AS Bawa Isu Isolasi Ekonomi Iran ke Pertemuan G20, China Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah AS akan mengangkat isu isolasi ekonomi Iran dalam pertemuan G20 pekan depan, menyusul peringatan sanksi sekunder terhadap China dan negara lain.
- Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, diperkirakan akan membahas masalah ini dalam pertemuan bilateral di sela-sela acara, termasuk potensi dialog dengan mitranya dari China.
- Komunike bersama yang ditargetkan akan berfokus pada lima tema utama, dengan tekanan pada kepatuhan terhadap aturan sanksi AS di tengah konflik yang berkepanjangan.

Washington, D.C. โ Amerika Serikat akan menempatkan isu isolasi ekonomi Iran sebagai agenda prioritas dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 pekan depan. Langkah ini diambil di tengah konflik yang masih berlangsung antara AS-Israel dan Iran, serta meningkatnya kekhawatiran akan sanksi sekunder bagi negara-negara yang masih menjalin bisnis dengan Teheran.
Seorang pejabat senior Departemen Keuangan AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengungkapkan bahwa Washington ingin memastikan seluruh anggota G20, yang mewakili ekonomi maju dan berkembang utama dunia, mematuhi aturan sanksi yang telah diterapkan. Hal ini dinilai krusial untuk menekan ruang gerak ekonomi Iran di kancah global.
Peringatan ini sebelumnya telah disuarakan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menegaskan bahwa China dan semua negara lain kini menghadapi risiko lebih besar terkena sanksi sekunder apabila tetap berbisnis dengan Iran. Pernyataan tersebut menjadi sinyal keras bahwa AS tidak akan segan-segan memperluas sanksi kepada pihak ketiga yang dianggap membantu perekonomian Iran.
Dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Asheville, North Carolina, selama dua hari mulai pekan depan, Bessent diperkirakan akan mengangkat isu ini dalam sejumlah pertemuan bilateral di sela-sela acara. Meski demikian, belum ada kepastian apakah agenda tersebut mencakup dialog langsung dengan mitranya dari China, yang selama ini menjadi mitra dagang utama Iran.
Bagi Indonesia, isu ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai negara yang secara historis menjalin hubungan dagang dengan Iran, terutama dalam sektor energi, Indonesia perlu mencermati potensi dampak dari perluasan sanksi AS. Meski tidak secara langsung disebutkan, kebijakan ini dapat mempengaruhi arus perdagangan dan investasi di kawasan, serta memaksa negara-negara seperti Indonesia untuk menyeimbangkan hubungan diplomatik dengan AS dan mitra dagang lainnya.
Para analis menilai bahwa tekanan ekonomi yang terus meningkat ini merupakan bagian dari strategi AS untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Namun, efektivitas pendekatan ini masih dipertanyakan, mengingat Iran telah terbukti tangguh menghadapi sanksi selama bertahun-tahun. Di sisi lain, sikap China yang cenderung resisten terhadap tekanan AS dapat menjadi batu sandungan bagi upaya isolasi ekonomi Iran secara menyeluruh.
Komunike bersama yang ditargetkan akan berfokus pada lima tema utama: pertumbuhan ekonomi, keterlibatan sektor swasta, ketidakseimbangan global, tantangan utang negara, dan literasi keuangan. Namun, isu Iran dipastikan akan menjadi sorotan di sela-sela pembahasan tersebut, mengingat posisinya yang strategis dalam geopolitik energi dunia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana negara-negara G20, terutama China, akan menuruti tekanan AS. Apakah komunike bersama akan mencerminkan sikap kolektif yang tegas terhadap Iran, atau justru menjadi ajang tarik-menarik kepentingan antara Washington dan Beijing? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan ekonomi global dalam beberapa bulan mendatang.



