Sengketa Podium GP Monako Berlanjut: Pengadilan Banding FIA Putuskan Nasib Pierre Gasly
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan banding internasional FIA akan bersidang di Paris untuk menentukan peringkat final GP Monako, menyusul protes McLaren dan Red Bull atas keputusan yang mengembalikan podium Pierre Gasly.
- Keputusan awal yang membatalkan penalti Gasly dinilai membuka ketidakadilan prosedural, terutama bagi pembalap yang menjalani penalti di lintasan seperti Oscar Piastri.
- Hasil sidang berpotensi mengubah klasemen dan menetapkan preseden penting dalam penegakan aturan Formula 1, dengan implikasi bagi tim dan pembalap di masa depan.

Paris, 24 Agustus โ Mahkamah Banding Internasional FIA akan menggelar sidang tertutup di ibu kota Prancis pada Selasa (26/8) untuk memutuskan secara final siapa yang berhak menempati posisi ketiga Grand Prix Monako, lebih dari dua bulan setelah balapan berlangsung. Sengketa yang melibatkan pembalap Alpine, Pierre Gasly, dan Red Bull, Isack Hadjar, ini berpotensi mengubah peta klasemen dan menimbulkan preseden hukum baru dalam olahraga jet darat.
Kronologi bermula pada 7 Juni lalu, ketika Gasly finis ketiga di sirkuit jalan raya Monte Carlo. Namun, dua penalti lima detik akibat pelanggaran kecepatan di jalur pit yang dijatuhkan setelah balapan membuatnya turun ke posisi ketujuh. Hadjar yang sempat naik ke podium pun harus mengembalikan trofi setelah Alpine mengajukan bukti adanya kesalahan pencatatan waktu, dan penalti tersebut dicabut pada 12 Juni.
Keputusan itu memicu reaksi berantai. McLaren dan Red Bull mengajukan banding ke pengadilan internasional pada 16 Juni, dengan dalih bahwa pembatalan penalti Gasly menciptakan ketidakadilan prosedural. McLaren, khususnya, merasa dirugikan karena pembalapnya, Oscar Piastri, yang turun dari posisi keempat ke kelima, telah menjalani penalti serupa di tengah balapan tanpa bisa mengajukan banding. Berbeda dengan Gasly yang tidak menjalani penalti di lintasan, Piastri kehilangan waktu berharga di pit dan terpaksa mengubah strategi balapnya.
Kepala tim McLaren, Andrea Stella, dalam wawancara di GP Belanda akhir pekan lalu, menegaskan bahwa banding ini memiliki dua tujuan. Pertama, mengkaji ulang proses setelah balapan di Monako demi keadilan bagi semua kompetitor. Kedua, melindungi kepentingan McLaren yang merasa dirugikan secara materiil karena telah menjalani penalti yang tidak bisa diajukan banding, sehingga kehilangan poin penting dalam kejuaraan.
"Kami berpikir proses yang terjadi setelah balapan di Monako perlu ditinjau ulang karena dari sudut pandang keadilan bagi semua kompetitor, fakta bahwa penalti dihapus menimbulkan beberapa elemen kekhawatiran yang signifikan," ujar Stella. "Ada kepentingan umum bagi Formula 1 dan integritas olahraga, dan ada kepentingan materiil bagi McLaren dalam hal dampak kejuaraan kami."
FIA sendiri telah mengonfirmasi bahwa sidang akan digelar tertutup tanpa kehadiran publik atau media demi kerahasiaan, dan keputusan akan diumumkan sesegera mungkin. Ini adalah pertama kalinya pengadilan banding FIA menangani kasus yang melibatkan interpretasi penalti pasca-balapan, dan hasilnya akan menjadi rujukan bagi kasus-kasus serupa di masa depan.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dan konsistensi dalam penegakan aturan. Meski tidak ada pembalap Indonesia yang terlibat, prinsip keadilan prosedural yang sedang diuji memiliki dampak luas, termasuk bagi tim-tim yang berbasis di Asia dan sponsor dari kawasan ini. Keputusan pengadilan nantinya akan menentukan apakah tim dapat mengandalkan banding untuk memperbaiki keputusan yang dianggap keliru, atau justru membuka celah penyalahgunaan.
Dengan klasemen konstruktor yang masih ketat, setiap poin sangat berharga. Jika McLaren berhasil memenangkan banding, mereka bisa mendapatkan kembali poin yang hilang, sementara Alpine dan Gasly akan menghadapi pukulan telak. Pertanyaannya kini: apakah pengadilan akan memprioritaskan kepastian hukum atau keadilan substantif? Jawabannya akan segera diketahui, dan bisa mengubah arah kompetisi musim ini.



