Danau Bendungan di Tibet Mengancam Banjir Susulan, Warga Diminta Siaga
Baca dalam 60 detik
- Otoritas China memperingatkan risiko tinggi jebolnya danau bendungan di perbatasan Tibet-Nepal yang dapat memicu banjir kedua.
- Volume air mencapai 2,5 juta meter kubik dan diperkirakan bertambah, sementara tim ahli memantau kondisi secara ketat.
- Para ilmuwan menyebut danau berpotensi mengering alami, tetapi hujan deras dan longsor susulan masih menjadi ancaman.

Otoritas China mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi jebolnya sebuah danau bendungan yang terbentuk setelah tanah longsor di dekat perbatasan Nepal-Tibet. Jika tebing danau tersebut runtuh, banjir besar kedua diperkirakan akan melanda kawasan hilir yang baru saja diguncang bencana pada Rabu lalu.
Danau tersebut terbentuk dari material longsor yang membendung aliran sungai di pertemuan Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo, dekat puncak Langtang Lirung. Hingga Jumat, volume air yang tertampung mencapai 2,5 juta meter kubik, dan jumlahnya diprediksi terus bertambah hingga tiga juta meter kubik pada akhir pekan. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi menyebabkan jebolnya bendungan alami tersebut.
Bencana banjir bandang yang terjadi sebelumnya dipicu oleh runtuhnya bagian gletser ke sungai di bawahnya, menghasilkan gelombang dahsyat yang membawa air dan puing-puing. Di sisi Tibet saja, lebih dari 550 orang dilaporkan hilang, hampir setengahnya merupakan warga asing. Sementara di Nepal, ratusan orang tewas dan ratusan lainnya masih belum ditemukan.
Pemerintah China telah mengirim tim teknis untuk memantau ketinggian air dan kondisi atmosfer di sekitar danau. Drone juga diterbangkan untuk menjatuhkan peralatan dan pasokan. Namun, upaya evakuasi sempat terhenti karena danau terus meluap tanpa henti, memaksa petugas penyelamat berhenti di sebuah desa sekitar tujuh kilometer dari Pelabuhan Gyirong, jalur darat utama yang menghubungkan Nepal dan China.
Jakob Steiner, ilmuwan geosains dari Universitas Graz yang meneliti danau bendungan di Nepal, mengatakan masih ada kemungkinan danau tersebut jebol. "Tidak semua material di gunung bisa turun, kondisinya masih tidak stabil, jadi ada kemungkinan sesuatu akan jatuh," ujarnya. Jika material jatuh ke danau atau lebih jauh ke hulu, maka masalah baru akan muncul. Ia menambahkan bahwa hujan deras dan badai yang diprediksi terjadi dalam beberapa hari ke depan dapat memperbesar volume air dan meningkatkan risiko.
Meski demikian, para ahli menilai dampak jebolnya danau kali ini tidak akan sebesar banjir Rabu lalu karena danau terbentuk baru dan tidak terlalu dalam. Namun, aliran air yang keluar dapat mengikis lereng lembah dan memicu longsor susulan. Mohd Farooq Azam, ahli glasio-hidrologi dari International Centre for Integrated Mountain Development, mengingatkan agar otoritas tetap waspada terhadap gelombang sekunder dan longsor pascabencana karena dinding lembah telah terkikis dan menjadi lebih rapuh.
Steiner juga menyebutkan bahwa secara teknis danau dapat dikeringkan secara artifisial menggunakan ekskavator, tetapi tidak ada jalan yang memadai untuk mengangkut alat berat ke lokasi. Oleh karena itu, kedua ahli sepakat bahwa kemungkinan terbaik adalah danau mengering secara alami. Azam mencontohkan banjir bandang di Chamoli dan Dharali, India, di mana danau buatan mengering perlahan tanpa dampak besar di hilir. Steiner menambahkan, "Musim pencairan akan berakhir pada Oktober, jadi situasi akan lebih tenang. Air akan berkurang, dan pada musim dingin semuanya akan membeku."
Di sisi lain, otoritas Nepal juga mengeluarkan peringatan tentang risiko penyumbatan di sepanjang Sungai Bhote Koshi dan Trishuli yang dapat memicu banjir. Warga diminta menjauhi area sungai sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap dampak perubahan iklim, terutama di kawasan pegunungan yang rentan terhadap longsor dan banjir bandang. Sistem peringatan dini dan mitigasi bencana yang efektif menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah upaya pemantauan dan evakuasi yang dilakukan China dan Nepal mampu mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu dan ancaman longsor susulan, koordinasi lintas batas dan respons cepat menjadi faktor penentu dalam menghadapi potensi bencana susulan ini.



