Roger Daltrey: Media Sosial Menghancurkan Peradaban, Gen Z dan Influencer Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Vokalis The Who, Roger Daltrey, melontarkan kritik pedas terhadap media sosial yang dinilainya merusak tatanan sosial, dengan menyoroti fenomena saling teriak tanpa saling mendengar.
- Dalam konsernya di Los Angeles, musisi 82 tahun itu menantang generasi muda untuk merenungkan makna pertemanan sejati di tengah budaya pencarian validasi melalui like dan follower.
- Pernyataan Daltrey muncul di tengah perdebatan global tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, yang juga relevan dengan kondisi Indonesia.

Vokalis legendaris The Who, Roger Daltrey, melontarkan kritik tajam terhadap media sosial yang dinilainya sebagai kekuatan perusak peradaban modern. Dalam sebuah konser di Yaamava' Resort Casino, Los Angeles, pekan ini, musisi berusia 82 tahun itu menyampaikan kegelisahannya tentang bagaimana platform digital justru menjadi ajang saling teriak tanpa ada yang benar-benar mendengarkan.
Daltrey, yang dikenal sebagai salah satu ikon rock paling berpengaruh sepanjang masa, secara khusus menyoroti ketergantungan generasi Z dan para influencer pada media sosial. Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan gejala yang mengkhawatirkan. "Ketika Anda memikirkannya, kita punya dunia baru bernama media sosial yang tampaknya sedang menghancurkan peradaban. Ini platform bagi semua orang untuk berteriak satu sama lain, tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan," ujarnya di hadapan penonton, seperti dilaporkan DailyMail.com.
Lebih jauh, Daltrey mengajak audiens untuk merenungkan esensi pertemanan di era digital. Ia menantang mereka yang bangga dengan jumlah likes dan pengikut untuk bertanya pada diri sendiri: berapa banyak teman sejati yang sebenarnya kita miliki? "Itu hanya egomu. Lepaskan. Tidak sepadan," tegasnya, mengingatkan bahwa di akhir hidup, teman sejati bisa dihitung dengan jari satu tangan.
Pernyataan Daltrey ini bukan sekadar omongan kosong dari seorang musisi tua yang rindu masa lalu. Ia adalah bagian dari kritik yang semakin meluas terhadap dampak media sosial terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan muda. Di Indonesia, fenomena serupa juga menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus gangguan kecemasan dan depresi di kalangan remaja, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan sosial di dunia maya. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), cyberbullying, dan kecanduan media sosial menjadi isu yang kerap dibahas dalam seminar-seminar kesehatan mental di tanah air.
Menariknya, kritik Daltrey ini datang dari seorang musisi yang pernah menjadi simbol pemberontakan remaja pada era 1960-an. The Who, band yang ia dirikan di London pada 1964 bersama Pete Townshend, John Entwistle, dan Keith Moon, dikenal dengan lagu-lagu seperti "My Generation" yang menjadi anthem generasi muda saat itu. Ironisnya, setelah menyampaikan kritiknya, Daltrey langsung membawakan lagu tersebut, seolah menegaskan bahwa semangat kritis itu tetap hidup dalam dirinya.
Di luar kritiknya terhadap media sosial, Daltrey juga kembali menegaskan klaim bahwa The Who adalah band heavy metal pertama. Pernyataan ini ia sampaikan setelah drummer Deep Purple, Ian Paice, menyebut bahwa The Who-lah yang memulai segalanya. Dalam wawancara dengan Rolling Stone, Daltrey menjelaskan bahwa The Who adalah yang pertama menggunakan amplifier besar dan mendorong rock 'n' roll melampaui sekadar lagu pop. "Jim Marshall menciptakan kabinet speaker 4x12 dan stack 100 watt untuk Pete Townshend. Semua aksi menghancurkan gitar yang membuat Jimi Hendrix terkenal sebenarnya meniru gaya Pete Townshend," ungkapnya.
Meski demikian, Daltrey menegaskan bahwa gelar tersebut tidak penting bagi warisan bandnya. "Kami hanya berbeda dari yang lain. Kami melakukannya sebelum siapa pun, tapi itu tidak penting dalam jangka panjang," katanya. Sikap rendah hati ini menunjukkan bahwa bagi Daltrey, musik dan pesan yang disampaikan jauh lebih berharga daripada sekadar label atau pengakuan.
Kritik Daltrey terhadap media sosial mengundang pertanyaan besar: apakah kita, sebagai masyarakat, sudah terlalu larut dalam dunia maya hingga melupakan esensi hubungan antarmanusia? Di Indonesia, di mana pengguna media sosial mencapai lebih dari 190 juta jiwa, pertanyaan ini menjadi semakin relevan. Apakah kita akan terus membiarkan media sosial mengendalikan cara kita berinteraksi, atau akankah kita mulai mengambil jarak dan merenungkan kembali makna kebersamaan yang sesungguhnya?



