Wali Kota Mississippi Tolak Instruksi Trump Kibarkan Bendera Setengah Tiang untuk Dolly Parton: Kehormatan Itu Bukan untuk Artis
Baca dalam 60 detik
- Wali Kota Olive Branch, Ken Adams, secara terbuka menolak perintah Presiden Trump untuk menurunkan bendera AS selama seminggu sebagai penghormatan kepada Dolly Parton, dengan alasan kehormatan tersebut seharusnya dikhususkan untuk pahlawan militer dan pejabat negara.
- Kritik Adams memicu perdebatan nasional tentang kriteria penghormatan bendera setengah tiang, terutama setelah kematian figur publik seperti Parton yang dikenal luas karena filantropinya.
- Kontroversi ini menyoroti ketegangan antara keputusan federal dan otonomi lokal, serta memunculkan pertanyaan tentang bagaimana Amerika menyeimbangkan penghormatan terhadap tokoh budaya dengan makna sakral simbol negara.

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengibarkan bendera nasional setengah tiang selama sepekan sebagai penghormatan terakhir bagi legenda musik country, Dolly Parton, menuai kritik tajam dari Wali Kota Olive Branch, Mississippi, Ken Adams. Adams menilai penghormatan tersebut seharusnya hanya diberikan untuk peristiwa yang benar-benar luar biasa, bukan untuk setiap tokoh terkenal yang meninggal dunia.
Parton, yang dikenal luas lewat lagu-lagu seperti "Jolene" dan "9 to 5", meninggal dunia pada Selasa (25/08) dalam usia 80 tahun setelah berjuang melawan kanker. Hanya beberapa jam setelah kabar duka tersebut diumumkan oleh keponakannya, Bryan Seaver, Trump langsung mengeluarkan perintah melalui platform Truth Social untuk menurunkan bendera di seluruh negeri. Dalam pernyataannya, Trump menyebut Parton sebagai salah satu penyanyi country terhebat sepanjang masa dan menegaskan bahwa tidak akan pernah ada sosok seperti dirinya.
Namun, Adams, yang juga seorang veteran, tidak sependapat. Dalam unggahan Facebook pada Jumat (28/08), ia menegaskan bahwa dirinya memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap Parton dan kontribusinya bagi masyarakat. Meski demikian, ia meyakini bahwa menurunkan bendera setengah tiang adalah simbol kehormatan tertinggi yang seharusnya dikhususkan untuk pahlawan militer, petugas pemadam kebakaran yang gugur, presiden, atau pemimpin nasional lainnya. "Jika kita menurunkan bendera setiap kali ada orang terkenal yang meninggal, saya khawatir makna dari gestur tersebut akan semakin pudar," tulis Adams.
Kritik Adams tidak berhenti pada soal kriteria penghormatan. Ia juga mempersoalkan kewenangan pemerintah federal dalam memaksakan keputusan tersebut kepada daerah. Menurutnya, kota-kota di Mississippi memiliki hak untuk menjalankan pemerintahan sendiri (home rule), sehingga wali kota seharusnya memiliki kebijakan untuk menentukan kebijakan di wilayahnya masing-masing. "Saya tidak percaya warga memilih saya untuk sekadar menjadi wali kota yang patuh tanpa berpikir. Mereka memilih saya untuk memimpin dengan keyakinan," tegasnya.
Pernyataan Adams langsung memicu perdebatan sengit di kolom komentar. Sebagian besar warganet, termasuk para veteran, mendukung keputusan Adams. Mereka berpendapat bahwa jika bendera diturunkan untuk semua musisi atau aktor, maka simbol tersebut akan kehilangan maknanya. Namun, tidak sedikit pula yang membela Parton. Seorang pengguna yang mengaku veteran dan petugas pertolongan pertama menyatakan 100 persen setuju dengan penurunan bendera untuk Parton, mengingat kontribusinya yang besar bagi militer dan berbagai organisasi sosial. Yang lain menyoroti dedikasi Parton dalam meningkatkan literasi anak-anak melalui program donasi bukunya.
Kontroversi ini menyoroti dilema yang lebih luas tentang bagaimana sebuah negara menghormati tokoh budaya yang telah memberikan dampak besar bagi masyarakat. Di satu sisi, Parton adalah ikon yang tidak hanya menghibur jutaan orang, tetapi juga aktif dalam kegiatan amal, termasuk mendanai penelitian COVID-19 dan program literasi anak. Di sisi lain, simbol bendera setengah tiang memiliki makna sakral yang selama ini dikaitkan dengan pengorbanan dan pelayanan publik.
Di Indonesia, perdebatan serupa mungkin relevan mengingat pemerintah kerap menetapkan hari berkabung atau penghormatan tertentu bagi tokoh nasional. Namun, kriteria yang digunakan sering kali menjadi perdebatan publik, terutama ketika menyangkut figur kontroversial atau mereka yang dianggap belum cukup berjasa. Hal ini menunjukkan bahwa setiap negara memiliki tantangan tersendiri dalam menyeimbangkan antara penghormatan terhadap individu dan makna simbol-simbol kenegaraan.
Ke depan, keputusan Trump ini berpotensi menjadi preseden yang memicu pertanyaan lebih besar: apakah pemerintah federal seharusnya berkonsultasi dengan pemerintah daerah sebelum mengeluarkan kebijakan simbolis seperti ini? Atau justru sebaliknya, apakah otonomi daerah seharusnya dibatasi dalam hal-hal yang menyangkut simbol nasional? Perdebatan ini tampaknya belum akan selesai dalam waktu dekat, dan akan menjadi bahan diskusi yang menarik bagi para pengamat kebijakan publik dan masyarakat luas.



