Kapten Bus Go-Ahead Kembali Jadi Korban Kekerasan: Serikat Pekerja Desak Perlindungan Lebih Ketat
Baca dalam 60 detik
- Insiden penyerangan terhadap kapten bus Go-Ahead Singapore terjadi pada 16 Agustus, memicu laporan polisi dan perawatan medis di Changi General Hospital.
- NTWU menyebut ini kasus kedua dalam tiga bulan, menandakan pola kekerasan yang mengkhawatirkan terhadap pekerja transportasi publik di Singapura.
- Serikat pekerja menuntut penguatan perlindungan dan mekanisme pencegahan agar kekerasan tidak dianggap lumrah dalam pekerjaan ini.

Seorang kapten bus Go-Ahead Singapore dilaporkan menjadi korban penyerangan saat bertugas pada 16 Agustus lalu, insiden yang oleh National Transport Workers’ Union (NTWU) disebut sebagai kasus kedua dalam tiga bulan terakhir. Peristiwa ini memicu laporan polisi dan memunculkan kembali pertanyaan tentang keselamatan pekerja transportasi publik di Singapura.
Menurut keterangan Go-Ahead Singapore melalui unggahan Facebook pada Kamis (27/8), penyerangan terjadi sekitar pukul 17.20 saat korban mengemudikan bus layanan Service 2 yang melayani rute Changi Village Terminal menuju Kampong Bahru Terminal. Akibat kejadian tersebut, perjalanan sempat terganggu dan kapten bus harus menjalani perawatan di Changi General Hospital karena luka-luka yang dideritanya. Beruntung, ia telah kembali bertugas setelah kondisinya membaik.
Dalam pernyataannya, Go-Ahead menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan terhadap karyawannya. "Kami tidak membenarkan pelecehan atau kekerasan terhadap rekan kerja kami yang setiap hari menjalankan tugas demi keselamatan penumpang," tulis operator transportasi tersebut. "Keselamatan dan kesejahteraan mereka adalah prioritas kami, dan kami akan terus mendukung serta melindungi mereka."
Sekretaris Eksekutif NTWU, Yeo Wan Ling, dalam unggahan Facebook pada Jumat (28/8) mengungkapkan keprihatinannya. Ia menyebut insiden ini sebagai yang kedua melibatkan kapten bus Go-Ahead dalam tiga bulan, sebuah pola yang menurutnya sangat mengkhawatirkan. "Kekerasan terhadap pekerja transportasi publik tidak boleh dinormalisasi atau dianggap sebagai bagian dari pekerjaan," tegas Yeo. "Perbedaan pendapat atau frustrasi yang muncul selama perjalanan seharusnya dapat diselesaikan tanpa kekerasan."
Yeo juga mengonfirmasi bahwa perwakilan serikat telah mendampingi kapten bus tersebut ke rumah sakit. NTWU berkomitmen untuk terus mendukung pengemudi, termasuk memberikan bantuan hukum jika diperlukan. "Kami akan terus bekerja sama dengan operator dan otoritas terkait untuk memperkuat perlindungan pekerja dan memastikan mereka dapat menjalankan tugas dalam lingkungan yang aman dan saling menghormati," ujarnya.
Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi pekerja transportasi publik di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Jakarta, misalnya, kasus kekerasan terhadap petugas TransJakarta atau sopir angkutan umum kerap terjadi, namun sering kali tidak tertangani dengan baik. Serikat pekerja di Indonesia, seperti Organda atau SP Jasa, mungkin dapat mengambil pelajaran dari respons cepat NTWU yang langsung melibatkan pendampingan hukum dan medis.
Menurut pengamat transportasi, insiden seperti ini tidak hanya berdampak pada korban secara fisik dan psikis, tetapi juga dapat menurunkan moral kerja dan kualitas layanan publik. "Ketika pekerja merasa tidak aman, produktivitas dan pelayanan akan terganggu," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya. "Oleh karena itu, investasi dalam keselamatan kerja adalah investasi dalam kualitas layanan."
Go-Ahead Singapore sendiri telah berjanji untuk bekerja sama penuh dengan otoritas dalam penyelidikan. Namun, pertanyaan yang lebih besar adalah: apakah langkah-langkah pencegahan yang ada sudah cukup? NTWU mendesak adanya penguatan mekanisme keamanan, seperti pemasangan kamera pengawas yang lebih baik, pelatihan manajemen konflik, dan sanksi tegas bagi pelaku kekerasan.
Ke depan, kasus ini bisa menjadi momentum bagi operator transportasi di seluruh kawasan untuk meninjau ulang protokol keselamatan mereka. Apakah akan ada perubahan kebijakan yang signifikan, atau justru kekerasan akan terus berulang? Publik tentu berharap agar pekerja transportasi, yang setiap hari mengantar jutaan orang, dapat bekerja tanpa rasa takut.



