Dana Obligasi Jepang Kebanjiran Investasi Asing, Imbal Hasil Tinggi Jadi Magnet Baru
Baca dalam 60 detik
- Arus dana masuk ke ETF obligasi Jepang mencapai rekor 1,5 miliar dolar AS pada tahun ini, didorong imbal hasil yang menarik bagi investor Eropa.
- Kenaikan suku bunga Bank of Japan dan pelemahan yen membuat obligasi pemerintah Jepang semakin kompetitif dibanding aset global lainnya.
- Meski pasar obligasi Jepang bernilai sekitar 8 triliun dolar AS, aliran dana asing masih kecil dan investor tetap waspada terhadap potensi kenaikan imbal hasil lebih lanjut.

LONDON โ Arus investasi ke dalam dana obligasi Jepang menembus rekor baru sepanjang tahun ini, seiring imbal hasil yang tinggi menarik minat investor global, terutama dari Eropa. Namun, kekhawatiran akan penurunan harga obligasi masih membayangi langkah para pelaku pasar.
Data Morningstar pada Selasa (25/8) menunjukkan ETF obligasi Jepang yang berbasis di Eropa mencatat arus masuk bersih 1,5 miliar dolar AS hingga tahun berjalan, melonjak dari 550 juta dolar AS sepanjang 2025. Angka ini mencerminkan meningkatnya selera investor Eropa terhadap aset pendapatan tetap dan upaya diversifikasi dari pasar Amerika Serikat.
BlackRock, manajer aset terbesar dunia, melaporkan ETF obligasi pemerintah Jepang (JGB) yang berbasis di Eropa menerima 1,4 miliar dolar AS tahun ini, terutama dari investor kekayaan besar. Angka itu berbalik dari arus keluar 58 juta dolar AS pada tahun lalu. Sementara itu, BNY Mellon, bank kustodian terbesar global, mencatat akun non-Jepang telah menempatkan 4,7 miliar dolar AS ke JGB tahun ini, mendekati total 5,1 miliar dolar AS sepanjang 2025. Arus bersih pada Juli saja mencapai 2,8 miliar dolar AS, tertinggi dalam lebih dari setahun.
"Dari perspektif investor asing, arus masuk ke JGB sebenarnya dimulai pada 2025 dan trennya berlanjut," ujar Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior Asia-Pasifik di BNY. "Ketika imbal hasil JGB naik, instrumen ini menjadi salah satu pilihan investasi." Chong menambahkan, investor asing tertarik karena imbal hasil efektif lebih tinggi setelah melakukan lindung nilai mata uang, mengingat suku bunga di Eropa dan AS lebih tinggi dibanding Jepang. Pembeli asing terbesar adalah perusahaan asuransi, lembaga pemerintah, dan bank sentral.
Imbal hasil JGB tenor 10 tahun mencapai 2,93 persen awal bulan ini, tertinggi sejak pertengahan 1990-an menurut data LSEG. Angka itu naik dari 2,1 persen di awal tahun dan 0,1 persen pada awal 2022. Kenaikan ini terjadi setelah lebih dari satu dekade inflasi nol dan pembelian obligasi besar-besaran oleh bank sentral yang menjaga imbal hasil di sekitar nol persen. Kini, imbal hasil mendekati level psikologis 3 persen, didorong oleh normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ), kekhawatiran fiskal, dan pelemahan yen yang signifikan.
Meski aliran dana mengesankan, volumenya masih kecil dibanding ukuran pasar yang mencapai 8 triliun dolar AS. Banyak investor tetap waspada terhadap potensi imbal hasil naik lebih lanjut. Ales Koutny, kepala suku bunga internasional di Vanguard London, mempertahankan posisi short pada JGB jangka pendek dengan ekspektasi BoJ akan menaikkan suku bunga relatif tajam. Namun, ia menilai imbal hasil JGB tenor 30 tahun yang sudah di atas 4 persen mulai menarik. Sementara itu, Pictet Wealth Management masih underweight JGB karena khawatir imbal hasil akan terus naik. Laureline Renaud-Chatelain, kepala strategi pendapatan tetap Pictet, mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan menaikkan eksposur ke level netral jika yen stabil dan pasar mulai memperhitungkan kenaikan suku bunga BoJ lebih lanjut. "Sejak awal Agustus, semuanya mulai berjalan pada tempatnya," katanya.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran penting tentang diversifikasi. Imbal hasil obligasi negara Indonesia (SUN) tenor 10 tahun yang berada di kisaran 6-7 persen masih jauh lebih tinggi, namun risiko nilai tukar dan inflasi perlu diperhitungkan. Arus masuk ke JGB menunjukkan bahwa investor global mulai melirik pasar obligasi Asia di luar China dan India, yang bisa menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi domestik. Namun, perlu diingat bahwa kebijakan moneter BoJ yang hawkish dapat memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk Indonesia, melalui dampaknya terhadap yen dan aliran modal.
Bank of Japan dijadwalkan bertemu kembali pada September dan diperkirakan akan menaikkan suku bunga. Jika itu terjadi, imbal hasil JGB bisa menembus 3 persen, menarik lebih banyak dana asing. Namun, pertanyaannya adalah apakah daya tarik ini akan bertahan mengingat fundamental ekonomi Jepang yang masih rapuh. Apakah investor Eropa akan terus berbondong-bondong masuk, atau justru berbalik arah ketika BoJ mencapai puncak siklus pengetatannya? Keputusan BoJ bulan depan akan menjadi penentu arah pasar obligasi Jepang dalam beberapa bulan ke depan.



