Gangguan Radio di Stamford Bridge: Wasit Premier League Bertahan dengan Cara Konvensional
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, perangkat komunikasi wasit gagal total di laga Chelsea vs Brighton.
- VAR terpaksa bekerja dengan sistem cadangan, mengandalkan pesan ke jam tangan wasit dan komunikasi dengan ofisial keempat.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang ketergantungan Premier League pada teknologi dan kesiapan menghadapi kegagalan sistem.

Laga Premier League antara Chelsea dan Brighton di Stamford Bridge, Minggu (28/9/2025), menyajikan kejadian langka: untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir, perangkat komunikasi wasit gagal total. Wasit utama Michael Oliver dan timnya harus menyelesaikan babak kedua tanpa radio, memaksa mereka bekerja dengan cara yang sudah lama ditinggalkan.
Menurut laporan BBC Sport, masalah bermula dari gangguan pada sistem penyaring suara kerumunan penonton. Alih-alih meredam teriakan dan nyanyian suporter, perangkat tersebut justru membuat suara bising masuk ke telinga wasit, sehingga komunikasi antarofficial menjadi tidak jelas. Setelah upaya perbaikan dianggap sia-sia, diputuskan untuk melepas seluruh perangkat komunikasi—sebuah keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya di era Premier League modern.
Kegagalan ini berdampak langsung pada mekanisme VAR. Asisten wasit video, Andrew Kitchen, yang berada di Stockley Park, kehilangan saluran langsung dengan Oliver. Padahal, komunikasi dua arah antara wasit dan VAR merupakan pilar utama protokol peninjauan keputusan. Tanpa itu, Kitchen harus mengandalkan penilaian visualnya sendiri dan berkomunikasi melalui pesan ke jam tangan wasit serta radio dengan ofisial keempat, Tom Bramall.
Meski demikian, pertandingan tetap berjalan lancar tanpa kontroversi besar. Oliver dan asistennya, Stuart Burt dan James Mainwaring, tampak beradaptasi dengan baik, bahkan mungkin menikmati 'kemerdekaan' dari beban teknologi. Di tengah tuntutan membawa perlengkapan yang semakin banyak—seperti semprotan busa dan kamera RefCam—momen ini menjadi semacam uji ketahanan bagi para pengadil lapangan.
Insiden ini menyoroti ketergantungan Premier League pada teknologi, sekaligus mengingatkan bahwa sistem cadangan tetap diperlukan. Di Indonesia, di mana teknologi VAR baru diperkenalkan secara bertahap di Liga 1, kejadian ini menjadi pelajaran berharga. PSSI dan operator liga perlu memastikan tidak hanya ketersediaan perangkat, tetapi juga protokol darurat yang matang jika terjadi kegagalan teknis. Apakah infrastruktur VAR di Indonesia sudah siap menghadapi skenario serupa? Ini pertanyaan yang layak dijawab sebelum teknologi tersebut diimplementasikan penuh.
Ke depan, Premier League mungkin perlu mengevaluasi desain sistem komunikasi mereka, termasuk kemungkinan redundansi saluran. Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa wasit tetap mampu memimpin pertandingan dengan adil, dengan atau tanpa bantuan teknologi. Jika insiden ini menjadi preseden, mungkin kita akan melihat lebih banyak pertandingan yang mengandalkan keahlian tradisional wasit—sebuah ironi di tengah gempuran digitalisasi sepak bola.



