Ziarah ke Makam Pendiri NU: Sinyal Restu Ma'ruf Amin untuk Gus Kikin Jelang Muktamar?
Baca dalam 60 detik
- Menjelang Muktamar Ke-35 NU, Ma'ruf Amin dan Gus Kikin berziarah ke makam KH Hasyim Asy'ari di Jombang, memicu spekulasi dukungan politik.
- Jubir Tim Qanun Asasi menyebut pertemuan itu sebagai tradisi, namun mengakui wajar jika Ma'ruf memberikan restu kepada kandidat kuat.
- Muktamar yang berlangsung 27-31 Agustus 2026 akan menentukan arah kepemimpinan PBNU, dengan Gus Kikin sebagai salah satu calon utama.

Jombang, Jawa Timur โ Wakil Presiden ke-13 RI, KH Ma'ruf Amin, bersama calon Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, melakukan ziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Rabu (26/8). Langkah ini terjadi hanya sehari sebelum pembukaan Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026, memicu spekulasi mengenai arah dukungan di tengah kontestasi pemilihan ketua umum.
Ziarah ke makam pendiri NU bukan sekadar ritual biasa. Bagi warga Nahdliyin, tradisi ini memiliki bobot spiritual dan simbolis yang kuat, terutama saat organisasi tengah bersiap menentukan kepemimpinan baru. Kehadiran Ma'ruf Amin, yang berstatus Mustasyar PBNU, bersama Gus Kikin โ yang diusung oleh Pengurus Wilayah NU Jawa Timur โ di lokasi yang sama jelas tidak luput dari perhatian publik.
Juru Bicara Tim Qanun Asasi (Qonas), Abi Rekso, dalam keterangan tertulisnya, menegaskan bahwa ziarah tersebut merupakan bagian dari tradisi yang bernilai penting bagi warga NU. Namun, ia juga tidak menampik adanya makna politis. "Tidak semua pertemuan harus dimaknai sebagai dukung-mendukung. Namun, wajar jika Kiai Ma'ruf Amin memberikan restu kepada salah satu calon kuat, yang mana adalah Gus Kikin," ujarnya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa dukungan eksplisit mungkin saja diberikan, meski tidak secara langsung diumumkan.
Momen kebersamaan Ma'ruf Amin dan Gus Kikin di makam KH Hasyim Asy'ari serta makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dinilai sebagai simbol keberkahan. Abi Rekso menambahkan, "Saya lihat kemarin keakraban beliau-beliau di Makam Mbah Hasyim dan Gus Dur. Semoga itu memberikan keberkahan bagi PBNU masa depan." Pernyataan ini merefleksikan harapan agar proses muktamar berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa NU ke arah yang lebih baik.
Gus Kikin sendiri, menurut Abi Rekso, tidak melakukan kampanye pribadi dengan memasang spanduk bergambar dirinya. Ia lebih fokus membawa gagasan mengenai Qanun Asasi sebagai pedoman bagi NU ke depan. Sikap ini dinilai sebagai strategi yang elegan, menonjolkan visi daripada pencitraan. Sementara itu, suasana di Jombang digambarkan semarak dengan kehadiran ribuan Nahdliyin dari berbagai daerah. "Ada istilah di NU, awal gegeran (keributan) diakhiri dengan ger-geran. Jadi, kalau kita lihat di Jombang Nahdliyin tumpah ruah, banyak bazar disambut suka cita seluruh warga Nahdliyin se-Indonesia," kata Abi Rekso, menggambarkan euforia yang kontras dengan dinamika politik internal.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini bukan sekadar soal internal organisasi. NU, dengan puluhan juta anggota, adalah kekuatan sosial-politik yang pengaruhnya terasa hingga ke tingkat nasional. Keputusan Muktamar akan menentukan arah kebijakan organisasi, termasuk dalam merespons isu-isu kebangsaan, ekonomi syariah, dan moderasi beragama. Oleh karena itu, siapa yang memimpin PBNU lima tahun ke depan akan berdampak pada lanskap politik dan sosial Indonesia secara lebih luas.
Muktamar kali ini juga membahas perubahan AD/ART, termasuk metode pemilihan PBNU. Hal ini menambah lapisan kompleksitas, karena perubahan aturan main dapat mengubah peta kekuatan. Pertemuan Ma'ruf Amin dan Gus Kikin, di tengah pembahasan tersebut, bisa dibaca sebagai upaya konsolidasi untuk memastikan stabilitas organisasi. Namun, apakah ini berarti dukungan penuh atau sekadar silaturahmi? Publik masih menunggu sikap resmi Ma'ruf Amin.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah Ma'ruf Amin secara terbuka mendeklarasikan dukungannya, atau membiarkan mekanisme muktamar berjalan apa adanya? Satu hal yang pasti, ziarah ini telah menambah bumbu politik menjelang pemilihan. Jika Gus Kikin terpilih, momen di Tebuireng akan dikenang sebagai titik awal restu. Jika tidak, pertemuan itu akan dianggap sekadar tradisi. Apapun hasilnya, Muktamar Ke-35 NU akan menjadi tonggak penting bagi perjalanan organisasi tertua di Indonesia ini.



