Menolak Tawaran Bezos demi Visi Sendiri: Duo Peneliti Ini Kini Punya Model AI yang Bisa 'Membaca' 5 Triliun Data Sekaligus
Baca dalam 60 detik
- Anima Anandkumar dan Benedikt Jenik menolak tawaran kepemimpinan Proyek Prometheus dari Jeff Bezos, memilih mengembangkan model AI berbasis fisika sendiri.
- Model AI mereka, yang diproses dengan teknologi neural operator, mampu menangani 5 triliun data dalam satu prompt, jauh melampaui kapasitas model bahasa seperti GPT.
- Fokus pada aplikasi enterprise seperti desain chip dan prediksi cuaca ekstrem, perusahaan ini menargetkan pasar yang mengutamakan pemahaman fisika, bukan sekadar bahasa.

Dua peneliti yang pernah ditawari posisi puncak di Proyek Prometheus—inisiatif AI yang didanai miliarder Jeff Bezos—akhirnya memilih jalan sendiri dan meluncurkan model kecerdasan buatan yang mampu memproses data dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Pada Selasa lalu, perusahaan mereka, Accelerated Understanding Inc, mengumumkan sistem yang dalam pengujian dapat menangani 5 triliun unit data dalam satu perintah, setara dengan membaca novel 'War and Peace' sebanyak lima juta kali sekaligus.
Yang membedakan model ini dari AI arus utama seperti ChatGPT adalah fondasinya yang tidak berpusat pada bahasa, melainkan pada fisika. Anima Anandkumar, profesor di Caltech, dan suaminya Benedikt Jenik, seorang insinyur infrastruktur AI, membangun sistem yang memprediksi fenomena fisik dalam ruang dan waktu, bukan sekadar merangkai kata. Mereka meninggalkan arsitektur Transformer yang menjadi dasar ChatGPT dan beralih ke teknologi neural operator yang dirintis Anandkumar sejak di Nvidia.
"Pandangan kecerdasan yang berpusat pada bahasa menempatkan manusia sebagai pusat. Menempatkan fisika sebagai pusat adalah pandangan yang berpusat pada alam," ujar Anandkumar. Pendekatan ini, menurutnya, memungkinkan AI memahami realitas spasial yang tidak terlihat oleh mata, sesuatu yang juga sedang dikejar oleh startup-startup lain di bawah arahan tokoh AI seperti Yann LeCun dan Fei-Fei Li.
Keputusan untuk menolak tawaran Prometheus bukan tanpa pertimbangan. Dalam surat penawaran yang dilihat Reuters, Anandkumar dan Jenik ditawari kepemilikan saham 35 persen, gaji tahunan gabungan hingga 2 juta dolar AS, serta pendanaan lebih dari 2 miliar dolar AS. Namun, mereka memilih tetap independen, sementara Bezos dan Vik Bajaj kemudian mengumpulkan 12 miliar dolar AS untuk Prometheus yang berfokus pada otomatisasi manufaktur sistem fisik yang kompleks.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang menarik. Di tengah gencarnya adopsi AI untuk sektor industri dan layanan publik, model yang mengutamakan fisika dapat menjadi alternatif bagi perusahaan-perusahaan yang membutuhkan simulasi cuaca, eksplorasi energi, atau desain material. Pemerintah Indonesia yang tengah mendorong transformasi digital di sektor pertambangan dan energi, misalnya, bisa memanfaatkan teknologi serupa untuk memprediksi bencana alam atau mengoptimalkan operasi tambang tanpa harus bergantung pada model matematis yang kaku.
Meski Anandkumar enggan mengungkapkan sumber pendanaan perusahaannya, ia mengaku telah menjalin kemitraan dengan penyedia komputasi yang memasok klaster perangkat keras untuk mengembangkan AI-nya. Nvidia, tempat Anandkumar pernah menjabat direktur, tidak menanggapi pertanyaan Reuters soal dukungannya. Namun, CEO Nvidia Jensen Huang adalah orang yang pertama kali mendorongnya mengejar ide ini, bahkan terkesan dengan proyek awal yang mempercepat prediksi cuaca dengan akurasi tinggi.
"Dia sangat bersemangat," kenang Anandkumar. Saat ia bercerita bahwa AI bisa 'memakan' pekerjaan para ahli teori fisika, Huang menjawab, "Saya ingin ia memakan semua pekerjaan mereka." Pernyataan ini menegaskan ambisi besar di balik teknologi ini, yang tidak hanya menyaingi model bahasa, tetapi juga berpotensi menggeser peran manusia dalam berbagai bidang ilmiah dan industri.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI berbasis fisika akan berkembang, tetapi seberapa cepat ia dapat diadopsi di pasar seperti Indonesia yang sedang membangun infrastruktur digital. Dengan fokus pada solusi enterprise, Accelerated Understanding mungkin saja menjadi pemain kunci dalam revolusi AI generasi berikutnya—dan keputusan Anandkumar untuk berjalan sendiri bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya visi jangka panjang di tengah godaan modal besar.



