Sampurna Selamat: Petani Temukan Orangutan Lemas di Lahan Sawit, Tim Penyelamat Berlomba Melawan Asap
Baca dalam 60 detik
- Seekor orangutan bernama Sampurna ditemukan dalam kondisi kritis di Kalimantan Barat akibat kabut asap kebakaran hutan, lalu dievakuasi tim medis untuk perawatan intensif.
- Lembaga konservasi mencatat tujuh orangutan telah diselamatkan dari kebakaran tahun ini, menyoroti ancaman serius terhadap satwa liar di tengah krisis karhutla.
- Para ahli mendesak pemerintah tidak hanya memadamkan api, tetapi juga menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang bagi kesehatan publik, hutan, dan keanekaragaman hayati.

Seekor orangutan jantan berusia sekitar 20 tahun ditemukan dalam kondisi sekarat di sebuah perkebunan kelapa sawit di Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8) pagi. Primata yang kemudian diberi nama Sampurna itu menjadi korban lain dari kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah Borneo, memicu kekhawatiran akan masa depan satwa liar di tengah krisis kebakaran hutan yang meluas.
Petani setempat, Jais, yang pertama kali melihat Sampurna sedang meronta lemah di tanah, segera memberikan air minum sebelum menghubungi pihak berwenang. Sekitar dua jam kemudian, tim dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) tiba bersama dokter hewan. Saat itu, Sampurna sudah pingsan. Menurut CEO YIARI, Karmele Llano Sanchez, hewan tersebut mengalami hipoksia—kekurangan oksigen—akibat menghirup asap tebal dalam waktu lama. "Orangutan itu kekurangan oksigen karena asap yang sangat pekat di area tersebut," ujarnya kepada Reuters.
Pemeriksaan awal oleh dokter hewan bernama Komara menunjukkan Sampurna tidak mengalami luka bakar serius, tetapi menderita gangguan pernapasan akut dan sempat muntah. Tim medis memberikan oksigen melalui selang kecil di hidung serta cairan infus yang digantung pada pelepah kelapa sawit. Sampurna rencananya akan dipindahkan ke pusat rehabilitasi untuk perawatan lebih lanjut sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
Peristiwa ini terjadi di tengah upaya pemerintah Indonesia memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang melanda enam provinsi di Kalimantan dan Sumatra. Dampaknya tidak hanya dirasakan satwa liar, tetapi juga manusia. Ribuan sekolah terpaksa menutup kelas tatap muka dan beralih ke pembelajaran online karena kualitas udara yang memburuk, termasuk di negara tetangga Malaysia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan luas lahan terbakar meningkat signifikan, dari 107.465 hektare pada Januari–Juni menjadi 202.010 hektare pada Januari–Juli.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa krisis karhutla bukan sekadar bencana musiman, melainkan ancaman sistemik terhadap keanekaragaman hayati. Orangutan, yang merupakan spesies dilindungi dan hanya ditemukan di Sumatra dan Kalimantan, semakin terdesak oleh hilangnya habitat dan kebakaran yang kerap dipicu pembukaan lahan untuk perkebunan. Langkah penyelamatan Sampurna menunjukkan pentingnya respons cepat, tetapi para pegiat konservasi menilai pemerintah perlu berinvestasi pada pencegahan jangka panjang, seperti pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan.
Karmele Llano Sanchez menggarisbawahi bahwa pemadaman api saja tidak cukup. Pemerintah harus menyiapkan diri menghadapi dampak berkepanjangan pada kesehatan masyarakat, hutan, dan satwa liar. "Kita tidak bisa hanya fokus pada memadamkan api; kita harus memikirkan efek jangka panjangnya," tegasnya. Pernyataan ini relevan mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung beberapa bulan ke depan, dan potensi kebakaran baru tetap tinggi.
"Kita tidak bisa hanya fokus pada memadamkan api; kita harus memikirkan efek jangka panjangnya." — Karmele Llano Sanchez, CEO YIARI
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah Indonesia mampu memutus siklus tahunan kabut asap yang merugikan kesehatan, ekonomi, dan ekosistem. Dengan perubahan iklim yang memperpanjang musim kemarau, tekanan terhadap hutan dan satwa liar akan semakin besar. Keselamatan Sampurna mungkin menjadi kisah sukses kecil, tetapi tanpa perubahan kebijakan yang mendasar, kisah-kisah serupa akan terus berulang—dan tidak semua berakhir bahagia.



