Pola Makan dan Waktu Makan Terkait Risiko Demensia: Apa Artinya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Tiga faktor risiko yang dapat dimodifikasi—hipertensi, diabetes, dan merokok—dikaitkan dengan penundaan onset demensia hingga 13 tahun.
- Paparan gula berlebih pada 1.000 hari pertama kehidupan meningkatkan risiko Alzheimer di kemudian hari, menurut studi terhadap lebih dari 60.000 partisipan.
- Pembatasan waktu makan (time-restricted eating) pada wanita lansia menunjukkan perbaikan fungsi kognitif, meski hasil ini masih preliminer.

Lebih dari 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dan angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring penuaan populasi. Namun, hingga 45% faktor risiko demensia sebenarnya dapat dimodifikasi—artinya, perubahan gaya hidup dapat menunda atau bahkan mencegah penyakit ini. Tiga studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Neurology, npj Aging, dan uji klinis kecil menyoroti peran pola makan, waktu makan, dan pengendalian faktor risiko kardiovaskular dalam menjaga kesehatan otak.
Studi pertama, yang melibatkan 12.409 partisipan dengan masa tindak lanjut rata-rata 26,3 tahun, menemukan bahwa individu dengan tiga faktor risiko—hipertensi, diabetes, dan merokok—memiliki kemungkinan 2,69 kali lebih besar terkena demensia dibandingkan mereka yang tidak memiliki faktor risiko tersebut. Sebaliknya, mereka yang berhasil menghindari ketiga kondisi ini dapat menunda onset demensia hingga 13 tahun. Temuan ini menegaskan hubungan erat antara kesehatan kardiovaskular dan kesehatan otak, terutama di usia paruh baya.
Studi kedua, yang menganalisis data lebih dari 60.000 partisipan U.K. Biobank, memanfaatkan 'eksperimen alami' berakhirnya penjatahan gula di Inggris pada 1953. Mereka yang terpapar pembatasan gula pada 1.000 hari pertama kehidupan—periode kritis perkembangan otak—memiliki risiko lebih rendah terkena Alzheimer dan demensia secara keseluruhan. Peneliti utama, Bing Zhang, PhD, menjelaskan bahwa nutrisi awal memiliki efek jangka panjang pada kesehatan, dan studi ini meminimalkan faktor perancu sosial-ekonomi yang sering mengganggu penelitian nutrisi.
Namun, Peter Gliebus, MD, kepala neurologi di Marcus Neuroscience Institute, mengingatkan agar tidak menafsirkan berlebihan temuan penurunan risiko Alzheimer sebesar 46%. Ia menekankan bahwa jumlah kasus Alzheimer dalam studi tersebut relatif kecil, dan partisipan belum mencapai usia di mana Alzheimer paling umum terjadi. Ini adalah catatan penting agar publik tidak serta-merta menyimpulkan hubungan kausal yang kuat.
Studi ketiga, sebuah uji klinis kecil dengan 47 wanita berusia 50-79 tahun, menemukan bahwa mereka yang menjalani time-restricted eating (pola makan dengan jendela waktu maksimal 9 jam) mengalami peningkatan fungsi kognitif setelah 6 bulan, meskipun penurunan berat badan serupa dengan kelompok kontrol. Dung Trinh, MD, internis di MemorialCare Medical Group, menekankan bahwa temuan ini masih preliminer dan tidak boleh diartikan bahwa time-restricted eating mencegah demensia. Namun, ia menambahkan bahwa waktu makan mungkin merupakan faktor gaya hidup yang dapat dimodifikasi dan layak diteliti lebih lanjut.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang signifikan. Prevalensi diabetes dan hipertensi di Indonesia terus meningkat, dan keduanya merupakan faktor risiko utama demensia. Menurut Kementerian Kesehatan, sekitar 28 juta orang Indonesia menderita hipertensi, dan banyak yang tidak terdiagnosis. Selain itu, konsumsi gula masyarakat Indonesia termasuk yang tinggi di Asia Tenggara, dengan rata-rata asupan gula per kapita mencapai 52 gram per hari—melebihi rekomendasi WHO. Ini menyoroti pentingnya edukasi gizi sejak dini, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, serta pengendalian faktor risiko metabolik di usia produktif.
Para ahli menilai bahwa pendekatan pencegahan demensia harus bersifat holistik, mencakup pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres. Di Indonesia, program kesehatan masyarakat seperti Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular) dapat menjadi wahana untuk skrining dan edukasi dini. Namun, tantangan besar tetap ada: kesadaran masyarakat tentang demensia masih rendah, dan stigma terhadap gangguan kognitif sering menghambat deteksi dini.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan sebab-akibat dan menguji efektivitas intervensi pada populasi yang lebih beragam. Pertanyaan yang menggantung: apakah Indonesia siap mengintegrasikan temuan ini ke dalam kebijakan kesehatan preventif, atau akankah kita terus mengejar pengobatan yang jauh lebih mahal daripada pencegahan?



