Trump Resmi Ganti Nama Danau Ontario Jadi 'Lake America', Eskalasi Perang Dagang dengan Kanada
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS meneken perintah eksekutif yang mewajibkan badan geografi AS mengganti nama Danau Ontario menjadi 'Lake America' dalam 30 hari.
- Langkah ini beriringan dengan pengenaan tarif 50% atas barang Kanada senilai US$20 miliar, memicu balasan tarif serupa dari Ottawa.
- Penamaan ulang ini berpotensi memperkeruh hubungan bilateral dan memicu sentimen anti-AS di Kanada, dengan dampak tidak langsung pada stabilitas kawasan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi menandatangani perintah eksekutif yang menamai ulang Danau Ontario menjadi "Lake America" di seluruh dokumen resmi pemerintah federal. Keputusan yang diumumkan di Ruang Oval itu bukan sekadar simbolismeโia hadir di tengah eskalasi perang dagang dengan Kanada yang baru saja memicu tarif balasan senilai miliaran dolar.
Perintah tersebut menginstruksikan Departemen Dalam Negeri untuk memperbarui basis data nama geografis AS dalam 30 hari. Meski demikian, Washington tidak memiliki kewenangan untuk memaksa Ottawa atau komunitas internasional menggunakan nama baru itu. Langkah ini mengingatkan pada kebijakan kontroversial sebelumnya, seperti penggantian nama Teluk Meksiko menjadi "Gulf of America" tahun lalu.
Keputusan Trump muncul setelah negosiasi dagang kedua negara gagal mencapai kesepakatan. AS memberlakukan tarif 50% atas barang Kanada senilai US$20 miliar, mencakup baja, produk susu, dan peralatan pertanian. Kanada merespons dengan tarif balasan atas produk AS senilai sama, termasuk baja, peralatan rumah tangga, dan mesin pertanian. Ketegangan ini menandai titik terendah hubungan kedua negara yang selama ini menjadi mitra dagang utama.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menolak keras langkah tersebut. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa nama Danau Ontario berasal dari kata dalam bahasa masyarakat adat Huron, "oniatari:io", yang berarti "danau air bersinar", dan telah digunakan jauh sebelum Kanada maupun AS berdiri. Gubernur Ontario, Doug Ford, dengan tegas menyatakan, "Bagi warga Kanada dan dunia, ini tetap Danau Ontario, sekarang dan selamanya." Sementara Gubernur New York, Kathy Hochul, yang negaranya berbatasan langsung dengan danau itu, memastikan negaranya tidak akan menggunakan nama baru tersebut.
Para pengamat menilai langkah Trump ini lebih merupakan alat tekanan politik daripada kebijakan geografis yang substantif. Dengan menyebut Kanada "telah mencuri" dari AS selama bertahun-tahun, Trump seolah ingin memperkuat citra dirinya sebagai pembela kepentingan nasional di hadapan pemilihnya. Namun, tidak ada badan internasional yang mengatur penamaan perairan lintas batas, sehingga keputusan ini hanya berlaku internal AS.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi tidak langsung. Sebagai negara yang mengandalkan stabilitas kawasan dan perdagangan global, ketegangan antara dua ekonomi terbesar di Amerika Utara dapat memicu gejolak harga komoditas dan mengganggu rantai pasok dunia. Indonesia juga perlu mencermati bagaimana narasi nasionalisme ekonomi yang diusung Trump dapat mempengaruhi kebijakan perdagangan negara-negara besar lainnya, termasuk mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok dan Jepang.
Trump sendiri mengisyaratkan bahwa langkah ini mungkin belum berakhir. Ia bercanda tentang mengganti nama Samudra Atlantik atau Pasifik, menunjukkan bahwa kebijakan penamaan bisa menjadi senjata politik yang terus digunakan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah langkah ini akan meredakan atau malah memperdalam jurang pemisah antara AS dan Kanada? Yang jelas, diplomasi nama tidak akan menyelesaikan akar masalah dagang yang sesungguhnya.



