Harga Emas Antam Naik ke Rp2,74 Juta per Gram, Buyback Ikut Terkerek
Baca dalam 60 detik
- Harga logam mulia Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2,74 juta per gram pada Sabtu pagi, dengan buyback di level Rp2,6 juta.
- Kenaikan ini mencerminkan penguatan harga emas global dan permintaan domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi.
- Investor perlu mencermati selisih harga jual-beli serta pajak PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk transaksi buyback di atas Rp10 juta.

Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mencatatkan rekor tertinggi pada perdagangan Sabtu pagi, dengan patokan Rp2,74 juta per gram atau naik Rp15.000 dibandingkan posisi sebelumnya. Gerak naik ini sekaligus mengerek harga buyback ke level Rp2,6 juta per gram, menandakan tren bullish logam mulia masih berlanjut di tengah gejolak pasar keuangan global.
Berdasarkan pantauan laman resmi Logam Mulia pada pukul 09.00 WIB, harga dasar emas Antam untuk satuan terkecil 0,5 gram dibanderol Rp1,42 juta, sementara untuk pecahan 1 gram menjadi acuan utama di Rp2,74 juta. Adapun untuk ukuran besar, emas 100 gram ditawarkan Rp268,21 juta dan 1.000 gram menyentuh Rp2,68 miliar. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan harga emas dunia yang masih betah di zona aman sebagai aset lindung nilai.
Bagi investor ritel di Indonesia, momentum ini menjadi pengingat pentingnya memahami struktur biaya dalam bertransaksi emas batangan. Setiap pembelian emas Antam dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,25 persen dari harga dasar, sementara untuk transaksi buyback di atas Rp10 juta, investor akan dipotong PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen langsung dari total nilai penjualan. Artinya, selisih antara harga jual dan beli kembali yang tampak tipis bisa semakin menyempit setelah memperhitungkan beban pajak.
Fenomena ini menarik dicermati karena harga emas Antam kerap menjadi barometer minat investasi masyarakat kelas menengah atas. Dalam sepekan terakhir, tren kenaikan harga emas global yang didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik telah mendorong aliran dana masuk ke aset safe haven. Analis komoditas menilai penguatan ini masih berpeluang berlanjut, meski volatilitas jangka pendek tetap mengintai.
Dari sisi domestik, permintaan emas fisik di Indonesia biasanya meningkat menjelang momen-momen tertentu seperti pernikahan atau hari raya, namun saat ini investor juga mulai melirik emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Dengan harga yang terus menanjak, para pembeli baru perlu berhati-hati terhadap risiko koreksi, mengingat harga emas tidak selamanya bergerak linear.
Ke depan, investor disarankan untuk terus memantau pergerakan harga emas global dan kebijakan moneter The Fed, karena dua faktor tersebut akan sangat menentukan arah harga emas Antam. Pertanyaan yang menggantung adalah apakah reli ini masih memiliki ruang untuk berlanjut atau justru menjadi titik jenuh yang memicu aksi ambil untung. Yang jelas, emas tetap menjadi primadona di tengah ketidakpastian, tetapi keputusan investasi harus tetap didasarkan pada analisis yang matang dan pemahaman atas biaya-biaya yang menyertainya.



