Nepal Simpan DNA Korban Bencana Himalaya Sebelum Dimakamkan Massal
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Nepal akan mengawetkan sampel DNA dan data identitas lain dari korban yang belum teridentifikasi sebelum jenazah dimakamkan, menyusul bencana glasial yang menewaskan lebih dari 680 orang.
- Dengan hampir 3.000 orang masih hilang, langkah ini menjadi krusial untuk memfasilitasi proses identifikasi di kemudian hari, terutama bagi warga asing yang jumlahnya mencapai 540 orang.
- Keputusan ini berpotensi menjadi preseden bagi negara-negara rawan bencana, termasuk Indonesia, dalam menangani identifikasi korban massal secara terpadu dan berkelanjutan.

Pemerintah Nepal memastikan akan mengawetkan sampel DNA dan informasi identitas lainnya dari para korban tewas yang belum teridentifikasi sebelum jenazah mereka dimakamkan secara massal. Langkah ini diumumkan Perdana Menteri Balendra Shah pada Sabtu (29/8) di tengah melonjaknya jumlah korban jiwa akibat bencana dahsyat di kawasan Himalaya yang telah menewaskan lebih dari 680 orang.
Bencana yang dipicu oleh runtuhnya gletser ini memicu gelombang air dan puing-puing raksasa seperti tsunami yang menyapu bersih sejumlah desa di wilayah perbatasan Nepal-Tibet. Hingga kini, hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang, dengan rincian sekitar 2.426 orang di Nepal dan 546 orang di Kabupaten Gyirong, Tibet. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 540 orang merupakan warga negara asing, menjadikan proses identifikasi korban sebagai tantangan besar bagi otoritas setempat.
Kondisi jenazah yang mulai membusuk dan sulit dikenali memaksa pemerintah untuk segera mengambil langkah pemakaman demi mencegah risiko kesehatan dan potensi wabah penyakit. Namun, sebelum prosesi pemakaman dilakukan sesuai prosedur hukum, pemerintah akan terlebih dahulu mengambil sampel DNA dan menyimpan data penting lainnya. Hal ini disampaikan Shah melalui unggahan di media sosial mengenai perkembangan operasi penyelamatan dan bantuan.
โJenazah yang belum teridentifikasi akan ditangani sesuai pedoman pemerintah untuk jenazah tak dikenal, tetapi sampel DNA dan informasi lain yang dapat membantu identifikasi akan disimpan terlebih dahulu,โ ujar Shah. Sementara itu, jenazah yang sudah dikenali oleh keluarga akan segera diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak.
Bencana ini menjadi sorotan internasional karena dampaknya yang melintasi batas negara dan melibatkan banyak warga asing. Bagi Indonesia, kejadian ini memberikan pelajaran penting tentang manajemen bencana dan identifikasi korban massal. Negara kepulauan dengan risiko bencana alam tinggi seperti Indonesia perlu memiliki protokol serupa, terutama dalam menghadapi potensi gempa bumi, tsunami, atau erupsi gunung berapi yang dapat menyebabkan banyak korban jiwa.
Para ahli menilai langkah Nepal dalam mengawetkan DNA sebelum pemakaman massal merupakan praktik terbaik yang patut dicontoh. โIni adalah langkah maju dalam penanganan bencana, karena identifikasi DNA dapat menjadi satu-satunya cara untuk mengembalikan identitas korban kepada keluarga, terutama dalam situasi di mana jenazah sudah tidak dapat dikenali secara visual,โ kata seorang analis kebencanaan yang dihubungi LyndHub.
Ke depan, pemerintah Nepal masih dihadapkan pada tantangan besar dalam proses pencarian dan identifikasi ribuan orang yang hilang. Pertanyaannya, apakah upaya ini akan cukup untuk memberikan kepastian bagi keluarga korban, terutama mereka yang berasal dari luar negeri? Proses identifikasi DNA yang memakan waktu lama dan membutuhkan koordinasi internasional akan menjadi ujian bagi kapasitas Nepal dalam menangani krisis kemanusiaan ini.



