Duel Panas Mayer vs Cameron: Kepala Bentrok di Timbang Badan, Sabtu Ini Adu Jotos di Birmingham
Baca dalam 60 detik
- Ketegangan memuncak saat Mayer dan Cameron saling dorong kepala dalam konfrontasi terakhir sebelum laga unifikasi kelas ringan.
- Kedua petinju sama-sama turun 6 pon di bawah batas kelas ringan, menambah intensitas jelang pertarungan yang dinanti.
- Laga ini berpotensi mengubah peta kelas ringan putri, dengan Mayer dan Cameron sama-sama mengincar status juara sejati.

Mikaela Mayer dan Chantelle Cameron nyaris terlibat aksi fisik dalam konfrontasi terakhir mereka sebelum duel unifikasi kelas ringan putri yang berlangsung Sabtu ini di Birmingham. Insiden kepala bentrok terjadi saat sesi timbang badan di BP Pulse Arena, Jumat, memicu ketegangan yang sebelumnya hanya berupa sindiran verbal.
Pertarungan yang mempertemukan juara WBA dan WBC, Mayer, melawan juara WBO, Cameron, ini menjadi salah satu laga paling dinanti di kelas ringan putri. Keduanya datang dengan rekor impresif: Mayer mengantongi 22 kemenangan dari 24 laga, sementara Cameron mencatat 22 kemenangan dari 23 pertarungan. Satu-satunya kekalahan Cameron terjadi saat rematch melawan Katie Taylor pada 2023.
Insiden di atas panggung timbang badan bermula ketika Cameron mendorong kepalanya ke arah Mayer. Petinju asal Amerika Serikat itu tidak mundur, melainkan membalas dorongan yang sama sebelum keduanya berhadapan sambil saling melontarkan kata-kata tajam. "Dia tidak mengintimidasi saya," ujar Cameron setelah petugas keamanan memisahkan mereka. "Semua omong kosong dan berani-beraninya di depan wajah saya โ lihat saja besok."
Mayer, 36 tahun, menuduh Cameron, 35 tahun, telah menyebutnya "terlalu lambat". Tuduhan itu langsung dibantah keras oleh Cameron. "Itu ada di kepalamu, kamu delusi. Tutup mulutmu, kamu sangat delusi dan mengada-ada karena kamu tidak percaya pada dirimu sendiri," respons Cameron. Setelah dipisahkan untuk kedua kalinya, Mayer menambahkan, "Saya tidak tahu Cameron seperti ini ada, dia akan membutuhkannya."
Kedua petinju sama-sama tercatat 6 pon di bawah batas kelas ringan, yakni 10 stone 8 pon (67 kg). Angka ini menunjukkan keduanya dalam kondisi puncak, siap bertarung tanpa beban berat badan. Bagi Mayer, laga ini adalah kesempatan untuk membuktikan diri setelah dua kekalahan dari Natasha Jonas dan Alycia Baumgardner. Sementara Cameron, yang pernah menjadi juara undisputed kelas ringan junior, ingin kembali ke jalur kemenangan setelah takluk dari Taylor.
Ketegangan juga mewarnai laga pendamping antara Caroline Dubois dan Amelia Moore. Dubois, juara WBC dan WBO kelas ringan, sempat mencemooh pernyataan Moore yang mengaku punya kemampuan untuk memberinya kekalahan pertama. "Saya bilang padanya saya akan memenggal kepalanya," ujar Dubois dengan nada percaya diri. Moore, yang meski baru empat kali bertarung sebagai profesional, memiliki pengalaman amatir panjang dengan tiga siklus Olimpiade bersama AS. "Ini pertarungan, Caroline. Selamat datang di permainan. Ini dunia saya, saya sudah lama di sini," balas Moore.
Bagi penggemar tinju Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana rivalitas dan mentalitas bertarung menjadi kunci di level tertinggi. Meski tidak ada petinju Indonesia yang terlibat, dinamika psikologis yang terjadi bisa menjadi pelajaran berharga bagi atlet lokal yang kerap menghadapi tekanan serupa di atas ring. Selain itu, pertarungan ini juga menjadi barometer perkembangan tinju putri dunia yang semakin kompetitif, seiring dengan meningkatnya perhatian media dan sponsor terhadap kategori ini.
Dengan segala drama yang terjadi di timbang badan, pertanyaan besarnya kini: akankah emosi yang meluap ini memengaruhi performa keduanya di atas ring? Atau justru menjadi bahan bakar yang membuat laga semakin sengit? Sabtu malam nanti akan menjadi jawabannya.



