DBS Perpanjang Program Cashback PayLah! hingga Akhir Tahun: Strategi Meredam Tekanan Biaya Hidup
Baca dalam 60 detik
- Bank DBS kembali menggelar program cashback PayLah! setiap Sabtu, menawarkan potongan hingga S$3 bagi 160.000 nasabah pertama.
- Periode promosi tahun ini lebih panjang lima pekan dibanding edisi sebelumnya, dengan total 2,7 juta voucher yang disiapkan.
- Langkah ini merupakan bagian dari paket dukungan senilai S$10 juta untuk membantu warga Singapura menghadapi kenaikan biaya hidup.

DBS Bank kembali menghidupkan program cashback untuk aplikasi PayLah! dengan menyediakan potongan harga hingga S$3 setiap hari Sabtu, mulai 29 Agustus hingga 19 Desember mendatang. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan biaya hidup yang dirasakan masyarakat Singapura, sekaligus menjadi upaya bank untuk mendorong transaksi nontunai di sektor usaha kecil.
Dalam periode 17 pekan, bank yang bermarkas di Singapura ini mengalokasikan 2,7 juta kesempatan cashback, atau naik sekitar 40 persen dibandingkan tahun lalu. Kuota harian dibatasi untuk 160.000 nasabah pertama yang bertransaksi di pedagang yang tergabung, mencakup toko kelontong, pasar basah, kedai kopi, dan gerai makanan kaki lima. Dengan perpanjangan durasi lima pekan lebih lama dari edisi sebelumnya, program ini dinilai sebagai respons atas permintaan masyarakat yang terus mencari cara berhemat.
Program cashback ini merupakan bagian dari inisiatif Saturday Savings yang digulirkan DBS di bawah payung dukungan senilai S$10 juta yang diumumkan awal tahun. Sebelumnya, bank sempat memberikan diskon S$3 untuk pembelian telur dan beras di supermarket Sheng Siong dan Giant setiap Sabtu hingga 29 Agustus. Kini, fokus bergeser ke ekosistem usaha kecil di lingkungan perumahan, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Kepala kelompok perbankan konsumen DBS Singapura, Calvin Ong, menggarisbawahi bahwa setiap dolar yang dihemat memiliki arti besar di tengah kenaikan harga. Ia juga menekankan bahwa program ini dirancang untuk mengalirkan manfaat kembali ke komunitas, dengan mendorong warga berbelanja di pedagang sekitar tempat tinggal. Strategi ini tidak hanya meringankan beban konsumen, tetapi juga memperkuat daya tahan usaha mikro yang kerap terpukul oleh inflasi.
Bagi Indonesia, langkah DBS ini menjadi cermin bagaimana bank di kawasan Asia Tenggara merespons inflasi dengan insentif konsumtif yang terukur. Di dalam negeri, program serupa sebenarnya sudah lazim dilakukan oleh bank-bank digital, namun cakupan dan konsistensinya jarang mencapai periode selama itu. Jika pola ini diadopsi, potensi peningkatan adopsi pembayaran QR dan loyalitas nasabah bisa menjadi efek samping yang menguntungkan bagi industri perbankan nasional.
Para pengamat menilai keberlanjutan program semacam ini akan sangat bergantung pada kemampuan bank dalam menyeimbangkan biaya promosi dengan pertumbuhan transaksi. DBS sendiri belum mengungkapkan target nilai transaksi yang ingin dicapai, tetapi dengan tambahan durasi dan kuota, jelas mereka berharap terjadi lonjakan frekuensi penggunaan PayLah! di segmen ritel. Pertanyaannya, apakah program ini akan berlanjut setelah Desember, atau justru menjadi preseden bagi bank lain untuk mengikuti jejak serupa?



