Prabowo: Negara Hadir, Karhutla Ditargetkan Tuntas dalam Dua Pekan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengerahkan ribuan personel, puluhan helikopter, serta ratusan pompa air untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah, dengan target penyelesaian dalam satu hingga dua minggu.
- Penanganan bencana kini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk TNI-Polri, BNPB, dan kementerian terkait, sebagai bukti kesiapan negara menghadapi kondisi iklim ekstrem.
- Keberhasilan operasi darurat ini akan menjadi ujian kredibilitas pemerintah dalam melindungi masyarakat dan lingkungan, sekaligus menentukan kesiapan menghadapi bencana serupa di masa depan.

Presiden Prabowo Subianto memastikan negara hadir secara penuh dalam penanganan bencana alam dan kebakaran hutan yang melanda sejumlah daerah, dengan mengerahkan sumber daya besar-besaran dan menargetkan karhutla dapat dikendalikan dalam tempo satu hingga dua pekan ke depan. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela peluncuran program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/2).
Dalam sambutannya, Kepala Negara menggarisbawahi bahwa operasi pemadaman tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terkoordinasi antara pemerintah pusat, daerah, TNI-Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. Menurut dia, kolaborasi ini merupakan wujud nyata dari komitmen negara untuk melindungi warganya di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim.
Pengerahan kekuatan yang disebutkannya mencakup puluhan helikopter, belasan pesawat, ratusan bor air, ratusan pompa air, hingga ribuan personel gabungan. Langkah ini, tuturnya, ditempuh untuk mempercepat pengendalian api sekaligus mencegah meluasnya dampak asap yang kerap mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Presiden mengaku telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi terdampak dan menilai seluruh unsur bekerja secara efektif.
Presiden juga menyoroti keberhasilan pemerintah dalam merespons bencana di Aceh dan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyebut reaksi di kedua wilayah tersebut berlangsung cepat dan masif, sebuah bukti bahwa aparat negara mampu bergerak melampaui perkiraan banyak pihak. "Di mana-mana negara kita hadir," tegasnya, menegaskan bahwa kehadiran negara bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata di lapangan.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat infrastruktur ketahanan bencana nasional. Namun, para pengamat menilai keberhasilan jangka pendek harus diimbangi dengan perbaikan sistem peringatan dini dan pengelolaan lahan gambut yang lebih ketat, terutama di wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan. Tanpa itu, siklus karhutla tahunan berisiko terulang, meski respons darurat semakin sigap.
Bagi masyarakat Indonesia, jaminan negara hadir memberikan secercah harapan di tengah kekhawatiran akan dampak kesehatan dan ekonomi akibat kabut asap. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah operasi besar-besaran ini akan berkelanjutan atau hanya bersifat musiman. Ke depannya, publik menanti konsistensi pemerintah dalam pencegahan, bukan sekadar pemadaman, agar bencana serupa tidak lagi menjadi momok tahunan.



