Telaga Merdada Mengering, Petani Dieng Terjepit El Nino dan Biaya Irigasi yang Membengkak
Baca dalam 60 detik
- Volume air Telaga Merdada di Banjarnegara menyusut drastis akibat El Nino, mengancam irigasi 200 petani kentang di Dieng.
- Petani terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk bahan bakar pompa, meningkatkan ongkos produksi di tengah kemarau panjang.
- Para ahli memperingatkan risiko eutrofikasi dan mendesak penataan lahan berkelanjutan untuk menyelamatkan ekosistem telaga.

Di tengah dinginnya suhu 10 derajat Celsius yang menusuk, para petani di dataran tinggi Dieng tetap berdatangan ke Telaga Merdada, Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun, tahun ini bukan sekadar rutinitas; mereka datang dengan kecemasan yang mendalam. El Nino yang dikenal sebagai 'Godzilla' telah menggerus volume air telaga seluas 25 hektar itu, mengancam mata pencaharian ratusan petani yang bergantung padanya.
Telaga yang diapit Bukit Pangonan dan Bukit Semurup ini merupakan sumber irigasi utama bagi sekitar 200 petani dari tiga desa: Karangtengah, Butuh, dan Bakal. Setiap hari, ribuan liter air dialirkan ke lahan pertanian, terutama untuk tanaman kentang yang menjadi komoditas utama. Namun, musim kemarau tahun ini datang lebih awal dan diprediksi berlangsung hingga Oktober-November, jauh lebih panjang dari biasanya.
Zaenuri, seorang petani asal Karangtengah, mengaku telah menyedot air dari telaga selama dua bulan terakhir. Untuk lahan seluas 2.500 meter persegi, ia harus mengoperasikan pompa yang menghabiskan tujuh liter pertalite per hari, dengan harga sekitar Rp11.000 per liter. "Sepertinya, air telaga hanya cukup dua bulan mendatang," ujarnya dengan nada khawatir. Hal serupa diungkapkan Hanif dari Desa Buntu, yang menekankan bahwa pasokan air tidak bisa ditunda jika ingin produktivitas kentang tetap terjaga.
Biaya produksi yang melonjak menjadi keluhan umum. Kasno, petani lain dari Karangtengah, harus mengalirkan air sejauh satu kilometer ke kebunnya. Setiap kali pompa dioperasikan, ia membutuhkan lima liter solar seharga Rp10.000. Untuk lahan setengah hektar, diperlukan 15 kali penyiraman hingga panen. "Ongkos produksi lebih tinggi saat kemarau dibandingkan musim penghujan," katanya.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Jawa Tengah datang lebih awal, dengan puncaknya pada Agustus. Durasi kemarau diprediksi antara 5 hingga 7 bulan, dimulai sejak Mei-Juni. "Artinya, kemarau tahun ini diperkirakan bisa terjadi hingga Oktober-November mendatang," jelasnya. Ia merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas tahan kering, dan pengelolaan cadangan air yang lebih baik.
Di balik persoalan air, Telaga Merdada juga menghadapi tekanan ekologis. Riset yang dilakukan oleh Anindya Kusumawati dan L.W. Santosa dari Fakultas Geografi UGM bersama S. Hadisusanto dari UIN Sunan Kalijaga menemukan bahwa penggunaan pupuk yang intensif pada lahan kentang berpotensi memicu eutrofikasi, yaitu pengayaan nutrien berlebihan di badan air. Kondisi ini dapat merusak ekosistem danau dan mengancam keberlanjutannya.
Para peneliti menyarankan agar tata guna lahan di sekitar telaga didasarkan pada daya dukung lingkungan. Zonasi kawasan dan penerapan regulasi yang ketat menjadi kunci untuk menjaga ekosistem. "Perencanaan penggunaan lahan, seperti zonasi, sehubungan dengan daya dukung danau dan peraturan pokok penting dilaksanakan," tulis mereka dalam kajian yang dipublikasikan di Majalah Geografi Indonesia.
Bagi petani Dieng, telaga ini bukan sekadar genangan air; ia adalah denyut nadi ekonomi. Namun, dengan ancaman kekeringan yang semakin nyata dan biaya produksi yang membengkak, pertanyaan besarnya adalah: mampukah ekosistem ini bertahan, atau justru menjadi korban dari kebutuhan pangan yang terus meningkat?



