Gelombang Baru Covid-19 di Korsel Picu Lonjakan Penjualan Masker dan Tes Mandiri
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan kasus Covid-19 di Korea Selatan mendorong kembali kebiasaan belanja produk kesehatan, dengan penjualan alat tes mandiri dan masker meningkat tajam di jaringan minimarket.
- Data resmi menunjukkan tingkat deteksi virus naik hampir tiga kali lipat dalam tiga pekan, seiring peningkatan pasien di rumah sakit umum.
- Fenomena serupa mulai terlihat di China, mengindikasikan potensi gelombang baru di kawasan Asia yang perlu diantisipasi Indonesia.

Lonjakan kasus Covid-19 di Korea Selatan memicu kembalinya kebiasaan belanja ala masa pandemi. Masyarakat kembali memborong masker dan alat tes mandiri, tercermin dari kenaikan penjualan yang signifikan di jaringan minimarket utama seperti 7-Eleven, GS25, dan CU sepanjang Agustus 2026.
Fenomena ini bukan sekadar anekdot. Data penjualan menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang cepat. Di 7-Eleven, penjualan alat tes mandiri melonjak 62 persen pada periode 1โ26 Agustus dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, masker, obat flu, dan pereda demam masing-masing naik 17 persen, 15 persen, dan 14 persen. GS25 mencatat kenaikan 30,3 persen untuk alat tes dan 10,3 persen untuk obat flu. Yang menonjol, permintaan masker anak-anak dan bayi melonjak hingga 341 persen, menandakan kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan buah hati.
Lonjakan ini sejalan dengan data resmi dari Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA). Tingkat deteksi Covid-19 mencapai 9,1 persen pada pekan 9โ15 Agustus, hampir tiga kali lipat dibandingkan tiga pekan sebelumnya yang hanya 3,2 persen. Jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit umum juga meningkat 2,4 kali lipat. Angka-angka ini mengonfirmasi bahwa virus masih menjadi ancaman nyata, meski banyak negara telah melonggarkan protokol kesehatan.
Di balik angka penjualan, ada kisah nyata dari lapangan. Hwang Ji-mi, guru di sebuah pusat penitipan anak di Dongjak-gu, Seoul, mengungkapkan bahwa sejak pertengahan Agustus, pihaknya meminta orang tua membekali anak dengan masker. Hal ini menyusul serangkaian penyakit mirip flu disertai demam tinggi yang menyerang balita usia 1โ2 tahun. Pernyataan ini menggambarkan bahwa kekhawatiran masyarakat bukan tanpa dasar, melainkan respons terhadap kondisi nyata di lingkungan sekitar.
Kenaikan kasus tidak hanya terjadi di Korea Selatan. China juga melaporkan sekitar 522.000 kasus baru pada Juli, termasuk 487 kasus berat dan satu kematian. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang baru mungkin sedang merambat di kawasan Asia. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat penting. Meski status darurat telah dicabut, virus belum sepenuhnya hilang. Lonjakan di negara tetangga bisa menjadi sinyal untuk memperkuat kembali sistem surveilans dan kesiapan fasilitas kesehatan.
Para pelaku industri memperkirakan tren ini akan berlanjut seiring dimulainya tahun ajaran baru dan pergantian musim. Seorang pejabat GS25 menyatakan bahwa permintaan alat tes, masker, dan obat flu diperkirakan tetap kuat, dan perubahan musim akan semakin mendorong penjualan. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah lonjakan ini akan berujung pada pembatasan baru, atau justru menjadi alarm bagi negara lain untuk bersiap? Bagi Indonesia, langkah antisipatif seperti memperkuat vaksinasi booster dan kampanye penggunaan masker di tempat umum bisa menjadi kunci untuk meredam dampak gelombang serupa.



