Kebakaran Sade: Warisan Budaya Sasak Hangus, Pariwisata Lombok Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Api yang diduga berasal dari korsleting listrik meludeskan 125 rumah di Sade, Lombok, dan menghancurkan ratusan manuskrip lontar serta benda pusaka.
- Insiden ini menyoroti rapuhnya kawasan adat di tengah komersialisasi pariwisata yang tidak diimbangi mitigasi bencana.
- Pemerintah pusat dan daerah berjanji merekonstruksi, namun pelajaran dari kebakaran serupa di Sukabumi menunjukkan tantangan pemulihan yang panjang.

Kebakaran besar yang melanda Dusun Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu malam (22/8) tidak hanya menghanguskan 125 rumah, tetapi juga memusnahkan warisan budaya Suku Sasak yang tak ternilai. Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan kritis tentang bagaimana melindungi permukiman adat di tengah gempuran pariwisata yang kian masif.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, api yang diduga dipicu korsleting listrik meluluhlantakkan hamlet seluas 5,5 hektare itu dan memaksa lebih dari 300 warga mengungsi. Proses pemadaman melibatkan petugas pemadam, polisi, dan TNI, dan berhasil dijinakkan Minggu dini hari. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang meninjau lokasi memastikan tidak ada korban jiwa, namun ia mengakui bahwa rekonstruksi fisik hanyalah satu sisi; sisi lain yang lebih pelik adalah pemulihan identitas budaya.
Dusun Sade, yang terletak sekitar 30 kilometer dari Mataram, telah dihuni Suku Sasak selama berabad-abad. Sejak ditetapkan sebagai salah satu dari 15 kawasan konservasi dan pariwisata prioritas pada 1989, dusun ini menjadi magnet wisatawan, dengan kunjungan ratusan orang setiap hari. Namun, popularitas itu datang dengan harga: infrastruktur listrik yang ditambah untuk melayani wisatawan justru menjadi pemicu kebakaran, menurut Muhammad Ali Akbar, kepala Lombok Heritage and Science Society (LHSS).
Ali menjelaskan bahwa struktur rumah tradisional Sasak yang terbuat dari anyaman bambu dan alang-alang, meskipun ramah lingkungan dan tahan gempa, sangat mudah terbakar. Ditambah jarak antar rumah yang sempit, api dengan cepat menjalar. Ia menyayangkan bahwa elektrifikasi yang dilakukan tanpa mempertimbangkan arsitektur lokal telah melipatgandakan risiko. "Secara tidak langsung, komersialisasi pariwisata yang tidak diimbangi mitigasi bencana di situs warisan budaya telah memperbesar risiko," ujarnya.
Yang lebih memilukan, kebakaran ini menghancurkan apa yang disebut Ali sebagai "gudang hidup" budaya Sasak: ratusan naskah lontar, keris, serta alat musik tradisional seperti gendang beleq dan gong kuno. "Keaslian visual desa berusia berabad-abad ini hilang seketika, meninggalkan trauma budaya bagi masyarakat Sasak yang kehilangan ruang sakral tempat tradisi mereka lahir," kata Ali. Bagi masyarakat adat, benda-benda tersebut bukan sekadar artefak, melainkan entitas yang hidup dan terhubung dengan leluhur.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan siap berkoordinasi untuk pemulihan, dengan prioritas utama pada keselamatan warga. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan? Kebakaran di Sade bukan kasus isolasi. Pada Juli lalu, Kasepuhan Cipta Mulya di Sukabumi juga dilalap api, memengaruhi 400 jiwa. Pola yang sama terlihat: kawasan adat yang menjadi tujuan wisata justru rentan karena infrastruktur modern dipaksakan tanpa adaptasi.
Para pemerhati budaya mendesak adanya regulasi yang lebih ketat mengenai pembangunan infrastruktur di kawasan adat, termasuk standar kelistrikan yang aman dan ramah terhadap arsitektur tradisional. Selain itu, perlu ada skema asuransi atau dana abadi untuk warisan budaya, sehingga ketika bencana datang, pemulihan tidak hanya berfokus pada fisik tetapi juga pada revitalisasi tradisi. Apakah pemerintah daerah dan pusat akan belajar dari peristiwa ini, atau justru membiarkan pariwisata terus berjalan tanpa pagar pengaman? Jawabannya akan menentukan apakah Sade akan bangkit sebagai destinasi yang lebih tangguh, atau menjadi pelajaran pahit yang terlupakan.



