Rekor Baru di Sydney Marathon: Gobena dan Jepchirchir Ukir Sejarah, Apa Artinya bagi Pelari Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Pelari Ethiopia Addisu Gobena memecahkan rekor lintasan Sydney Marathon dengan catatan 2:04:42, menggeser rekor sebelumnya milik rekannya.
- Peres Jepchirchir dari Kenya mendominasi nomor putri dengan waktu 2:18:31, mencatatkan kemenangan mayor keempatnya dan hampir memecahkan rekor Sifan Hassan.
- Prestasi ini menegaskan dominasi pelari Afrika di maraton dunia, sekaligus menjadi tolok ukur bagi perkembangan atletik Indonesia di kancah internasional.

Pelari Ethiopia, Addisu Gobena, mencatatkan namanya dalam buku sejarah Sydney Marathon dengan memecahkan rekor lintasan pada Minggu (30/8). Ia finis di depan Opera House dalam waktu 2 jam 4 menit 42 detik, mengungguli rekor sebelumnya yang dipegang rekannya, Hailemaryam Kiros, dengan selisih lebih dari satu menit. Sementara itu, di nomor putri, Peres Jepchirchir dari Kenya tampil dominan dan hampir menyamai rekor Sifan Hassan.
Gobena, yang tahun lalu harus puas di posisi kedua, tampil agresif sejak awal. Ia melepas diri dari rombongan lima pelari terdepan di kilometer-km terakhir dan mencatat waktu tercepat yang pernah ada di Australia. "Saya sangat bahagia. Tahun lalu saya finis kedua, saya belajar dari kesalahan itu, dan saya bekerja keras di rumah untuk memperbaikinya. Hari ini saya memecahkan rekor," ujarnya usai lomba. Prestasi ini sekaligus menegaskan dominasi Ethiopia di nomor maraton putra, dengan dua pelarinya menguasai podium utama.
Di sisi lain, Jepchirchir, yang merupakan juara Olimpiade Tokyo 2021, tampil tanpa lawan. Ia finis dengan keunggulan lebih dari tiga menit atas rekan senegaranya, Irine Cheptai, yang menempati posisi kedua. Waktu 2:18:31 yang dicatatkannya hanya terpaut sembilan detik dari rekor lintasan milik Sifan Hassan. Kemenangan ini menjadi yang keempat bagi Jepchirchir di ajang maraton mayor, menegaskan statusnya sebagai salah satu pelari maraton putri terbaik dunia.
Bagi Indonesia, prestasi ini bukan sekadar kabar olahraga internasional. Maraton semakin populer di dalam negeri, dengan semakin banyaknya event lari yang digelar, mulai dari skala kota hingga internasional. Namun, jarak antara prestasi pelari dunia dengan pelari Indonesia masih sangat jauh. Catatan waktu Gobena dan Jepchirchir menjadi tolok ukur betapa kompetitifnya level maraton global. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa untuk bisa bersaing di level tersebut, diperlukan pembinaan atlet yang serius, fasilitas latihan yang memadai, dan dukungan finansial yang berkelanjutan.
Lebih jauh, kemenangan Gobena dan Jepchirchir juga menyoroti tren dalam dunia lari jarak jauh. Para pelari Afrika, khususnya dari Ethiopia dan Kenya, terus mendominasi sejak era 1990-an. Hal ini tidak lepas dari faktor genetik, latihan di dataran tinggi, dan budaya lari yang kuat di negara-negara tersebut. Namun, beberapa negara lain mulai menunjukkan peningkatan, seperti Jepang dan Tiongkok yang berinvestasi besar dalam program lari. Indonesia sendiri masih berkutat pada pengembangan atlet-atlet muda, namun belum ada yang mampu menembus level elite dunia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah Indonesia mampu mengejar ketertinggalan ini? Dengan semakin banyaknya pelari Indonesia yang mengikuti maraton internasional, seperti di Singapura, Berlin, atau Boston, diharapkan pengalaman tersebut dapat memacu peningkatan kualitas. Namun, tanpa dukungan serius dari pemerintah dan swasta, sulit membayangkan ada pelari Indonesia yang bisa bersaing dengan nama-nama seperti Gobena atau Jepchirchir dalam waktu dekat. Mungkin sudah saatnya Indonesia memiliki program pembinaan atlet lari yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar mengirimkan peserta ke ajang internasional.



