Ancaman Danau Alami di Perbatasan China-Nepal Mereda, tetapi Risiko Bencana Susulan Masih Menganga
Baca dalam 60 detik
- Luas danau kiriman longsoran gletser di perbatasan China-Nepal menyusut 17,5 persen dalam dua hari, menurunkan potensi jebolnya bendungan alami.
- Tim ahli China memantau ketat dua badan air, termasuk satu yang diperkirakan seluas 120.000 meter persegi dengan kedalaman belum diketahui.
- Meski ancaman utama mereda, risiko banjir bandang susulan tetap tinggi hingga kedua danau benar-benar kering, menghambat evakuasi dan pemulihan.

Beijing, 29 Agustus 2025 โ Otoritas China mengumumkan bahwa tingkat bahaya dari danau yang terbentuk akibat longsoran gletser di perbatasan China-Nepal mulai menurun. Data satelit yang dirilis Sabtu pagi menunjukkan luas permukaan danau di Sungai Purepu Tsangpo telah menyusut menjadi sekitar 99.000 meter persegi, atau setara 14 lapangan sepak bola, berkurang 21.000 meter persegi dibandingkan Kamis lalu. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa risiko bencana sekunder di lembah tersebut masih jauh dari kata usai.
Peristiwa yang memicu kekhawatiran ini bermula dari runtuhnya gletser pada Rabu lalu, yang melepaskan gelombang dahsyat berisi batu, es, lumpur, dan puing melalui sistem sungai pegunungan Himalaya. Material tersebut menghantam kompleks pelabuhan perbatasan Gyirong yang menghubungkan Tibet dengan Nepal, menewaskan ratusan orang dan meninggalkan ribuan lainnya hilang. Hingga Sabtu pagi, jumlah korban tewas di pihak China mencapai tujuh orang, sementara 554 lainnya masih belum ditemukan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nepal, dalam keterangan yang dikutip media setempat, menegaskan bahwa risiko banjir akan tetap mengancam sampai kedua danau yang terbentuk benar-benar kering. Pernyataan ini muncul setelah otoritas China mengidentifikasi adanya badan air lain yang lebih besar di dasar longsoran gletser. Chen Hongqi, insinyur senior di Pusat Bantuan Teknis Bencana Geologi Kementerian Sumber Daya Alam China, memperkirakan luas danau tersebut melebihi 120.000 meter persegi, namun kedalamannya belum dapat dipastikan.
Upaya pemantauan terus diperketat. Perusahaan konstruksi dan penyelamatan milik negara, China Anneng, yang telah memantau danau sejak Kamis, mengerahkan tim beranggotakan 15 orang pada Jumat dengan membawa drone pengintai, stasiun satelit portabel, dan kamera pengawas bergerak. Langkah ini diambil untuk mengumpulkan data lebih akurat mengenai perilaku danau. Pada Jumat, sempat terjadi luapan air yang menghentikan sementara operasi penyelamatan, namun setelah penilaian lebih lanjut, risiko dianggap masih dapat dikelola.
Di tengah hujan gerimis Sabtu pagi, lebih dari 50 petugas penyelamat terlihat menyisir puing-puing batu dan lumpur di lokasi bencana, berusaha mencari tanda-tanda kehidupan. Tim pertama yang tiba di kompleks perbatasan Gyirong pada Jumat sore menggambarkan area tersebut hanya menyisakan reruntuhan. Kondisi berbahaya di zona utama, diperparah dengan terputusnya akses jalan dan komunikasi, masih menjadi tantangan besar bagi upaya bantuan China, demikian dilaporkan kantor berita Xinhua.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan pegunungan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Meski tidak berbatasan langsung dengan Himalaya, Indonesia memiliki banyak daerah rawan longsor dan banjir bandang, seperti di dataran tinggi Dieng atau pegunungan Jayawijaya. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam kesempatan terpisah pernah menekankan pentingnya sistem peringatan dini berbasis satelit untuk memantau danau-danau kawah dan lereng yang tidak stabil. Pelajaran dari peristiwa ini memperkuat urgensi investasi dalam teknologi pemantauan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin tidak menentu.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah kedua danau tersebut mengering sepenuhnya tanpa menimbulkan jebol yang lebih dahsyat? Atau justru akan terjadi luapan susulan yang memperlambat evakuasi dan pemulihan? Para ahli terus berupaya memetakan risiko, namun satu hal yang pasti: perubahan iklim telah mengubah lanskap bahaya di kawasan ini secara permanen, dan negara-negara di sepanjang pegunungan tinggi harus bersiap menghadapi skenario terburuk.



