Erykah Badu: Mendampingi Kematian adalah Seni yang Sama dengan Bernyanyi di Atas Panggung
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Erykah Badu menyamakan perannya sebagai pendamping akhir hidup dengan seni pertunjukan, menegaskan panggilan spiritualnya dalam memberikan kedamaian bagi mereka yang menghadapi ajal.
- Berawal dari pengalaman mendampingi persalinan sahabatnya selama 52 jam tanpa tidur, Badu menemukan bakat alaminya sebagai 'komite penyambut'โbaik untuk kelahiran maupun kematian.
- Badu tidak memungut biaya untuk layanan doula-nya, bahkan sedang menempuh pendidikan kebidanan untuk membuka praktik sendiri, menunjukkan dedikasi di luar panggung hiburan.

Erykah Badu, penyanyi soul berusia 55 tahun, kembali mengejutkan publik dengan pengakuannya bahwa ia aktif mendampingi orang-orang yang menghadapi kematian. Baginya, peran sebagai doula akhir hidup bukan sekadar pekerjaan sosial, melainkan bentuk seni yang setara dengan bernyanyi di atas panggung. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia menegaskan bahwa memberikan ketenangan di ranjang kematian sama pentingnya dengan menghibur ribuan penonton.
Perjalanan Badu menjadi doula berawal secara tidak sengaja pada 2011. Saat itu, ia menemani seorang sahabat yang sedang menjalani persalinan yang ternyata berlangsung selama 52 jam. Tanpa tidur dan tanpa rasa takut, Badu menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan alami untuk menjadi penopang bagi mereka yang membutuhkan. "Saya adalah komite penyambutโkontrak saya adalah dengan bayi itu," kenangnya. Dari situlah ia kemudian mengambil sertifikasi doula dan mulai melayani tidak hanya kelahiran, tetapi juga kematian.
Fenomena ini menarik karena Badu tidak memungut biaya sepeser pun untuk layanannya. Kepada Pitchfork, ia mengungkapkan bahwa pekerjaan ini murni untuk pembelajaran pribadi dan kepuasan batin. "Saya tidak merencanakan berapa banyak orang yang saya dampingi. Saya tidak meminta bayaran. Ini untuk pembelajaran saya sendiri," ujarnya. Ia bahkan sedang menempuh pelatihan untuk menjadi bidan bersertifikat dan bercita-cita membuka praktik sendiri.
Kisah Badu menyoroti meningkatnya minat terhadap peran doula akhir hidup di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, profesi ini masih relatif asing, tetapi kesadaran akan pentingnya pendampingan spiritual dan emosional bagi pasien terminal mulai tumbuh. Organisasi seperti Yayasan Rumah Harapan dan komunitas paliatif telah mulai mengadvokasi peran relawan pendamping, meskipun belum terstruktur seperti di negara Barat.
Badu sendiri melihat pekerjaannya sebagai perpanjangan dari seni. "Saya merasa hal yang sama ketika melayani orang di atas panggung, bernyanyi. Itu juga pekerjaan doula. Saya memiliki tujuan yang samaโsaya ingin ruangan menjadi satu organisme yang hidup dan bernapas," jelasnya. Baginya, baik di atas panggung maupun di samping ranjang, ia berusaha menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk merasakan emosi mereka secara utuh.
"Saya ingin memberikan kedamaian yang sama seperti saat mendampingi persalinan, tetapi untuk mereka yang pergi ke arah sebaliknya." โ Erykah Badu
Dampak dari pekerjaan Badu tidak hanya dirasakan oleh mereka yang didampinginya, tetapi juga oleh rekan-rekannya. Teyana Taylor, penyanyi yang pernah dibantu Badu saat hamil anak kedua, mengaku sangat terbantu oleh energi positif Badu. "Energinya adalah segalanya. Karena saya sangat mengandalkan meditasi, dia sangat mendukung. Itu luar biasa," kata Taylor kepada Entertainment Tonight.
Ke depan, langkah Badu membuka praktik kebidanan dapat menjadi preseden bagi para seniman lain untuk mengeksplorasi peran di luar panggung. Namun, pertanyaan yang muncul: apakah profesi doula akhir hidup akan semakin diterima di Indonesia, atau tetap menjadi praktik yang tersembunyi? Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan spiritual, mungkin sudah saatnya masyarakat melihat peran ini sebagai bagian penting dari siklus kehidupan.



