Banjir Bandang Nepal: Kamp Militer Nuwakot Jadi Pusat Pencarian Korban, Duka Menyelimuti
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang dan tanah longsor di Nepal tengah menewaskan puluhan orang dan memaksa ribuan mengungsi ke kamp militer Nuwakot.
- Para penyintas di kamp pencarian menghadapi trauma mendalam, dengan banyak keluarga masih menunggu kabar anggota yang hilang.
- Kondisi infrastruktur dan komunikasi yang lumpuh memperlambat upaya penyelamatan, menyoroti kerentanan kawasan terhadap bencana hidrometeorologi.

Di sebuah kamp militer di Nuwakot, Nepal tengah, ratusan warga berdesakan menanti kabar orang-orang tercinta yang hilang diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Pemandangan itu menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya bencana yang melanda kawasan tersebut, sekaligus mengungkap luka mendalam yang diderita para penyintas.
Kamp yang biasanya digunakan untuk keperluan militer itu kini berubah fungsi menjadi pusat pencarian dan pertolongan. Seorang perempuan yang menggendong bayi tampak histeris; seluruh keluarganya—ayah, suami, dan ibu—belum ditemukan. Di sudut lain, sejumlah korban luka berusaha mendapatkan perawatan medis, sementara yang lain hanya bisa bersyukur karena selamat dari amukan alam.
Seorang sopir yang bekerja di Rasuwa menuturkan bagaimana ia terlempar ke air saat banjir datang. Ia tidak ingat bagaimana bisa selamat, tetapi rasa syukurnya bercampur duka karena lebih dari 20 rekannya ikut menjadi korban. Saat ditemui, matanya berkaca-kaca dan pikirannya tampak tidak fokus, menunjukkan trauma yang masih membekas.
Di tengah hiruk-pikuk helikopter yang datang dan pergi, para pengungsi menatap penuh harap setiap kali pesawat mendarat. Mereka berharap melihat wajah keluarga yang mereka cintai. Namun, seringkali harapan itu pupus, menyisakan kepedihan yang mendalam. Seorang perempuan berusia 60-an yang dievakuasi tiba-tiba pingsan dan kemudian dinyatakan meninggal dunia—sebuah gambaran betapa rentannya para korban.
Bencana ini bukanlah yang pertama kali diliput oleh jurnalis di Nepal, namun intensitas duka yang terpancar di kamp Nuwakot menjadi salah satu yang paling memilukan. Setelah meninggalkan lokasi, tim peliput kesulitan mengirimkan laporan karena jaringan internet yang sangat buruk, memaksa mereka menempuh perjalanan tiga jam kembali ke Kathmandu.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian ekstrem. Dengan kondisi geografis yang mirip—berbukit dan rawan longsor—Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan bencana. Selain itu, akses komunikasi di daerah terpencil harus menjadi prioritas agar proses evakuasi dan bantuan dapat berjalan efektif.
Para ahli memperkirakan bahwa perubahan iklim akan meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana semacam ini. Pertanyaannya, apakah negara-negara berkembang seperti Nepal dan Indonesia mampu beradaptasi dengan cepat? Atau akankah kita terus menyaksikan adegan duka yang sama berulang kali?



