Tiket Derby Old Firm Dibatasi 300, Martin O'Neill: Lebih Baik Tidak Usah
Baca dalam 60 detik
- Rangers hanya menyediakan 300 tiket untuk suporter Celtic pada laga Piala Liga di Ibrox, menyusul sanksi akibat kerusuhan musim lalu.
- Manajer Celtic Martin O'Neill merespons dengan nada sinis, menyebut alokasi tersebut tidak layak untuk laga sebesar Old Firm.
- Keputusan ini memicu perdebatan tentang kebijakan tiket tandang dan atmosfer pertandingan di Skotlandia.

Manajer Celtic, Martin O'Neill, melontarkan kritik tajam terhadap keputusan Rangers yang hanya mengalokasikan 300 tiket untuk suporter tamu pada laga perempat final Piala Liga di Ibrox bulan depan. O'Neill menilai alokasi tersebut tidak menghormati tradisi laga Old Firm yang selama ini dikenal dengan atmosfer luar biasa, dan ia justru lebih memilih tidak menerima jatah tiket sama sekali.
Keputusan Rangers ini diumumkan hanya beberapa jam setelah Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) menjatuhkan sanksi kepada kedua klub untuk memainkan laga kandang Piala Skotlandia berikutnya tanpa penonton. Sanksi tersebut merupakan buntut dari kerusuhan suporter pada laga Piala Skotlandia musim lalu di Ibrox, ketika sekitar 8.000 pendukung Celtic hadir dan memicu kekacauan. Jumlah itu empat kali lipat lebih banyak dibandingkan alokasi suporter tandang pada laga liga biasa, karena aturan tiket Piala Skotlandia memang berbeda.
"Kalau begitu, lebih baik kami tidak dapat tiket sama sekali," ujar O'Neill usai kemenangan 2-1 Celtic atas Falkirk di Premiership. "Dari sudut pandang pribadi, ini adalah salah satu laga terbesar. Meski kualitas kedua tim tidak selevel Paris Saint-Germain atau Real Madrid, laga ini tetap fantastis. Orang-orang di Eropa dan dunia tidak menyadari seberapa besar laga ini. Atmosfer terbaik justru tercipta ketika suporter tandang mendapatkan jatah yang layak. Sangat disayangkan. Jika mereka hanya memberi 300 tiket, saya lebih baik menolaknya."
Kebijakan pembatasan tiket tandang ini memicu perdebatan tentang masa depan derby Skotlandia. Di satu sisi, langkah ini diambil demi keamanan dan mencegah terulangnya kerusuhan. Namun di sisi lain, banyak pihak menilai kebijakan ini justru menggerus esensi rivalitas yang sudah mengakar. Atmosfer laga Old Firm yang membara sering kali menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton global, dan pembatasan ketat dikhawatirkan akan mengurangi intensitas pertandingan.
Bagi pengamat sepak bola di Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Liga-liga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kerap menghadapi masalah serupa dalam hal pengaturan suporter tandang. Keputusan otoritas sepak bola Skotlandia bisa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menyeimbangkan aspek keamanan dengan semangat kompetisi. Sanksi tanpa penonton dan pembatasan kuota tiket adalah instrumen yang kerap digunakan, tetapi efektivitasnya dalam jangka panjang masih menjadi tanda tanya.
Di sisi lain, kemenangan tipis Celtic atas Falkirk menjadi obat penawar setelah kekalahan memalukan dari LASK di babak play-off Liga Champions. Suporter sempat menunjukkan ketidakpuasan melalui spanduk bertuliskan 'World Class Embarrassment', namun secara keseluruhan dukungan yang diberikan tetap positif. O'Neill mengaku terkejut dengan sambutan hangat yang diterima timnya saat tiba di stadion. "Saat kami turun dari bus, penonton justru bersorak, itu di luar dugaan dan mungkin kami tidak pantas mendapatkannya. Saya sangat senang," katanya.
Gelandang Luke McCowan, yang menjadi sasaran kritik pedas di media sosial setelah performanya di Linz, mendapat tepuk tangan meriah saat masuk sebagai pemain pengganti. Mantan kapten Celtic, Scott Brown, memuji sikap suporter yang dinilainya lebih dewasa. "Mereka adalah penggemar sejati yang datang ke stadion, bukan yang hanya bersembunyi di balik keyboard. Luke sampai harus menghapus akun Instagram dan Twitter-nya, itu tidak seharusnya terjadi. Ini bagian dari sepak bola, kadang tampil bagus, kadang buruk. Dia pasti terluka, tapi butuh karakter kuat untuk bangkit," ujar Brown.
Kekalahan dari LASK juga membuka borok kedalaman skuad Celtic. O'Neill berharap bisa mendatangkan pemain baru sebelum tenggat transfer pada Kamis pukul 17.00 waktu setempat. "Saya masih berharap kami bisa melakukan sesuatu di bursa transfer. Jika ingin mempertahankan gelar dan berkompetisi di Liga Europa, kami butuh lebih banyak kekuatan di lini tengah," tegasnya. Posisi bek kiri menjadi perhatian utama setelah Kieran Tierney kembali mengalami cedera dan tidak ada pengganti yang setara setelah kepergian Marcelo Saracchi.
Scott Brown menilai Celtic perlu mendatangkan bek kiri baru dan mungkin satu bek tengah lagi. Ia juga menyoroti kepergian Arne Engels ke West Ham yang meninggalkan celah besar di lini tengah. "Mereka butuh pemain bertipe pekerja keras di tengah, terutama untuk Liga Europa. Kehilangan Engels terasa sekali, mereka kurang fisik dan mudah didikte lawan saat melawan LASK," ujarnya. Dengan sisa waktu bursa transfer yang semakin sempit, keputusan manajemen Celtic dalam beberapa hari ke depan akan menentukan arah musim mereka.
Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Celtic segera berbenah dan kembali bersaing di level Eropa, atau justru ancaman krisis semakin nyata? Begitu pula dengan kebijakan tiket tandang yang kontroversial ini—apakah akan menjadi preseden buruk bagi masa depan derby Skotlandia, atau justru langkah tepat untuk menjaga keamanan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: tensi Old Firm tidak akan pernah surut.



