Pegadaian Genggam 153 Ton Emas, Kukuhkan Posisi Pelopor Bank Emas Nasional
Baca dalam 60 detik
- Pegadaian mengelola 153 ton emas, menegaskan dominasinya sebagai calon bank emas pertama di Indonesia.
- Lebih dari 90 persen agunan gadai perusahaan berupa emas, menjadi fondasi infrastruktur bullion bank yang matang.
- Langkah ini berpotensi mendorong inklusi keuangan berbasis emas dan menarik minat investor ritel di tengah inflasi.

PT Pegadaian (Persero) menegaskan posisinya sebagai pelopor pembentukan bank emas atau bullion bank pertama di Indonesia dengan mengelola sekitar 153 ton emas secara nasional. Angka tersebut bukan sekadar pencapaian operasional, melainkan sinyal kuat kesiapan perusahaan dalam menjalankan ekosistem layanan emas terintegrasi yang selama ini dinanti pasar.
Pemimpin Wilayah Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2, Maryono, mengungkapkan bahwa pengelolaan emas sebesar itu mencerminkan kepercayaan tinggi masyarakat dan institusi terhadap kapabilitas serta kredibilitas perusahaan. Dalam acara Media Gathering di Jakarta, Sabtu, ia menegaskan bahwa Pegadaian memiliki infrastruktur paling mumpuni untuk mengoperasikan sistem bullion bank, didukung fakta bahwa lebih dari 90 persen agunan gadai di Pegadaian berupa emas.
Infrastruktur tersebut ditopang jaringan ruang penyimpanan emas (vault) berstandar keamanan internasional terbaik di Indonesia. Portofolio layanan bank emas yang ditawarkan pun terbilang lengkap, mencakup deposito emas, pinjaman modal kerja emas, jasa titipan emas korporasi, hingga perdagangan emas. Ini berbeda dengan layanan gadai konvensional yang selama ini identik dengan Pegadaian.
Langkah ini sejalan dengan dorongan pemerintah untuk menarik emas "bawah bantal" masyarakat masuk ke ekosistem bullion. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta 20 persen emas yang disimpan masyarakat dapat dimobilisasi. Pegadaian, dengan jaringan luas dan pengalaman panjang, menjadi ujung tombak strategi tersebut.
Bagi masyarakat Indonesia, keberadaan bank emas memiliki arti strategis. Investasi emas selama ini kerap dilakukan secara tradisional—menyimpan batangan di rumah atau membeli perhiasan. Dengan adanya layanan perbankan emas resmi, masyarakat dapat menyimpan emas secara lebih aman, memperoleh imbal hasil melalui deposito emas, atau menggunakannya sebagai agunan kredit produktif. Ini membuka akses inklusi keuangan berbasis emas bagi segmen yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan konvensional.
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 memperkenalkan aplikasi super "TRING by Pegadaian". Platform digital ini dirancang untuk memudahkan transaksi ekosistem emas secara transparan, aman, dan fleksibel. Selain itu, produk Tabungan Emas Pegadaian memungkinkan investasi emas mulai dari nominal sangat kecil, sehingga masyarakat kelas menengah ke bawah pun dapat berpartisipasi.
"Produk Cicilan Emas serta Arisan Emas menjadi alternatif perencanaan keuangan kelompok atau komunitas dalam menghadapi laju inflasi," ujar Maryono, menekankan pentingnya literasi keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Maryono menambahkan bahwa sinergi dengan media menjadi kunci dalam menyampaikan edukasi literasi keuangan yang tepat dan akurat kepada masyarakat. Ini menunjukkan kesadaran Pegadaian bahwa transformasi menuju bank emas tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga membangun pemahaman publik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat Pegadaian dapat mengonversi potensi ini menjadi layanan bullion bank penuh yang diakui regulator. Dengan dukungan pemerintah dan infrastruktur yang ada, bukan tidak mungkin Indonesia memiliki bank emas pertama yang berdaya saing global. Namun, tantangan regulasi dan edukasi publik masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.



