Arsitek Singapura Chang Yong Ter: Membangun Hunian yang Menyembuhkan Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Chang Yong Ter, pendiri Chang Architects, telah menghabiskan lebih dari dua dekade merancang rumah-rumah ikonik di Singapura yang mengintegrasikan alam, spiritualitas, dan kebutuhan klien secara mendalam.
- Proyek perdananya, Elok House, yang dirancang pada 2005 dengan dinding hijau dan pepohonan di dalam rumah, masih dirayakan di festival desain Jia Curated 2024 di Bali, menunjukkan pengaruhnya yang abadi.
- Melalui filosofi antroposofi, Chang berupaya menciptakan arsitektur yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai 'makhluk lingkungan' yang membina kesejahteraan batin penghuninya.

Di tengah hiruk-pikuk industri arsitektur modern yang serba digital, Chang Yong Ter, arsitek asal Singapura, justru memilih jalan sunyi: merancang hunian yang menyatu dengan alam dan spiritualitas. Selama lebih dari dua dekade, pendiri Chang Architects ini telah menciptakan rumah-rumah khas yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga diyakini mampu membentuk manusia yang lebih baik. Karya-karyanya, yang sebagian besar berupa rumah tinggal, menjadi bukti bahwa arsitektur bisa menjadi medium untuk menyembuhkan jiwa.
Chang, yang juga praktisi yoga, tai chi, dan meditasi, meyakini bahwa lingkungan binaan memiliki potensi untuk memelihara kesejahteraan batin. Filosofi ini ia terjemahkan dalam setiap proyeknya, di mana alam, cahaya, dan bahkan suara hujan menjadi 'partisipan aktif' di dalam dinding rumah. "Flora dan fauna, angin, cahaya siang, suara malam dan hujan bisa menjadi partisipan aktif di dalam empat dinding, menciptakan hubungan timbal balik di mana kita membentuk lingkungan kita dan sebaliknya," ujarnya, menggambarkan pendekatannya yang holistik.
Salah satu proyek yang menjadi tonggak kariernya adalah Elok House, sebuah rumah deret tiga lantai di dekat Orchard Road yang dirancang pada 2005. Saat itu, istilah 'biophilia' belum populer, namun Chang berani mewujudkan keinginan kliennya untuk memiliki sebanyak mungkin area hijau. Hasilnya, rumah dengan dinding hijau setinggi penuh dan pepohonan yang tumbuh menembus lantai ini meraih President's Design Award pada 2008. Karya ini pun masih dikenang hingga kini, bahkan menjadi bagian dari pameran Architecture in Scale dalam festival Jia Curated di Bali pada Agustus lalu, yang mengusung tema Nature Weave.
Keunikan proses desain Chang terletak pada penggunaan maket fisik, sebuah praktik yang nyaris 'kuno' di era digital. Setelah menerima brief, ia membuat sketsa sederhana, lalu membangun maket untuk mempresentasikan idenya kepada klien. "Sebagian besar waktu, ini sangat meyakinkan karena mereka bisa melihat ruang dalam tiga dimensi. Sekali lihat, mereka bisa tahu seperti apa fasadnya dan bagaimana hubungannya dengan area hunian," jelas Chang. Metode ini terbukti efektif, terutama untuk proyek-proyek besar seperti Moongate House, sebuah bungalow mewah di Bukit Timah dengan luas lahan 32.658 kaki persegi, atau Cornwall Gardens yang selesai pada 2014 di lahan seluas 16.081 kaki persegi.
Di luar rumah tinggal, Chang juga mendirikan Wondrous Light Children's House, sebuah studio pengembangan anak yang ia kelola bersama istrinya, Doreen Eng, sejak 2017. Tempat ini mengadopsi pedagogi Waldorf dari Dr. Rudolf Steiner, yang menekankan permainan imajinatif, ritme, seni, dan kedekatan dengan alam. Di dalam bangunan tiga lantai di Kampong Bahru Road, anak-anak bebas bermain di kolam, ayunan tali, dan taman atap yang bisa dimakan, tanpa perangkat digital. Chang percaya, pendidikan semacam ini membantu anak menjadi lebih seimbang dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
Perjalanan Chang menuju arsitektur tidaklah linear. Gagal masuk jurusan teknik di National University of Singapore, ia beralih ke arsitektur atas rekomendasi teman dekat. Keputusan itu terbukti tepat; sejak hari pertama kuliah, ia terpikat oleh potensi arsitektur untuk membangkitkan kekaguman. Namun, titik balik spiritualnya terjadi saat tugas kuliah tahun keempat yang mengharuskannya merancang pusat yoga. Tanpa sengaja, ia mengikuti kelas meditasi, yang mengubah hidupnya. "Saya belajar bagaimana memfokuskan pikiran, dan ketika pikiran itu setenang air jernih, saya bisa melihat segala sesuatu dengan jelas," kenangnya.
Bagi Indonesia, pendekatan Chang menawarkan perspektif segar di tengah maraknya pembangunan yang mengabaikan aspek lingkungan dan kemanusiaan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, konsep hunian yang menyatu dengan alam dan memperhatikan kesejahteraan penghuni masih jarang diterapkan. Padahal, dengan iklim tropis yang mirip, prinsip-prinsip desain Changโseperti ventilasi silang, pencahayaan alami, dan integrasi tanamanโdapat diadaptasi untuk menciptakan rumah yang lebih sehat dan berkelanjutan. Selain itu, penekanannya pada proses desain yang partisipatif dan penggunaan material lokal bisa menjadi inspirasi bagi arsitek Indonesia untuk lebih menghargai kearifan lokal.
Chang kini semakin mendalami arsitektur antroposofis, sebuah filosofi yang memandang manusia dan dunia secara holistik. Ia percaya, arsitektur masa depan adalah menciptakan lingkungan hidup yang membantu manusia menjadi lebih sadar, terhubung dengan sesama, dan alam. "Mungkin arsitektur masa depan adalah menciptakan lingkungan hidup yang membantu kita menjadi manusia yang lebih sadar, lebih sadar akan diri kita sendiri, terhubung satu sama lain, dan sadar akan tempat kita di alam," tuturnya. Dengan semangat 'pemberontak yang damai', Chang terus menjelajahi jalan yang jarang dilalui, membuktikan bahwa arsitektur bukan sekadar bangunan, melainkan cerminan jiwa manusia.



