Dari Dilarang Ikut Pelajaran Olahraga hingga Jadi Atlet Nasional: Kisah Nur Sabrina Suhaimi, Satu-satunya Pemain Rugby Kursi Roda Putri Singapura
Baca dalam 60 detik
- Nur Sabrina Suhaimi, pengidap penyakit saraf langka Charcot-Marie-Tooth, berhasil menembus tim nasional rugby kursi roda Singapura setelah sempat dilarang berolahraga.
- Cedera dan PHK justru menjadi pintu masuknya ke dunia rugby kursi roda, yang kini memberinya identitas baru dan kepercayaan diri.
- Dengan target ASEAN Para Games 2029 di Singapura, kisahnya menyoroti pentingnya dukungan dan pendanaan bagi olahraga paralimpik di kawasan.

Nur Sabrina Suhaimi, satu-satunya atlet nasional rugby kursi roda putri Singapura, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berprestasi. Perempuan 25 tahun yang mengidap penyakit saraf langka Charcot-Marie-Tooth ini harus menggunakan tongkat dan penyangga kaki untuk berjalan, namun di atas kursi roda khusus, ia melesat lincah dan menabrak lawan-lawannya dengan penuh semangat.
Perjalanan Sabrina tidak mudah. Sejak kecil, ia mengalami kesulitan berjalan dan sering tertinggal dari teman-temannya. Saat duduk di bangku sekolah menengah, kondisinya memburuk sehingga fisioterapis menyarankannya untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga demi keselamatan. "Saya pikir saya tidak bisa berolahraga lagi, dan itu membuat saya merasa berbeda dari yang lain," kenangnya. Diagnosis Charcot-Marie-Tooth baru ditegakkan saat usianya 16 tahun, setelah penyakitnya menyebar ke tangan dan membuat jari-jarinya sulit digerakkan.
Pukulan terbesar datang pada Mei 2024, ketika Sabrina terjatuh dan mengalami patah pergelangan kaki. Cedera itu membuatnya harus menggunakan kursi roda selama setahun penuh. Di saat yang sama, ia juga kehilangan pekerjaannya sebagai desainer grafis. "Itu titik terendah dalam hidup saya. Saya tidak bisa melakukan banyak hal, bahkan ke toilet pun harus minta bantuan ibu," tuturnya. Namun, dari keterpurukan itulah ia menemukan jalan baru. Seorang pelatih renang yang kebetulan mantan pelatih rugby kursi roda memperkenalkannya pada olahraga tersebut.
Rugby kursi roda, yang dulu dikenal dengan julukan "murderball", adalah olahraga kontak fisik yang mengandalkan benturan antarkursi roda. Bagi Sabrina, olahraga ini seperti "bumper cars" yang mengasyikkan. "Ini permainan di mana Anda bisa melepaskan kegilaan dengan cara yang legal," katanya sambil tertawa. Bergabung dengan Wheelchair Rugby Association Singapore (WRAS) yang memiliki sekitar 27 anggota, Sabrina dengan cepat menunjukkan bakatnya. Ia diklasifikasikan sebagai "high pointer" karena kemampuan fungsionalnya yang lebih baik, dan kini menjadi pemain penyerang andalan tim nasional Singapura.
Kisah Sabrina menyoroti pentingnya olahraga adaptif bagi penyandang disabilitas, tidak hanya untuk kebugaran fisik tetapi juga kesehatan mental dan kepercayaan diri. Di Indonesia, gerakan serupa mulai tumbuh, meski masih menghadapi tantangan besar dalam hal pendanaan, fasilitas, dan kesadaran publik. Organisasi seperti National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) terus berupaya mengembangkan olahraga paralimpik, namun dukungan dari pemerintah dan swasta masih sangat dibutuhkan. Kisah Sabrina bisa menjadi inspirasi bagi atlet-atlet difabel Indonesia untuk berani mengejar mimpi mereka.
Sabrina sendiri mengakui bahwa ia masih khawatir tentang perkembangan penyakitnya. "Penyakit ini neuromuskular. Selain memengaruhi mobilitas, juga bisa memengaruhi saraf dan mungkin penglihatan atau suara saya seiring bertambahnya usia," ungkapnya. Namun, tekadnya kuat. "Dalam 10 tahun, saya masih melihat diri saya sebagai seseorang yang berusaha sebaik mungkin. Jika saya tidak bisa lagi bertanding, saya akan tetap memberikan yang terbaik untuk apa pun yang saya lakukan," tegasnya.
Kini, Sabrina tidak lagi malu mengaku sebagai pengguna kursi roda. "Saya dulu malu untuk memberi tahu orang bahwa saya memakai kursi roda. Tapi sekarang, itu adalah sesuatu yang bangga saya katakan. Saya punya kursi roda, dan saya seorang pemain rugby," ujarnya. Perubahan pola pikir ini adalah kemenangan terbesarnya, dan ia berharap bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk melihat kemampuan, bukan keterbatasan.
Dengan dukungan yang semakin besar, mampukah olahraga paralimpik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melahirkan lebih banyak atlet seperti Sabrina? Pertanyaan ini menggantung, menunggu jawaban dari komitmen kita semua untuk menciptakan ekosistem olahraga yang inklusif.



