Infrastruktur Pangkalan Kapal Induk di Lampung Dikebut, TNI AL Pastikan Rampung Sebelum KRI Gajah Mada Tiba
Baca dalam 60 detik
- TNI AL menyatakan pangkalan kapal induk di Lampung akan selesai akhir September 2026, seiring kedatangan KRI Gajah Mada yang dijadwalkan pertengahan bulan yang sama.
- Kapal eks-ITS Giuseppe Garibaldi akan berganti nama dan bendera menjadi KRI Gajah Mada pada 25 September 2026, dengan Presiden Prabowo dijadwalkan hadir dalam seremoni pengukuhan.
- Perjalanan kapal dari Italia menempuh rute Terusan Suez dan Laut Merah dengan pengawalan fregat Italia, menjadi tonggak historis bagi AL Indonesia yang baru pertama kali memiliki kapal induk.

JAKARTA, LYNDHUB โ TNI Angkatan Laut memastikan pangkalan kapal induk di Lampung akan selesai tepat waktu untuk menyambut kedatangan KRI Gajah Mada, yang dijadwalkan tiba di Indonesia pada pertengahan September 2026. Kepastian ini disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana TNI Tunggul, di sela-sela persiapan akhir yang tengah berlangsung di lokasi pangkalan.
Menurut Tunggul, proses finishing infrastruktur pangkalan masih terus dikebut dan ditargetkan rampung sebelum kapal eks-Italia itu merapat. "Untuk kesiapan infrastruktur pangkalan di Lampung, progress finishing yang diharapkan saat kedatangan Garibaldi ke Indonesia sudah rampung," ujarnya di Jakarta, Selasa. Namun, ia enggan membeberkan rincian fasilitas yang tengah dibangun, hanya menegaskan bahwa pangkalan akan beroperasi penuh pada akhir September 2026.
Kedatangan kapal induk pertama Indonesia ini menjadi tonggak bersejarah bagi matra laut. Kepala Staf TNI AL, Laksamana Muhammad Ali, sebelumnya mengungkapkan bahwa kapal yang masih bernama ITS Giuseppe Garibaldi dan berbendera Italia itu akan berlayar dari Italia pada Senin malam pukul 22.00 waktu setempat. Perjalanan diperkirakan memakan waktu lebih dari 20 hari, melintasi Terusan Suez dan Laut Merah dengan pengawalan fregat-fregat Italia.
"Kami mohon doanya, malam ini mungkin jam 22, KRI Gajah Mada akan meninggalkan Italia menuju Indonesia," kata Ali dalam acara kunjungan di Kraton Majapahit, Jakarta, Senin. Ia menambahkan, kapal ini merupakan hibah antarpemerintah dari Italia, dan setelah tiba di Indonesia akan resmi berganti nama serta bendera menjadi KRI Gajah Mada.
Rencananya, pergantian bendera dan nama akan dilakukan pada 25 September 2026 dalam sebuah seremoni yang dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. "Tanggal 25 bisa pengukuhan atau pergantian bendera menjadi bendera Indonesia dan penggantian nama dari Garibaldi menjadi (KRI) Gajah Mada. Rencananya Bapak Presiden akan ikut meresmikan," ujar Ali.
Bagi Indonesia, kehadiran kapal induk ini bukan sekadar simbol kebanggaan, melainkan lompatan strategis dalam postur pertahanan maritim. Dengan wilayah perairan yang luas dan posisi geografis di jalur pelayaran dunia, kepemilikan kapal induk memberikan kapabilitas proyeksi kekuatan yang sebelumnya hanya dimiliki segelintir negara. Para analis menilai langkah ini sejalan dengan visi poros maritim dunia yang digaungkan pemerintah, sekaligus memperkuat deterensi di kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompetitif.
Namun, tantangan besar menanti. Pengoperasian kapal induk membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih, anggaran pemeliharaan yang besar, serta integrasi sistem senjata yang kompleks. TNI AL harus memastikan kesiapan awak kapal dan dukungan logistik agar kapal ini tidak menjadi "macan kertas" di tengah dinamika keamanan regional. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana kesiapan Indonesia dalam mengoperasikan kapal induk secara mandiri, dan bagaimana dampaknya terhadap anggaran pertahanan di masa mendatang?
Dengan segala persiapan yang berjalan, publik menantikan momen bersejarah ini. Keberhasilan KRI Gajah Mada berlayar dan beroperasi akan menjadi ujian nyata bagi modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia. Akankah kapal induk ini menjadi penjaga kedaulatan maritim yang efektif, atau justru menjadi beban anggaran yang berkepanjangan? Waktu yang akan menjawab.



