Pogacar Gila: Solo 50 Km, Vuelta 2025 Hampir Jadi Miliknya
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar mencatat kemenangan solo terpanjang dalam sejarah Grand Tour pada etape 4 Vuelta, memperlebar jarak di klasemen umum.
- Serangan dari jauh di pegunungan Andorra mengirim sinyal dominasi, sekaligus memupus harapan rival seperti Roglic dan Mas.
- Dengan keunggulan 3 menit 21 detik, Pogacar berpeluang besar menyabet gelar Vuelta pertamanya dan melengkapi koleksi Grand Tour.

Tadej Pogacar semakin dekat dengan mahkota Vuelta a Espana pertamanya setelah melancarkan aksi solo yang mencengangkan pada etape keempat, Selasa (19/8). Pebalap Slovenia itu melesat dari rombongan utama 50 kilometer sebelum finis di Andorra la Vella, dan tak seorang pun mampu mengejarnya. Ia menuntaskan etape pegunungan sepanjang 104,8 km dalam waktu 2 jam 40 menit 35 detik, unggul 2 menit 39 detik atas Jarno Widar yang finis kedua.
Kemenangan ini bukan sekadar etape; ini adalah pernyataan dominasi. Pogacar, yang memulai hari dengan keunggulan sembilan detik di klasemen umum, kini memimpin dengan selisih 3 menit 21 detik atas Primoz Roglic. Ini adalah kemenangan solo terpanjang dalam karier Grand Tour-nya, melampaui rekor 43 km yang ia buat di Col du Tourmalet pada Tour de France bulan lalu. Dengan performa seperti ini, mimpi untuk memimpin balapan dari awal hingga akhir—sesuatu yang terakhir kali dilakukan pada 1994—kini terasa nyata.
Etape ini memang penuh drama. Sehari sebelumnya, etape ketiga harus dihentikan karena hujan es ekstrem di Pyrenees. Pogacar sendiri mengawali etape dengan sabar, bersembunyi di peleton ketiga, sekitar 32 detik di belakang grup terdepan. Ia baru bergerak saat melewati puncak tanjakan pertama, lalu melesat di tanjakan kedua. Dalam sekejap, ia membuka keunggulan 90 detik, dan terus melebarkannya hingga hampir tiga menit sebelum grup pengejar yang dipimpin Widar dan Roglic berhasil memangkas sedikit waktu.
Bagi penggemar balap sepeda Indonesia, aksi Pogacar ini layak menjadi bahan pelajaran. Ia menunjukkan bahwa keberanian mengambil risiko di titik yang tepat bisa mengubah peta persaingan. "Saya mencoba menyerang di tanjakan dan berharap bisa bertahan sampai finis. Saya melihat celah untuk membuka jarak, dan saya berhasil. Itu sangat berat, tapi hari yang indah," ujar Pogacar, yang kini berusia 27 tahun, seperti dikutip dari BBC.
Dampak psikologis bagi rival-rivalnya sangat besar. Roglic, yang kini naik ke posisi kedua menggantikan Wout van Aert—yang finis 24 menit 35 detik di belakang—harus mengakui superioritas Pogacar. Enric Mas berada di posisi ketiga dengan selisih 3 menit 32 detik. Dengan masih banyak etape pegunungan di depan, peluang untuk mengejar tampak tipis. Apalagi, Pogacar menunjukkan kemampuan luar biasa di tanjakan dan turunan, kombinasi yang mematikan.
Etape kelima, Rabu (20/8), akan menempuh rute 173,3 km dari Falset ke Roquetes, melewati kawasan yang juga dilanda hujan es parah pada Senin. Cuaca kembali menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Namun, jika Pogacar mampu menjaga performa dan menghindari insiden, ia akan semakin kokoh di puncak. Pertanyaannya, akankah ada pebalap yang berani meniru gaya agresifnya, atau justru mereka akan bermain aman dan membiarkan Pogacar melenggang?



