagi harga energi dan stabilitas kawasan, termasuk Indonesia.

Washington kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan. Pada Minggu (30/8), pasukan Amerika menghantam dua unit peluncur rudal yang berada di Pulau Larak, sebuah pulau strategis di Teluk Persia. Serangan ini dilakukan setelah pihak intelijen AS mengamati aktivitas mencurigakan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang diduga hendak memasang ranjau laut di Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital bagi pasokan minyak dunia.
Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya membenarkan operasi tersebut. "Saya dapat mengonfirmasi bahwa hari ini pasukan AS menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak. Pasukan IRGC terlihat sedang bersiap meluncurkan roket berisi ranjau laut ke Selat Hormuz," ujarnya. Sementara itu, media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa serangan dilakukan dengan pesawat nirawak. Garda Revolusi Iran sendiri menyatakan bahwa serangan itu menewaskan dan melukai sejumlah tentara serta warga sipil, dan mengancam akan membalas dengan "respons dan hukuman" dari Teheran.
Serangan ini menjadi yang pertama sejak akhir Juli, ketika perang antara Iran melawan koalisi AS-Israel memasuki fase kebuntuan. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington memang mengintensifkan tekanan dengan mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi yang berat kepada negara-negara yang dinilai mendukung Iran. Ancaman tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump, yang pekan lalu juga mengklaim bahwa seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah berhasil dibersihkan. Trump menegaskan bahwa setiap kapal atau perahu yang mencoba memasang ranjau baru akan dihancurkan.
Konflik ini bermula pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Iran merespons dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS. Kini, perang telah melewati enam bulan dan menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Ribuan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi akibat serangan gabungan AS-Israel di Iran serta serangan Israel di Lebanon. Sebanyak 18 personel militer AS dilaporkan tewas dalam konflik ini.
Blokade Selat Hormuz akibat perang ini telah menghentikan lalu lintas minyak yang sebelumnya mencapai sekitar seperlima produksi dunia. Dampaknya langsung terasa di pasar energi global, termasuk Indonesia yang masih mengimpor minyak mentah dan produk olahan. Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di kawasan ini berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan inflasi domestik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati eskalasi ini karena stabilitas pasokan dan harga minyak sangat memengaruhi perekonomian nasional.
Para analis menilai bahwa serangan ini merupakan sinyal bahwa AS tidak akan mentoleransi gangguan terhadap jalur pelayaran internasional. Namun, langkah tersebut juga berisiko memicu eskalasi lebih lanjut dari Iran, yang mungkin membalas dengan serangan terhadap aset AS di kawasan atau memperluas konflik ke negara-negara Teluk. Pertanyaannya, apakah Teheran akan memilih untuk merespons secara langsung atau justru menahan diri untuk menghindari perang terbuka yang lebih luas? Yang jelas, ketegangan di Selat Hormuz masih akan menjadi pusat perhatian dunia dalam beberapa pekan ke depan.



