Perang Dingin FIFA vs UEFA Memanas: Infantino Terancam Tuntutan Pidana
Baca dalam 60 detik
- UEFA mengajukan gugatan ke pengadilan AS untuk membongkar dokumen rencana investasi FIFA yang disebut merugikan asosiasi anggota.
- Langkah hukum ini merupakan eskalasi konflik setelah rencana FIFA Forward Enterprise (FFE) gagal, dan menambah tekanan pada Presiden FIFA Gianni Infantino.
- Masa depan kepemimpinan Infantino akan ditentukan pada pemilihan Maret 2025, dengan UEFA berjanji mencari kandidat alternatif.

Konflik antara UEFA dan Presiden FIFA Gianni Infantino memasuki babak baru yang lebih sengit. UEFA secara resmi mengajukan permohonan ke pengadilan Amerika Serikat untuk mengakses dokumen-dokumen terkait rencana investasi FIFA yang kontroversial, yang menurut mereka sarat dengan pelanggaran dan merugikan organisasi sepak bola dunia. Gugatan ini menjadi puncak ketegangan yang telah berlangsung berbulan-bulan, dan berpotensi membawa Infantino ke meja hijau di Swiss.
Inti dari gugatan UEFA adalah tuduhan bahwa Infantino terlibat dalam "pengelolaan kriminal" dan mendorong harga jual saham kompetisi FIFA yang "sangat rendah" untuk keuntungan pribadi. Rencana yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE) itu, yang digagas untuk menarik investor swasta, dinilai UEFA sebagai transaksi yang tidak transparan, tanpa lelang terbuka, dan tidak melalui penilaian independen. UEFA juga menyebut keterlibatan orang-orang dekat Infantino sebagai "kroni" dan "rekan konspirator" dalam dokumen pengadilan yang diajukan.
Ketegangan ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, tiga konfederasi sepak bola, termasuk UEFA, sempat mendesak Infantino untuk mundur. Namun, dukungan dari Federasi Sepak Bola Arab Saudi dan keputusan UEFA untuk membatalkan ancaman boikot kompetisi FIFA sempat dianggap sebagai kemenangan bagi Infantino. Akan tetapi, langkah UEFA untuk membawa masalah ini ke ranah hukum justru menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam. Mereka menuntut reformasi fundamental, pembatasan kekuasaan presiden, dan audit independen terhadap rencana FFE yang gagal tersebut.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai salah satu dari 211 anggota FIFA, PSSI berada di bawah bayang-bayang dinamika politik sepak bola global. Keputusan FIFA di masa depan, termasuk siapa yang akan memimpin organisasi tersebut, akan berdampak pada alokasi dana pembinaan sepak bola di tanah air. Ketidakstabilan di pucuk pimpinan FIFA dapat mempengaruhi program-program pengembangan yang selama ini dinikmati oleh anggota seperti Indonesia. Oleh karena itu, perkembangan ini perlu dicermati, terutama bagi para pemangku kepentingan sepak bola nasional.
Para ahli hukum menilai bahwa peluang UEFA untuk memenangkan kasus ini masih belum pasti. Nick de Marco, seorang pengacara olahraga terkemuka, menyatakan bahwa UEFA harus menunjukkan bukti yang kuat untuk mendukung tuntutan pidana terhadap Infantino. Ia memperkirakan bahwa proses pengungkapan dokumen di pengadilan AS memiliki peluang keberhasilan yang tinggi, tetapi keputusan akhir ada di tangan jaksa Swiss. Sejarah juga menunjukkan bahwa tuntutan serupa terhadap mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, pernah gagal di pengadilan Swiss.
"Yang harus ditunjukkan UEFA adalah bahwa mereka memiliki kasus yang masuk akal untuk membawa tuntutan pidana terhadap Infantino. Jika mereka bisa membuktikannya, maka mereka berhak mendapatkan akses ke banyak dokumen," ujar De Marco.
Di tengah badai ini, Infantino justru terlihat semakin percaya diri. Ia baru saja melakukan tur ke beberapa negara, termasuk Vietnam, untuk menggalang dukungan. Dukungan dari federasi-federasi di Amerika Selatan, Afrika, dan sebagian Asia membuatnya optimis untuk mempertahankan kursi kepresidenan. Namun, UEFA telah memperingatkan bahwa jika Infantino mencalonkan diri kembali, mereka akan berupaya menawarkan kandidat alternatif yang kredibel dan berkomitmen pada integritas serta tata kelola yang baik.
Pertemuan Dewan FIFA pada Oktober mendatang akan menjadi ajang pertama bagi Infantino untuk berhadapan langsung dengan para penentangnya. Keputusan siapa yang akan bertarung dalam pemilihan presiden pada Maret 2025 akan menjadi titik balik bagi masa depan sepak bola dunia. Akankah Infantino mampu bertahan, atau justru muncul pemimpin baru yang mampu menyatukan kembali organisasi yang sedang terpecah belah ini? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.



