Anwar Bantah Kritik soal Kebijakan Perjudian: Undian Khusus Dipangkas dari 22 ke 8, tapi Masih Dihujat
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memangkas undian khusus lotere dari 22 menjadi 8 per tahun sebagai bukti komitmen anti-perjudian.
- Kritik dari Menteri Besar Kedah, Sanusi Md Nor, muncul setelah Mahkamah Federal menolak larangan total lisensi tempat perjudian di negara bagian itu.
- Anwar menegaskan fokus pada pemulihan aset negara yang hilang akibat skandal Tabung Haji dan Felda, serta mengembalikan dana kepada rakyat.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, dengan tegas membalas kritik terhadap kebijakan perjudian pemerintahannya. Dalam acara peluncuran Skema Pengusaha Bangkit Permatang Pauh di Bukit Mertajam, Sabtu (29/8), ia mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah secara signifikan mengurangi undian khusus lotere dari 22 kali menjadi hanya 8 kali dalam setahun. Langkah ini, menurutnya, merupakan bukti nyata komitmen untuk menekan aktivitas perjudian, meskipun masih ada yang mempertanyakannya.
Anwar menyampaikan pernyataan tersebut sebagai respons langsung terhadap kritik pedas dari Menteri Besar Kedah, Muhammad Sanusi Md Nor. Sanusi sebelumnya memperingatkan bahwa Anwar akan menghadapi kemarahan warga Kedah jika pemerintah federal mengizinkan operator perjudian kembali beroperasi di negara bagian tersebut. Peringatan ini muncul setelah Mahkamah Federal Malaysia memutuskan untuk menolak banding Kedah yang ingin mempertahankan larangan total terhadap lisensi tempat perjudian. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi kebijakan konservatif Kedah yang selama ini dikenal ketat melarang perjudian.
Dalam pidatonya, Anwar tidak hanya membela diri, tetapi juga menyerang balik para pengkritiknya. "Mereka mengadakan 22 undian khusus, tapi saya kurangi menjadi delapan. Apakah ini cukup? Tidak. Tapi mengapa saya dihina karena ini? Sebelum menyerang saya, lihatlah diri Anda sendiri di cermin," ujarnya dengan nada tajam. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Anwar merasa tidak adil diperlakukan sebagai pihak yang pro-perjudian, padahal ia telah mengambil langkah konkret untuk membatasinya.
Lebih jauh, Anwar juga menyoroti kerugian besar yang diderita negara akibat skandal masa lalu, seperti yang melibatkan Tabung Haji dan Felda. Ia menegaskan bahwa Malaysia sebenarnya tidak miskin, tetapi masalahnya adalah uang tidak sampai ke rakyat. "Siapa bilang Malaysia miskin? Masalahnya adalah uangnya tidak sampai ke rakyat," katanya. Ia menambahkan bahwa banyak pihak marah karena ia tegas menangkap para koruptor, tetapi ia bukanlah orang yang melakukan penangkapan itu. "Saya dipercaya oleh publik. Rakyat butuh dana ini, tapi miliaran Ringgit diambil dan hilang. Saya ingin menghentikan itu dan mengembalikan apa yang menjadi hak rakyat," tegasnya.
Konteks Indonesia: Kebijakan serupa dalam pengelolaan perjudian dan pemberantasan korupsi juga relevan di Indonesia. Meskipun Indonesia melarang total perjudian, isu kebocoran anggaran dan pengelolaan dana publik sering menjadi sorotan. Kasus-kasus seperti Jiwasraya dan Asabri menunjukkan bahwa pengawasan yang lemah dapat menyebabkan kerugian negara yang besar. Langkah Anwar untuk memangkas undian khusus dan fokus pada pemulihan aset negara dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat tata kelola dan transparansi keuangan publik.
Kritik Sanusi tidak hanya menyoroti kebijakan perjudian, tetapi juga mencerminkan ketegangan politik antara pemerintah federal dan negara bagian. Sanusi, yang dikenal sebagai tokoh oposisi yang vokal, sering kali menggunakan isu moral dan agama untuk menyerang kebijakan Anwar. Namun, keputusan Mahkamah Federal menunjukkan bahwa hukum federal lebih unggul daripada peraturan daerah, yang dapat memicu perdebatan lebih lanjut tentang otonomi daerah dan kebijakan publik.
Anwar juga menekankan bahwa pemberantasan korupsi adalah prioritas utama pemerintahannya. Ia mengakui bahwa tindakannya yang tegas mungkin tidak populer, tetapi ia yakin bahwa langkah tersebut diperlukan untuk menyelamatkan keuangan negara. "Rakyat perlu dana ini, tapi miliaran Ringgit diambil dan hilang. Saya ingin menghentikan itu dan mengembalikan apa yang menjadi hak rakyat," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan tekadnya untuk membersihkan pemerintahan dari praktik korupsi yang selama ini merugikan negara.
Ke depannya, keputusan Mahkamah Federal ini dapat membuka jalan bagi operator perjudian untuk kembali beroperasi di Kedah, meskipun ada resistensi dari pemerintah setempat. Hal ini berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan antara pemerintah federal dan negara bagian. Pertanyaannya, apakah Anwar mampu menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh sebagian masyarakat? Atau akankah ia mengambil langkah lebih tegas untuk membatasi perjudian secara nasional? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan perjudian di Malaysia dalam beberapa tahun ke depan.



