Keluarga Korban Turbulensi SQ321 Gugat Singapore Airlines: Tuntut Jawaban dan Kompensasi
Baca dalam 60 detik
- Linda Kitchen, janda korban tewas dalam insiden turbulensi parah SQ321, resmi mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Inggris.
- Gugatan ini menuntut transparansi investigasi dan kompensasi atas cedera serius yang dideritanya, menyusul tawaran awal SIA yang dinilai tidak memadai.
- Langkah hukum ini berpotensi membuka jalan bagi penumpang lain untuk menuntut standar keselamatan penerbangan yang lebih ketat.

Langkah hukum baru muncul dari tragedi penerbangan Singapore Airlines (SIA) SQ321 yang mengguncang dunia pada Mei 2024 lalu. Linda Kitchen, warga negara Inggris berusia 74 tahun yang kehilangan suaminya dalam insiden turbulensi hebat tersebut, resmi mengajukan gugatan terhadap maskapai berbendera Singapura itu di Pengadilan Tinggi Inggris. Gugatan ini bukan sekadar soal kompensasi, melainkan juga upaya untuk mengungkap fakta di balik peristiwa yang mengakibatkan 79 orang terluka dan satu orang tewas.
Peristiwa nahas itu terjadi pada 21 Mei 2024, ketika pesawat Boeing 777-300ER yang terbang dari London menuju Singapura tiba-tiba jatuh bebas lebih dari 54 meter hanya dalam lima detik di atas wilayah Myanmar. Saat itu, para kru tengah menyajikan sarapan pagi. Para saksi mata menggambarkan suasana kacau balau; barang-barang dan bahkan manusia terlempar ke sana kemari. Geoffrey Kitchen, suami Linda yang berprofesi sebagai sutradara teater, jatuh menimpa istrinya dan menghimpitnya ke sandaran kursi. Meskipun seorang dokter di dalam pesawat segera melakukan resusitasi jantung paru, nyawa Geoffrey tidak tertolong. Ia mengalami serangan jantung fatal.
Bagi Linda, perjalanan yang seharusnya menjadi liburan enam minggu ke Singapura, Indonesia, dan Australia itu berubah menjadi mimpi buruk. Ia menderita patah tulang belakang yang serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit Bangkok selama sepuluh hari sebelum diterbangkan kembali ke Bristol, Inggris. Kabar duka tentang suaminya baru ia terima dua hari setelah insiden. โSaat saya terpisah dari Geoff, saya tahu kondisinya buruk, tapi tidak ada yang menyiapkan saya untuk mendengar kabar kematiannya. Itu benar-benar menghancurkan,โ ujarnya kepada media Inggris.
Gugatan yang diajukan atas nama Linda dan juga atas nama harta warisan Geoffrey ini bertujuan untuk mendapatkan dana guna mendukung perawatan khusus yang ia butuhkan akibat cedera punggungnya. Pengacara spesialis penerbangan yang mewakili Linda, Anthe Korelidou, menegaskan bahwa langkah ini adalah tonggak penting untuk mendapatkan jawaban yang layak bagi keluarga korban. โLebih dari dua tahun sejak kematian Geoff, Linda dan keluarganya masih memiliki banyak pertanyaan dan kekhawatiran tentang apa yang terjadi dan apakah ada yang bisa dilakukan untuk mencegah cedera mereka,โ kata Korelidou. โSemua yang Linda inginkan hanyalah investigasi yang menyeluruh.โ
Gugatan Linda tidak sendirian. Catatan pengadilan Inggris menunjukkan bahwa beberapa penumpang lain, seperti Bradley Richards, Jack Jenkins, Hannah Fullerton, Andrew Dawood, Bryan Matthews, serta Pauline dan Michael Rainey, juga telah mengambil langkah hukum serupa terhadap SIA. Sebelumnya, maskapai tersebut memang telah menawarkan kompensasi: US$10.000 untuk cedera ringan dan uang muka US$25.000 untuk cedera serius yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Namun, bagi sebagian korban, tawaran itu dianggap tidak sebanding dengan trauma dan kerugian yang mereka alami.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat penting akan risiko turbulensi di kawasan Asia Tenggara. Dengan meningkatnya lalu lintas penerbangan dan perubahan iklim yang berpotensi meningkatkan frekuensi turbulensi, regulator penerbangan Indonesia, seperti Kementerian Perhubungan, perlu meninjau kembali protokol keselamatan dan pelatihan pilot untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Maskapai nasional juga harus memastikan sistem deteksi cuaca di pesawat mereka selalu diperbarui dan dirawat dengan baik.
Laporan dari Biro Penyelidikan Keselamatan Transportasi Singapura (TSIB) mengungkapkan bahwa awan badai yang menyebabkan turbulensi parah tersebut tidak terdeteksi oleh radar cuaca di pesawat, sehingga mengejutkan kapten. Namun, TSIB belum dapat menyimpulkan apakah ada masalah teknis pada sistem radar itu sendiri. Temuan ini menimbulkan pertanyaan tentang keandalan teknologi deteksi cuaca di pesawat komersial dan apakah perlu ada peningkatan standar global.
Gugatan hukum yang diajukan keluarga Kitchen dan penumpang lain akan menjadi ujian bagi akuntabilitas maskapai penerbangan dalam menangani dampak kecelakaan. SIA sendiri menyatakan tidak dapat berkomentar karena masalah ini sedang dalam proses pengadilan. Namun, mereka sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan komitmen terhadap keselamatan penumpang.
Ke depannya, keputusan pengadilan Inggris akan menjadi preseden penting, tidak hanya bagi para korban SQ321, tetapi juga bagi industri penerbangan global. Apakah maskapai akan lebih proaktif dalam memberikan kompensasi yang adil dan transparan, atau justru berlarut-larut dalam pertarungan hukum? Pertanyaan ini menggantung di udara, sama seperti ketidakpastian yang dirasakan para korban yang masih mencari keadilan.



