Iraola Belum Menang, tapi Liverpool Mulai Tunjukkan Identitas Baru
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar Liverpool, Andoni Iraola, masih mencari kemenangan perdana di Premier League setelah dua laga berakhir imbang.
- Meski hasil belum memuaskan, performa di babak kedua melawan Nottingham Forest dianggap sebagai sinyal positif transisi taktik.
- Kedatangan Bradley Barcola dari PSG diharapkan mempercepat adaptasi gaya bermain agresif ala Iraola.

Manajer anyar Liverpool, Andoni Iraola, masih harus bersabar menantikan kemenangan pertamanya di Premier League. Namun, hasil imbang 2-2 melawan Nottingham Forest pada akhir pekan lalu dianggapnya sebagai bukti bahwa fondasi tim racikannya mulai terbentuk, meski belum sempurna.
Ditunjuk pada musim panas ini, Iraola mendapat mandat besar: mengembalikan Liverpool ke puncak klasemen setelah musim lalu gagal mempertahankan gelar juara dan terlempar ke posisi kelima. Ironisnya, kegagalan itu terjadi setelah klub menggelontorkan dana fantastis, rekor Premier League, sebesar 446 juta poundsterling untuk belanja pemain baru. Kini, ia dituntut membangkitkan kembali intensitas permainan yang dulu membuat Anfield disegani lawan-lawannya di Eropa.
Jawaban Iraola bukanlah bermain aman. Pria asal Spanyol itu ingin Liverpool tampil menekan, menyerang dengan kecepatan tinggi, dan melakukan pressing tanpa henti. Gaya ini tentu mengingatkan para suporter pada era Jurgen Klopp yang penuh energi, sebelum pendekatan yang lebih tenang dari Arne Slot selama dua musim terakhir.
Namun, transisi taktik tidak berjalan mulus. Pada laga kontra Forest, gol pembuka lawan lahir dari serangan balik cepat, sementara babak pertama diwarnai permainan lamban yang membuat Iraola geram. Ia mengakui peningkatan signifikan terjadi setelah jeda, ketika timnya tampil lebih intens dan cepat dalam penguasaan bola.
"Kami jauh lebih baik di babak kedua, lebih intens, lebih cepat, dan punya urgensi lebih besar. Tapi itu tidak cukup untuk memenangkan pertandingan. Kami harus menyalahkan performa babak pertama," ujar Iraola.
Perbaikan itu terlihat jelas. Alexander Isak menyamakan kedudukan setelah jam pertama, sebelum Victor Munoz, pemain anyar, mencetak gol penyeimbang di akhir laga. Sebelumnya, Munoz juga menjadi pahlawan saat memenangkan penalti penting yang membawa Liverpool imbang 2-2 melawan Newcastle di laga pembuka. Iraola memuji kegigihan pemain sayapnya itu, meski mengakui penampilannya belum sempurna.
Kekhawatiran terbesar Iraola justru terletak pada kebiasaan Liverpool memulai laga dengan lambat, pola yang terbawa dari musim lalu. Meski senang dengan karakter tim yang mampu bangkit dari ketertinggalan dua kali beruntun, ia menilai akar masalahnya ada pada kerja tanpa bola yang kurang agresif.
"Di babak pertama kami pasif tanpa bola, jarak antarpemain terlalu jauh, dan kami menjadi nyaman. Ketika intensitas naik, kami memenangkan lebih banyak duel dan menyerang lebih cepat. Kurangnya intensitas tanpa bola ini yang merugikan kami," jelasnya.
Meski belum meraih kemenangan, tidak ada kepanikan di kubu Liverpool. Iraola sejak awal sudah mengingatkan bahwa perubahan taktik butuh waktu, dan gaya bermain dengan tempo tinggi tidak akan langsung dikuasai dalam semalam. Ia juga mendapat angin segar dengan kabar bahwa Liverpool telah mencapai kesepakatan untuk merekrut winger Prancis, Bradley Barcola, dari Paris Saint-Germain. Kecepatan dan kemampuan dribel pemain berusia 23 tahun itu dinilai cocok dengan skema permainan cepat yang diinginkan Iraola.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Liverpool adalah klub dengan basis penggemar besar di Tanah Air, dan perubahan gaya bermain yang lebih agresif bisa menjadi tontonan menarik. Namun, yang lebih penting, konsistensi menjadi kunci bagi Liverpool untuk kembali bersaing di papan atas. Jika Iraola mampu memperbaiki start lambat timnya, bukan tidak mungkin Liverpool akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan lagi musim ini.
Pertanyaannya, mampukah Iraola mempercepat proses adaptasi ini? Atau justru tekanan akan semakin besar jika hasil buruk terus berlanjut? Musim masih panjang, dan jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan nasib Liverpool di bawah kepemimpinan anyarnya.



