Kebakaran Lahan 3 Hektare di Seletar Link Padam, SCDF Kerahkan Mesin Pemadam Tanpa Awak
Baca dalam 60 detik
- Petugas pemadam Singapura berhasil menjinakkan api yang menghanguskan area seluas tiga hektare di dekat Seletar Link pada Sabtu (29/8).
- Insiden ini menyoroti kesiapsiagaan negara kota dalam menghadapi kebakaran vegetasi, dengan penggunaan teknologi pemadam jarak jauh.
- Penyebab kebakaran masih diselidiki, sementara tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) mengumumkan bahwa kebakaran yang melanda kawasan vegetasi seluas sekitar tiga hektare di dekat Seletar Link telah berhasil dipadamkan pada Sabtu (29/8). Tidak ada laporan korban jiwa, namun penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Menurut keterangan SCDF, pihaknya menerima laporan kebakaran di persimpangan Seletar Link dan Seletar South Link sekitar pukul 11.05 waktu setempat. Area yang terbakar diperkirakan mencapai ukuran 150 meter kali 200 meter, atau setara dengan empat lapangan sepak bola. Untuk menjinakkan api, petugas mengerahkan dua pancaran air serta satu unit mesin pemadam tanpa awak yang dioperasikan dari jarak aman.
Seorang warga Punggol, Shawn Cheong, mengaku menjadi saksi awal kejadian. Saat melintas di lokasi sekitar pukul 11.20, ia melihat kepulan asap dan api yang cukup besar. Cheong segera melaporkan kejadian tersebut kepada otoritas. Ketika kembali melintas sekitar pukul 15.30, ia masih melihat sejumlah kendaraan pemadam dan polisi berjaga di tempat kejadian. โSaya sempat mengira pemadaman sudah selesai, ternyata masih berlangsung,โ ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia terkejut karena api ternyata lebih besar dari perkiraannya.
Kebakaran vegetasi seperti ini bukanlah hal baru di Singapura, terutama saat musim kemarau. Namun, penggunaan mesin pemadam tanpa awak menunjukkan langkah maju dalam teknologi penanggulangan kebakaran. Alat ini memungkinkan petugas menjangkau area yang sulit atau berbahaya tanpa membahayakan keselamatan personel. SCDF sendiri belum merinci waktu pasti pemadaman, tetapi memastikan situasi telah terkendali.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kebakaran lahan, yang kerap terjadi di berbagai daerah. Meski skala kebakaran di Singapura relatif kecil dibandingkan dengan karhutla di Sumatra dan Kalimantan, respons cepat dan teknologi yang digunakan dapat menjadi referensi. Penggunaan drone atau robot pemadam bisa diadopsi untuk meminimalkan risiko bagi petugas di lapangan.
SCDF menyatakan bahwa penyebab kebakaran masih diselidiki. Dugaan sementara mengarah pada faktor cuaca kering atau kelalaian manusia, namun belum ada kesimpulan resmi. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, terutama di area yang rawan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah kejadian serupa akan meningkat seiring dengan perubahan iklim yang membuat cuaca semakin ekstrem. Singapura, yang selama ini dikenal dengan pengelolaan lingkungan yang ketat, mungkin perlu memperketat patroli dan edukasi publik untuk mencegah terulangnya insiden serupa.



