Pidcock Juara Dunia MTB, Persembahkan Gelar untuk Fin Tarling yang Wafat
Baca dalam 60 detik
- Tom Pidcock merebut gelar juara dunia MTB keduanya di Val di Sole, Italia, dengan waktu 1 jam 25 menit 26 detik.
- Kemenangan ini didedikasikan untuk Fin Tarling, pebalap muda Inggris yang meninggal dunia usai kecelakaan di Volta a Portugal.
- Pidcock mengungguli rekan setimnya, Charlie Aldridge, dengan selisih 17 detik setelah akselerasi di lap ketujuh.

Tom Pidcock, pebalap sepeda gunung asal Inggris, berhasil mempertahankan tahta juara dunia nomor cross-country setelah finis terdepan di Kejuaraan Dunia MTB di Val di Sole, Italia, akhir pekan lalu. Kemenangan ini terasa istimewa karena dipersembahkan untuk mendiang Fin Tarling, pebalap muda Inggris yang meninggal dunia pada awal bulan ini.
Pidcock, yang juga peraih dua medali emas Olimpiade, menyelesaikan balapan delapan lap dengan catatan waktu 1 jam 25 menit 26 detik. Ia unggul 17 detik atas rekan setimnya, Charlie Aldridge, yang finis kedua. Posisi ketiga ditempati Cole Punchard dari Kanada. Ini merupakan gelar dunia kedua bagi Pidcock setelah sebelumnya menjuarai edisi 2023 di Skotlandia.
Kemenangan ini menjadi sangat emosional karena hanya beberapa pekan setelah Fin Tarling, 19 tahun, wafat akibat kecelakaan dalam ajang Volta a Portugal. Pidcock mengaku ingin mempersembahkan gelar ini untuk Tarling dan keluarganya. "Saya ingin mempersembahkan kemenangan ini untuk Fin dan Josh. Melihat Josh memulai Vuelta adalah momen yang luar biasa," ujarnya usai balapan.
Perjalanan Pidcock menuju podium tertinggi tidaklah mudah. Ia sempat mengalami kecelakaan saat latihan pada Jumat lalu dan merasakan sakit di punggungnya sejak lap pertama. "Dua lap terakhir saya harus memaksa dan melebarkan jarak sebelum sprint akhir. Ini balapan yang sangat berat," tambah pebalap 27 tahun itu. Meski demikian, ia mampu tampil dominan dan melepaskan diri dari Aldridge pada lap ketujuh dari delapan lap yang ditempuh.
Kemenangan ini juga menjadi pembuktian bagi Pidcock yang sempat tampil kurang meyakinkan di Tour de France tahun ini dengan finis di posisi kesembilan. Ia bahkan baru memutuskan untuk ikut serta di kejuaraan dunia ini pada menit-menit terakhir. Keputusan itu terbukti tepat, dan ia berhasil menunjukkan kelasnya sebagai salah satu pebalap MTB terbaik dunia.
Di kategori putri, pebalap Swiss Sina Frei keluar sebagai juara, sementara wakil Inggris Evie Richards harus puas menempati posisi keenam. Hasil ini menegaskan dominasi Eropa dalam ajang bergengsi tersebut.
Bagi Indonesia, prestasi Pidcock ini bisa menjadi inspirasi bagi para atlet sepeda gunung tanah air yang tengah bersiap menghadapi berbagai kompetisi internasional. Federasi Olahraga Sepeda Indonesia (ISSI) terus mendorong pembinaan atlet muda agar mampu bersaing di level dunia. Meski jarak masih jauh, konsistensi dan mental juara seperti yang ditunjukkan Pidcock adalah modal penting yang perlu ditanamkan sejak dini.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Pidcock mampu mempertahankan dominasinya hingga Olimpiade Los Angeles 2028, atau akankah muncul generasi baru yang mampu menantangnya? Yang jelas, dedikasinya kepada mendiang Fin Tarling menunjukkan bahwa di balik setiap kemenangan, ada cerita kemanusiaan yang menyentuh.



