Banjir Himalaya Tewaskan 547 Orang di Nepal, Operasi Penyelamatan Kembali Berjalan
Baca dalam 60 detik
- Setelah sempat terhenti akibat kekhawatiran danau bendung meluap, tim penyelamat Nepal dan China kembali bergerak mencari korban longsor glasial yang menewaskan lebih dari 500 orang.
- Banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser menghancurkan infrastruktur vital di jalur Kathmandu-Lhasa, dengan hampir seribu orang dilaporkan hilang, termasuk ratusan wisatawan asing.
- Pemerintah Nepal menolak bantuan internasional untuk pencarian, sementara China meningkatkan pemantauan danau glasial dan kerja sama bencana lintas batas.

Operasi pencarian dan pertolongan di kawasan Himalaya yang dilanda banjir bandang kembali dilanjutkan setelah sempat dihentikan sementara, meny meny meny menyusul kekhawatiran luapan danau bendung yang disebut mulai mereda. Bencana yang dipicu runtuhnya gletser pada Rabu lalu itu telah menewaskan sedikitnya 547 orang di Nepal dan lima lainnya di wilayah Tibet, China, dengan hampir 1.000 orang masih dinyatakan hilang di kedua negara.
Menurut laporan otoritas setempat, volume air di danau yang terbentuk akibat longsoran es dan batu itu mencapai 2,5 juta meter kubik pada Jumat (28/8), meningkat dari perkiraan 1,5 hingga 2 juta meter kubik sehari sebelumnya. Air kemudian meluap ke Sungai Lhende Khola dan bermuara ke Trishuli, memicu peringatan dini yang sempat menghentikan operasi penyelamatan selama sekitar tiga jam. Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, mengatakan kenaikan muka air ternyata hanya sekitar 0,6 meter, sehingga risiko jebolnya bendung alam dinilai masih terkendali.
Di sisi China, seluruh personel dan kendaraan penyelamat sempat ditarik mundur ke area aman sebelum akhirnya kembali bertugas. Stasiun televisi pemerintah CCTV memberitakan, operasi di kawasan longsor Gyirong dipercepat setelah ancaman dari danau di hulu dianggap tidak lagi membahayakan. Banjir yang terjadi Rabu lalu merobohkan pembangkit listrik, jalan, dan jembatan di sepanjang rute yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa, jalur yang kerap dilalui pendaki dan peziarah. Dari total korban hilang, sedikitnya 540 orang merupakan warga asing, mayoritas peziarah Hindu dari India yang menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar di Tibet.
Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terdampak, sementara truk pengangkut bantuan sempat terhambat akibat jebolnya tanggul danau. Di Beijing, Politbiro Partai Komunis China menggelar rapat khusus pada Jumat untuk mengarahkan operasi penyelamatan. Dalam pertemuan yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu, otoritas diminta menyusun rencana pencarian secara ilmiah dan mengerahkan segala upaya untuk menemukan warga China maupun asing yang hilang. Perdana Menteri Li Qiang telah tiba di Gyirong pada Kamis sore, menandakan bencana ini menjadi prioritas tertinggi pemerintah China.
Meski tawaran bantuan mengalir dari berbagai negara, pemerintah Nepal justru menyatakan tidak membutuhkan bantuan asing untuk misi pencarian dan penyelamatan. Tim respons cepat Korea Selatan yang sudah tiba di Kathmandu belum dikerahkan karena belum ada rencana penerimaan tim asing. Sementara itu, The Kathmandu Post melaporkan India, China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Bangladesh telah meminta izin untuk membantu operasi. Di sisi lain, keluarga korban di berbagai belahan dunia masih menanti kabar. Sneha Sudhir, salah satu dari sepuluh perempuan yang suaminya tengah dalam perjalanan ke Gunung Kailash, mengaku terus menghubungi pejabat di Amerika Serikat dan India. โSemua orang bergantian menangis, lalu kembali bekerja,โ ujarnya.
Bencana ini menjadi pengingat rentannya kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim. Menurut para ahli, mencairnya gletser meningkatkan risiko terbentuknya danau bendung yang sewaktu-waktu bisa jebol. Bagi Indonesia, kejadian ini relevan dengan upaya mitigasi bencana hidrometeorologi yang juga semakin sering terjadi, seperti banjir bandang di sejumlah daerah. Kerja sama internasional dalam pemantauan danau glasial dan sistem peringatan dini menjadi pelajaran penting yang bisa diadopsi. Pertanyaannya, apakah negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, memiliki kesiapan infrastruktur dan kebijakan untuk menghadapi ancaman serupa di tengah meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim?



