Banjir Bandang di Tibet: Ratusan Peziarah Gunung Kailash Hilang, India Berduka
Baca dalam 60 detik
- Bencana di perbatasan Nepal-Tiongkok menewaskan ratusan orang dan membuat lebih dari seribu peziarah hilang, termasuk 178 warga India.
- Gunung Kailash, situs suci bagi empat agama, menjadi pusat perhatian karena banyak korban adalah peziarah yang sedang melakukan perjalanan spiritual.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap perubahan iklim dan memicu pertanyaan tentang keselamatan rute ziarah di masa depan.

Banjir bandang dahsyat yang dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan Himalaya telah menewaskan ratusan orang dan membuat lebih dari seribu lainnya hilang, termasuk banyak peziarah yang sedang menuju Gunung Kailash, situs suci yang dihormati oleh berbagai agama. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang Nepal dan Tiongkok, tetapi juga memicu duka mendalam di India, yang kehilangan sedikitnya 178 warganya dalam musibah tersebut.
Gunung Kailash, yang menjulang setinggi 6.400 meter di barat daya Tibet, bukan sekadar puncak gunung biasa. Bagi umat Hindu, gunung ini diyakini sebagai tempat tinggal Dewa Siwa dan Dewi Parvati. Sementara itu, penganut Buddha, Jain, dan tradisi Bon Tibet juga menganggapnya sebagai pusat spiritual dunia. Menurut geografer Emily Yeh dari University of Colorado Boulder, Kailash sering dikaitkan dengan Gunung Meru mitologis, yang dianggap sebagai pusat alam semesta dalam kosmologi Hindu dan Buddha.
Setiap tahun, ribuan peziarah dari India dan negara lain melakukan perjalanan panjang untuk mengelilingi gunung ini, sebuah ritual yang dipercaya dapat membersihkan dosa. Pemerintah India bahkan mengoperasikan ziarah resmi Kailash Manasarovar dari Juni hingga September, dengan rute melalui Uttarakhand dan Sikkim. Para peziarah biasanya berjalan kaki mengelilingi gunung sejauh 53 kilometer, sebuah perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga hari. Umat Hindu dan Buddha memutari gunung searah jarum jam, sementara pengikut Bon berlawanan arah.
Banjir bandang yang terjadi baru-baru ini merupakan konsekuensi dari runtuhnya gletser yang melepaskan puing-puing dan air dalam jumlah besar ke lembah di kedua sisi perbatasan. Kejadian serupa semakin sering terjadi seiring meningkatnya suhu global yang mengganggu stabilitas es di Himalaya. Sadhguru, seorang guru spiritual India, mengungkapkan bahwa 77 orang dari kelompoknya yang kembali dari gunung berada di pusat imigrasi Gyirong, Tibet, saat banjir melanda. Mereka kini termasuk dalam daftar orang hilang.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kekuatan alam dan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Meskipun tidak memiliki gunung setinggi Kailash, Indonesia memiliki banyak gunung berapi dan daerah rawan bencana. Pelajaran dari tragedi ini adalah perlunya sistem peringatan dini yang efektif dan manajemen risiko yang baik, terutama di daerah yang menjadi tujuan wisata religi atau spiritual. Selain itu, perubahan iklim yang memicu pencairan gletser juga relevan bagi Indonesia, yang memiliki banyak gletser di Papua yang semakin menipis.
Para ahli memperkirakan bahwa kejadian seperti ini akan semakin sering terjadi seiring dengan terus memanasnya bumi. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan Himalaya, termasuk India dan Tiongkok, akan meningkatkan upaya mitigasi dan adaptasi? Atau apakah ritual ziarah yang telah berlangsung berabad-abad ini harus diubah demi keselamatan para peziarah? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang jelas, tragedi ini meninggalkan duka mendalam dan mendorong refleksi tentang hubungan manusia dengan alam.



