Banjir Dahsyat Nepal-Tibet: Hampir 3.000 Orang Hilang, Dunia Bergerak Cepat
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet telah menewaskan sedikitnya 682 orang dan menyebabkan hampir 3.000 orang hilang, dengan operasi penyelamatan masih berlangsung.
- Nepal menghadapi kerugian ekonomi hingga miliaran dolar AS, sementara bantuan internasional mulai mengalir dari AS, Kanada, dan UE, serta India dan China mengirim tim penyelamat khusus.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim, mendorong India untuk meningkatkan pemantauan gletser dan danau glasial di wilayahnya.

Hampir 3.000 orang dilaporkan hilang setelah banjir bandang dahsyat yang dipicu oleh runtuhnya gletser melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu lalu. Hingga Minggu (30/8), tim penyelamat masih berjuang mencari korban di tengah lumpur tebal, sementara jumlah korban tewas terus bertambah menjadi 682 orang.
Bencana yang oleh banyak pihak disebut seperti tsunami ini menghantam sejumlah desa dan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang sungai. Otoritas Nepal mencatat 2.426 orang, termasuk ratusan warga asing, belum dapat dihubungi. Sementara itu, kantor berita Xinhua milik China melaporkan 554 orang hilang dan tujuh orang tewas di sisi Tibet, yang sebagian besar wilayahnya masih tertutup bagi jurnalis asing sehingga menyulitkan verifikasi independen.
Di tengah upaya pencarian yang berlangsung intensif, tentara Nepal berupaya menembus terowongan proyek PLTA yang terkubur untuk menyelamatkan lebih dari 100 pekerja yang diperkirakan masih terperangkap. Mereka adalah bagian dari 933 pekerja proyek PLTA yang hilang ketika gelombang es dan puing menyapu area tersebut. India, yang memiliki pengalaman luas dalam operasi penyelamatan semacam ini, telah mengirim tim khusus beranggotakan 11 orang, sementara China mengirim tim penembus terowongan berjumlah sembilan orang.
Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menyatakan bahwa biaya rekonstruksi pascabencana dapat mencapai miliaran dolar AS. "Kami akan melakukan penelitian kerugian dan kemudian merencanakan, tetapi saya meminta dukungan komunitas internasional," ujarnya. Nepal secara resmi meminta bantuan keuangan dan peralatan penyelamatan khusus, seperti drone angkat berat, peralatan uji DNA, dan unit penyimpanan jenazah berpendingin.
Di pangkalan militer Bidur, pusat koordinasi penyelamatan, keluarga korban berdesakan melihat daftar nama yang selamat. Kalka Sharda, seorang ibu yang mencari anaknya yang bekerja di PLTA, mengaku cemas karena namanya tak kunjung muncul. "Saya datang ke sini mencari anak saya. Dia buruh di PLTA, tapi saya tidak bisa menemukan namanya, dan pihak berwenang tidak memberi tahu apa pun," katanya.
Bencana ini juga memicu kekhawatiran di negara-negara tetangga yang memiliki kondisi geografis serupa. India, yang berbagi perbatasan dengan Nepal dan China, telah meningkatkan pemantauan gletser dan danau glasial di wilayah Uttarakhand. Menteri Manajemen Bencana Uttarakhand, Madan Kaushik, menegaskan pentingnya langkah antisipasi karena wilayahnya memiliki kemiripan geografis dengan Nepal.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim. Meski Indonesia tidak memiliki gletser, risiko banjir bandang, tanah longsor, dan gelombang panas tetap mengancam. Pengalaman Nepal dalam menangani bencana besar dapat menjadi pelajaran berharga bagi sistem penanggulangan bencana di Tanah Air, terutama dalam hal koordinasi internasional dan teknologi penyelamatan.
Bantuan internasional mulai mengalir, dengan Amerika Serikat menjanjikan US$3,6 juta untuk bantuan pangan darurat bagi 10.000 rumah tangga, Kanada menyumbang CAN$5 juta, dan Uni Eropa memberikan dua juta euro. Presiden China Xi Jinping juga telah menawarkan bantuan. Namun, dengan skala kerusakan yang sangat besar, pertanyaan besarnya adalah apakah respons global ini akan cukup cepat dan memadai untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam di Nepal.



