Ho-chan Menyambut Musim Panas: Es Raksasa Berisi Camilan untuk Beruang Kutub di Kebun Binatang Osaka
Baca dalam 60 detik
- Seekor beruang kutub betina di Kebun Binatang Tennoji, Osaka, mendapat tiga balok es berisi buah dan daging sebagai bagian dari acara tahunan untuk mengatasi panas.
- Sekitar 60 pengunjung terpilih secara acak menyaksikan langsung, sementara siaran langsung memperluas jangkauan acara ke publik.
- Acara ini menjadi yang pertama setelah kandang baru 'Polar Bear Coast' dibuka, menandai upaya kebun binatang dalam memperkaya lingkungan satwa.

Seekor beruang kutub betina di Kebun Binatang Tennoji, Osaka, Jepang, menjadi pusat perhatian pada Sabtu (30/8) ketika ia menikmati tiga balok es raksasa berisi camilan. Acara tahunan ini dirancang untuk membantu satwa tersebut tetap aktif dan bersemangat di tengah teriknya musim panas, sekaligus memberi pengalaman unik bagi pengunjung yang beruntung.
Beruang yang akrab disapa "Ho-chan" ini tampak lahap menyantap apel, daging ayam, daging sapi, dan yogurt yang dibekukan dalam balok es setinggi sekitar 55 sentimeter. Sekitar 60 pengunjung yang terpilih melalui undian acak mendapat kesempatan langka untuk menyaksikan momen tersebut secara langsung. Bagi yang tidak berkesempatan hadir, kebun binatang menyiarkan acara ini secara langsung melalui platform digital, sehingga jangkauan edukasi dan hiburan menjadi lebih luas.
Yang menarik, ini adalah kali pertama acara pemberian es berlangsung setelah kandang baru bernama "Polar Bear Coast" resmi dibuka untuk publik pada 4 Agustus lalu. Kandang tersebut dirancang untuk meniru habitat alami beruang kutub, lengkap dengan area berenang dan bebatuan, sehingga memberikan stimulasi fisik dan mental yang lebih baik bagi satwa.
Seorang pengunjung berusia delapan tahun, Sosuke Uda, yang datang bersama keluarganya, mengungkapkan kekagumannya. "Lucu sekali melihat beruang kutub itu mengunyah es dan apel, lalu menyelam ke dalam air," ujarnya. Momen seperti ini menjadi bukti bahwa kebun binatang modern tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai pusat konservasi dan edukasi yang interaktif.
Bagi Indonesia, inisiatif seperti ini relevan dengan upaya konservasi satwa di tengah perubahan iklim. Kebun binatang di Indonesia, seperti Taman Safari dan Kebun Binatang Ragunan, dapat mengadopsi pendekatan serupa untuk meningkatkan kesejahteraan satwa, terutama spesies yang rentan terhadap suhu panas. Selain itu, acara semacam ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata edukatif yang meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan satwa liar.
Para ahli perilaku satwa menilai bahwa pengayaan lingkungan (environmental enrichment) seperti ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik hewan di penangkaran. Dengan memberikan stimulasi yang bervariasi, hewan tidak mudah stres dan lebih aktif, yang pada akhirnya mendukung program reproduksi dan konservasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah kebun binatang di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan semakin serius mengadopsi praktik serupa. Dengan meningkatnya kesadaran publik akan kesejahteraan hewan, tekanan terhadap lembaga konservasi untuk berinovasi pun semakin besar. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak kandang bertema habitat alami dan program interaktif yang melibatkan pengunjung secara langsung.



