Robert De Niro: Kesuksesan di Hollywood Tak Pernah Dijamin, Kerja Keras Kunci Utama
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris Robert De Niro menegaskan bahwa anak-anaknya harus membuktikan keseriusan dan kerja keras jika ingin sukses di industri film, tanpa jaminan apa pun.
- De Niro mengenang pendirian Tribeca Film Festival sebagai bentuk perlawanan pasca-9/11, yang kini menjadi festival budaya paling berpengaruh di dunia.
- Pernyataan ini muncul saat De Niro membintangi film terbaru 'The Whisper Man' dan dokumenter Netflix 'Tribeca 25' yang mengisahkan perjuangan revitalisasi New York.

Robert De Niro, aktor legendaris berusia 83 tahun, dengan tegas menyatakan bahwa kesuksesan di Hollywood bukanlah hak warisan. Dalam wawancara terbarunya, ia mengingatkan anak-anaknya bahwa mereka harus membuktikan diri melalui kerja keras dan dedikasi, karena tidak ada jaminan keberhasilan di industri yang penuh ketidakpastian ini.
De Niro, yang memiliki tujuh anak dari berbagai hubungan, tidak pernah melarang mereka mengikuti jejaknya. Namun, ia menekankan bahwa menjadi anak dari bintang besar justru menjadi tantangan tersendiri. "Orang-orang akan selalu berkata, 'Tunjukkan padaku'," ujarnya kepada People. "Mereka akan menguji kesungguhanmu. Jika kamu tidak terlihat serius dan tidak bekerja keras, itu akan berdampak negatif. Tapi jika kamu bisa secara konsisten mengesankan mereka, itu akan membantumu sepuluh kali lipat."
Bagi De Niro, kunci utama adalah komitmen. "Yang paling penting adalah bekerja keras karena kamu benar-benar menginginkannya. Ini tidak mudah, dan bahkan setelah bekerja keras, tidak ada jaminan," tambahnya. Pernyataan ini relevan tidak hanya bagi para aktor muda di Hollywood, tetapi juga bagi siapa pun yang mengejar karier di industri kreatif, termasuk di Indonesia yang sedang berkembang pesat.
Di tengah sorotan atas kariernya, De Niro juga mengenang momen penting saat mendirikan Tribeca Film Festival pada 2002. Dalam dokumenter Netflix berjudul Tribeca 25, ia mengungkapkan bahwa festival tersebut lahir sebagai "aksi perlawanan" terhadap keterpurukan New York setelah serangan 9/11. "Kami punya 120 hari, 1.300 relawan, tanpa uang, tanpa cetak biru, hanya ide dan lingkungan yang membutuhkan orang kembali," kenangnya. "Ini bukan hanya tentang film; ini tentang apakah downtown akan bangkit kembali."
Sutradara Matt Tyrnauer, yang menggarap dokumenter tersebut, menjelaskan bahwa film ini adalah tentang reinvensi. "Tribeca 25 menelusuri bagaimana kegigihan Robert De Niro dan Jane Rosenthal untuk membawa orang kembali ke downtown setelah 9/11 berevolusi menjadi salah satu festival budaya paling berpengaruh di dunia," katanya. "Saya ingin membuat film tentang kota dan momen. Melalui rekaman arsip, wawancara, dan adegan dari downtown, film ini mengeksplorasi hubungan antara seni dan kehidupan sipilโbagaimana storytelling dapat membantu memulihkan rasa kebersamaan setelah tragedi mendalam."
Bagi Indonesia, pesan De Niro tentang kerja keras dan ketahanan sangat relevan. Industri film dan kreatif di Tanah Air sedang naik daun, dengan banyak talenta muda yang bermimpi go international. Namun, seperti yang ditegaskan De Niro, tidak ada jalan pintas. Kesuksesan membutuhkan dedikasi, ketekunan, dan kemampuan untuk bangkit dari kegagalan. Kisah Tribeca juga menginspirasi: dari keterpurukan, lahir sebuah festival yang kini menjadi barometer budaya global. Mampukah Indonesia menciptakan ekosistem serupa yang mampu mengangkat wajah bangsa di kancah dunia? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi semangat pantang menyerah ala De Niro adalah modal awal yang tak ternilai.



