Nvidia Hadapi Ujian Berat: Chip Rubin dan Bayang-Bayang Pendanaan AI
Baca dalam 60 detik
- Nvidia akan mengumumkan laporan keuangan kuartal kedua, dengan fokus pada transisi ke chip Rubin dan keberlanjutan belanja AI.
- Kekhawatiran investor muncul terkait skema pendanaan melingkar yang melibatkan Nvidia, yang berpotensi menggelembungkan permintaan AI.
- Keberhasilan Rubin menjadi kunci bagi Nvidia untuk mempertahankan dominasi di tengah persaingan dari chip khusus Big Tech dan prosesor AMD serta Intel.

Nvidia memasuki pekan yang menentukan: laporan keuangan kuartal kedua yang akan dirilis Rabu (28/8) menjadi ujian apakah chip generasi terbaru, Rubin, mampu mempertahankan momentum pertumbuhan perusahaan di tengah skeptisisme investor terhadap keberlanjutan ledakan belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Selama ini, Nvidia menjadi pemain utama yang paling diuntungkan dari perlombaan membangun infrastruktur AI. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, harga sahamnya justru tertekan. Penyebabnya, perusahaan yang dipimpin Jensen Huang ini gencar mengucurkan miliaran dolar kembali ke ekosistem AI, memicu kekhawatiran tentang praktik yang disebut sebagai "kesepakatan melingkar" (circular deals) yang berpotensi menggelembungkan permintaan dan mendistorsi sinyal ekonomi yang lebih luas.
Data LSEG menunjukkan, para analis memperkirakan pendapatan kuartal kedua Nvidia akan melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi sekitar 92,18 miliar dolar AS. Ini akan menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam tujuh kuartal terakhir, ditopang oleh penjualan pusat data yang meningkat lebih dari dua kali lipat. Namun, perhatian investor justru tertuju pada seberapa cepat Nvidia mampu mengalihkan pelanggan dari chip Blackwell ke prosesor generasi berikutnya, Vera Rubin, yang pengirimannya dijadwalkan mulai musim gugur tahun ini.
Belanja besar-besaran untuk pusat data oleh raksasa teknologi diperkirakan menembus 730 miliar dolar AS tahun ini. Selain itu, perusahaan cloud kecil yang fokus pada AI, seperti CoreWeave yang didukung Nvidia, juga ikut menggelontorkan dana besar. Situasi ini semakin memicu pengawasan setelah Nvidia pada bulan ini membantu mengatur pembiayaan senilai 500 miliar dolar AS dari enam lembaga keuangan besar AS untuk pelanggannya yang membangun infrastruktur AI. Pekan lalu, Nvidia juga setuju menjamin hingga 105 miliar dolar AS untuk membantu OpenAI menyewa pusat data raksasa di Ohio selama 20 tahun—salah satu komitmen pendanaan AI terbesarnya.
Brian Mulberry, kepala strategi pasar di Zacks Investment Management yang memegang saham Nvidia, menilai langkah ini menjadikan Nvidia semacam "bank sentral" di ranah AI. "Risiko yang sesungguhnya adalah eksposur AI total tanpa diversifikasi; kunci keberhasilan adalah tingkat adopsi alat AI harus terus tumbuh," ujarnya. Sementara itu, Jensen Huang membantah tuduhan pendanaan melingkar. Menurutnya, Nvidia hanya memanfaatkan kas yang melimpah untuk mendukung pelanggan yang berkembang pesat namun masih merugi. Huang menegaskan, jaminan untuk OpenAI bukanlah siklus pendanaan yang tidak sehat karena OpenAI akan membayar sewa, dan Nvidia hanya membantu membiayai serta mengamankan pusat data, pasokan listrik, dan fasilitas yang akan menampung chip-nya selama puluhan tahun.
Keberhasilan peluncuran chip Rubin menjadi krusial di tengah meningkatnya persaingan dari chip khusus buatan Big Tech serta prosesor Intel dan AMD, terutama untuk tugas inferensi—proses AI mengotomatisasi tugas dan merespons pertanyaan. Analis Morgan Stanley memperkirakan chip Rubin dapat menyumbang penjualan hampir 9 miliar dolar AS pada kuartal ketiga yang berakhir Oktober. "Kami memperkirakan perusahaan akan menunjukkan Rubin sebagai pembuka peningkatan besar dalam ekonomi pabrik AI dibandingkan platform Blackwell yang sudah unggul," tulis mereka dalam riset, seraya menambahkan bahwa butuh waktu untuk menilai apakah Nvidia bisa merebut pangsa pasar dari AMD dan chip khusus yang dikembangkan perusahaan teknologi besar.
Untuk kuartal ketiga, analis memperkirakan Nvidia akan memproyeksikan kenaikan penjualan sebesar 82,8% menjadi 104,20 miliar dolar AS. Margin kotor yang disesuaikan untuk kuartal kedua dan ketiga diperkirakan tetap bertahan di kisaran 75%. Angka-angka ini akan menjadi sorotan utama dalam konferensi pers usai rilis laporan keuangan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan pasar digital yang tumbuh pesat dan mulai mengadopsi AI di berbagai sektor—dari fintech, e-commerce, hingga pemerintahan—keberlanjutan pasokan chip dan stabilitas harga menjadi perhatian. Jika Nvidia berhasil mempertahankan pertumbuhan, investasi di pusat data regional, termasuk yang digagas oleh perusahaan teknologi Indonesia, bisa semakin deras. Sebaliknya, jika terjadi koreksi tajam pada valuasi Nvidia, efeknya bisa terasa melalui perlambatan investasi global di infrastruktur digital yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi digital Asia Tenggara.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Rubin akan menjadi katalis yang mengangkat kembali harga saham Nvidia, atau justru menjadi awal dari koreksi besar setelah ledakan AI yang selama ini dianggap tak terbendung? Jawabannya akan menentukan arah industri AI global—dan juga nasib investasi teknologi di kawasan ini.



