Starcloud Kumpulkan US$250 Juta untuk Pusat Data di Orbit, Valuasi Capai US$2,3 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Startup pusat data orbital Starcloud meraup pendanaan segar US$250 juta, menandai lompatan valuasi dua kali lipat dalam lima bulan.
- Investor baru seperti Nvidia dan Cisco Investments ikut serta, menegaskan minat raksasa teknologi pada infrastruktur AI di luar angkasa.
- Dana tersebut akan mempercepat produksi satelit dan modul komputasi orbital yang dirancang tahan radiasi, membuka peluang bagi kolaborasi global.

Starcloud, perusahaan rintisan yang membangun pusat data di orbit, mengumumkan perolehan pendanaan baru senilai US$250 juta pada Jumat (21/8). Putaran ini menempatkan valuasi perusahaan di angka US$2,3 miliar, hampir dua kali lipat dari penilaian sebelumnya yang tercatat pada Maret lalu. Langkah ini menegaskan kembali geliat investasi di sektor antariksa, terutama setelah gebrakan IPO SpaceX yang berhasil menyedot perhatian pasar.
Pendanaan kali ini dipimpin oleh Manhattan West, dengan kehadiran investor anyar seperti Nvidia dan Cisco Investments. Para pendukung lama seperti Benchmark, EQT, dan Soma turut serta dalam putaran ini. Masuknya nama-nama besar di industri teknologi memberikan sinyal kuat bahwa infrastruktur komputasi di luar angkasa bukan lagi sekadar wacana, melainkan arena kompetisi baru yang serius.
Sejak didirikan pada 2024, Starcloud telah mengumpulkan total dana mencapai US$450 juta. Pada Maret lalu, perusahaan ini baru saja mengantongi US$170 juta dengan valuasi US$1,1 miliar. Lonjakan valuasi yang signifikan dalam waktu singkat mencerminkan optimisme investor terhadap potensi pasar pusat data orbital yang diproyeksikan tumbuh seiring meledaknya kebutuhan komputasi AI.
Dana segar tersebut akan dialokasikan untuk memperluas kapasitas manufaktur, memperdalam kolaborasi teknik dengan Nvidia, serta pengadaan komponen untuk produk-produk terbaru. Salah satu proyek unggulan yang tengah digarap adalah modul Nvidia Space-1 Vera Rubin, yang dirancang khusus untuk bertahan terhadap radiasi dan kondisi ekstrem di orbit. Kerja sama ini menandai langkah konkret Nvidia dalam merambah infrastruktur komputasi di luar atmosfer Bumi.
Ambisi Starcloud tidak main-main. Perusahaan menargetkan membangun konstelasi 88.000 satelit dengan kapasitas komputasi orbital mencapai 20 gigawatt. Untuk mendukung produksi massal, mereka tengah membangun pabrik seluas 100.000 kaki persegi di Woodinville, Washington, yang akan memproduksi wahana antariksa generasi terbaru, Starcloud-3. Langkah ini menunjukkan keseriusan mereka dalam mewujudkan visi pusat data di luar angkasa sebagai solusi atas keterbatasan lahan dan energi di Bumi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, kehadiran pusat data orbital dapat menjadi alternatif bagi kebutuhan komputasi nasional yang terus meningkat, terutama untuk layanan AI dan big data. Namun, di sisi lain, Indonesia perlu memperkuat regulasi dan infrastruktur telekomunikasi agar dapat memanfaatkan teknologi ini secara optimal. Keterlibatan investor global seperti Nvidia juga menjadi indikasi bahwa persaingan di sektor ini akan semakin ketat, dan negara berkembang harus siap beradaptasi.
Manhattan West, melalui Lauren Selig, juga telah bergabung sebagai pengamat di jajaran direksi Starcloud. Langkah ini memperkuat tata kelola perusahaan di tengah ekspansi yang agresif. Dengan dukungan investor kelas kakap, Starcloud tampaknya berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan ambisinya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Starcloud dan para pesaingnya akan menyeimbangkan biaya peluncuran satelit yang masih tinggi dengan harga layanan komputasi yang kompetitif. Akankah pusat data orbital menjadi tulang punggung infrastruktur digital global dalam satu dekade ke depan, atau hanya akan menjadi niche bagi segelintir korporasi besar? Waktu yang akan menjawab, namun langkah Starcloud kali ini jelas menjadi penanda bahwa perlombaan menuju komputasi antariksa telah benar-benar dimulai.



