Bencana Himalaya: Korban Tewas Mendekati 800, Ribuan Masih Hilang di Nepal dan Tibet
Baca dalam 60 detik
- Longsor dan banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Himalaya menewaskan hampir 800 orang, dengan lebih dari 3.000 lainnya belum ditemukan.
- Upaya pencarian terkendala cuaca buruk dan risiko banjir susulan dari danau yang terbentuk, sementara Nepal kesulitan mengidentifikasi korban yang membusuk.
- China mengaitkan bencana ini dengan perubahan iklim dan telah mengerahkan ribuan personel serta dana besar, namun tantangan medan ekstrem masih membayangi operasi penyelamatan.

Hampir 800 orang tewas dan lebih dari 3.000 lainnya masih hilang setelah gletser runtuh memicu longsor dan banjir bandang dahsyat di kawasan Himalaya, menjadikan bencana ini salah satu yang terparah dalam sejarah lintas batas Nepal-China. Tim penyelamat dari kedua negara masih berjuang melawan waktu dan cuaca buruk pada hari kelima operasi, Minggu (30/8), sementara air sungai yang naik kembali memaksa warga dan petugas mengungsi ke tempat lebih tinggi.
Otoritas Nepal melaporkan jumlah korban tewas mencapai 781 jiwa, dengan 2.502 orang belum ditemukan. Sementara itu, media pemerintah China mengonfirmasi 16 tewas di Tibet dan 546 orang hilang, sehingga total korban mencapai 797 tewas dan 3.048 belum ditemukan. Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terkena dampak langsung bencana yang dipicu oleh ketidakstabilan gletser akibat pemanasan global ini.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam sambungan telepon dengan mitranya dari Nepal, menyebut musibah ini sebagai "bencana lintas batas terparah" dalam beberapa tahun terakhir. Ia menekankan tingkat kesulitan dan kompleksitas operasi penyelamatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beijing juga melaporkan 261 warga asing dari 23 negara belum ditemukan di Tibet, dekat perbatasan utama dengan Nepal.
Di sisi Nepal, fokus penyelamatan kini tertuju pada ratusan orang yang diduga terjebak di terowongan pembangkit listrik tenaga air yang rusak. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, mengungkapkan negaranya membutuhkan bantuan internasional untuk operasi penyelamatan terowongan, tes DNA, pendinginan jenazah, dan identifikasi forensik. Para ahli dari India dan China telah dikerahkan untuk membantu membuka akses ke lokasi yang terkubur.
Di tengah keputusasaan keluarga yang mencari kerabat, otoritas Nepal mulai melakukan pemakaman massal terhadap ratusan jenazah yang tak teridentifikasi karena sudah membusuk. Polisi Anil Thapa menggambarkan kondisi mengenaskan: "Lebih dari separuh jenazah yang kami temukan tidak bisa dikenali. Banyak yang wajahnya hilang, hanya tersisa tangan atau kaki, bahkan sebagian tubuh saja." Pihak berwenang memotret, mengambil sampel DNA, dan mencatat ciri-ciri fisik sebelum pemakaman, dengan harapan keluarga masih bisa mengidentifikasi kerabat mereka kelak.
Bencana ini bermula dari runtuhnya gletser yang memicu aliran lumpur dahsyat. Rekaman kamera pengawas yang tersebar luas menunjukkan derasnya air dan puing yang menelan bangunan dalam hitungan menit. Para ilmuwan China menyebut aliran lumpur mencapai pos perbatasan Gyirong hanya dalam enam hingga tujuh menit dari sisi Nepal. CCTV, stasiun televisi pemerintah China, melaporkan bahwa banjir ini disebabkan oleh "ketidakstabilan gletser akibat efek jangka panjang pemanasan global," sebuah fenomena yang disebut sebagai "ciri baru yang menonjol dari bencana kriosfer" di Dataran Tinggi Tibet.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap dampak perubahan iklim, seperti naiknya permukaan air laut dan cuaca ekstrem. Meski tidak berada di kawasan rawan gletser, Indonesia menghadapi ancaman hidrometeorologi yang serupa, seperti banjir bandang dan tanah longsor di daerah pegunungan. Pengalaman Nepal dalam menangani bencana lintas batas juga relevan bagi Indonesia yang berbagi pulau dengan negara tetangga, misalnya di Kalimantan dan Papua, sehingga kerja sama regional dalam penanggulangan bencana menjadi krusial.
Operasi penyelamatan masih terus berlanjut, namun tantangan besar membentang. Danau yang terbentuk akibat bencana di perbatasan sempat mengancam banjir susulan, meski sebagian besar airnya sudah dikeringkan. Namun, longsor baru yang terdeteksi drone pada Sabtu malam membendung aliran sungai dan membentuk genangan baru. Cuaca buruk dan medan terjal membuat evakuasi korban berjalan lambat. Pertanyaannya, akankah upaya internasional yang terkoordinasi mampu mencegah bertambahnya korban jiwa, atau justru bencana susulan akan kembali menghantam kawasan yang sudah porak-poranda ini?



