Hamilton Sesalkan Keputusan Strategi Ferrari di GP Belanda: 'Kami Buang Waktu'
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton finis keempat di GP Belanda dan mengkritik keterlambatan Ferrari dalam memprioritaskan balapannya, yang ia yakini membuatnya kehilangan peluang naik podium.
- Ferrari mengakui adanya kebingungan strategi, dengan bos tim Frederic Vasseur menyebut komunikasi yang tidak jelas sebagai penyebab insiden di pertengahan balapan.
- Hamilton menuntut peningkatan performa mesin Ferrari untuk mengejar ketertinggalan 0,4 detik dari Mercedes di trek lurus, demi menjaga asa juara dunia.

Pembalap Ferrari, Lewis Hamilton, meluapkan kekesalannya setelah finis keempat di Grand Prix Belanda, Minggu (25/8). Ia menilai keputusan tim yang terlambat mempersilakannya melewati rekan setim, Charles Leclerc, telah menghancurkan peluangnya untuk merebut posisi kedua. Dalam balapan yang berlangsung di Sirkuit Zandvoort itu, Hamilton harus rela tertahan di belakang Leclerc selama beberapa lap, tepat ketika ia berada dalam kondisi ban yang lebih segar dan siap menekan dua pembalap Mercedes di depannya.
Insiden bermula saat Hamilton meminta izin untuk melewati Leclerc pada pertengahan balapan. Namun, tim justru memerintahkan Leclerc untuk masuk pit, yang kemudian ditolak oleh pembalap asal Monako tersebut. Leclerc baru mematuhi perintah itu satu lap kemudian, sehingga Hamilton kehilangan waktu berharga. "Cara yang bagus untuk membuang waktu, kerja yang bagus," ucap Hamilton sarkastis melalui radio tim, seperti dikutip dari BBC Sport.
Keterlambatan itu membuat Hamilton kehilangan momen untuk mengejar George Russell yang berada di posisi kedua. Meski sempat mendekat di lap-lap akhir, ia kehabisan waktu untuk melakukan overtake, apalagi setelah munculnya virtual safety car di penghujung balapan. Alhasil, dua Ferrari finis berurutan di posisi keempat dan kelima, tepat di belakang Russell, sementara kemenangan diraih Lando Norris dari McLaren.
Kekecewaan Hamilton bukan tanpa alasan. Saat ini ia berada di posisi ketiga klasemen pembalap, tertinggal 59 poin dari pemimpin klasemen, Kimi Antonelli. Setiap poin sangat berharga dalam perburuan gelar, dan Hamilton menegaskan bahwa kehilangan beberapa detik di belakang Leclerc bisa menjadi penentu di akhir musim. "Saya di sini untuk menang dan saya yakin tim ini bisa menang. Kami tidak bisa memenangi balapan ini, tapi untuk memenangi kejuaraan Anda harus mengumpulkan setiap poin," ujarnya.
Perbandingan dengan rivalnya, Mercedes, membuat situasi ini semakin terasa pahit. Di kubu Mercedes, George Russell diperintahkan untuk memberi jalan kepada Antonelli di akhir balapan demi mengamankan posisi kedua. Eksekusi yang cepat dan tegas itu kontras dengan kebingungan yang terjadi di garasi Ferrari. Hamilton pun menyoroti perbedaan tersebut: "Yang jelas, saya melihat mereka dan melihat Mercedes. Mereka mengeksekusi dengan baik. Mereka punya mobil, mereka sedang berjuang untuk kejuaraan, dan mereka melakukannya dengan segera. Di sini, kami hanya menunggu, ini sesuatu yang perlu kami diskusikan."
Sementara itu, bos tim Ferrari, Frederic Vasseur, membela keputusan timnya. Ia mengakui adanya kebingungan, tetapi menekankan bahwa strategi itu sengaja tidak diungkapkan kepada Hamilton untuk menghindari kebocoran informasi ke tim lawan. "Kami tidak memberi tahu Lewis bahwa kami berharap dia bertahan sampai akhir. Ini bukan soal memaksanya. Kami tidak ingin mengungkapkan strategi pada tahap itu karena kami ingin menjaga posisinya di trek," jelas Vasseur. Ia menambahkan bahwa Leclerc seharusnya masuk pit lebih awal, dan perpanjangan satu lap itulah yang memicu kekacauan.
Di luar masalah strategi, Hamilton juga menyoroti defisit performa mesin Ferrari. Ia mengaku bangga dengan upgrade yang dibawa tim di Zandvoort, tetapi menegaskan bahwa Ferrari masih tertinggal jauh dalam hal tenaga. "Kami semakin dekat, tapi kami sudah setengah musim kehilangan tenaga. Kami benar-benar perlu meningkatkan tenaga jika ingin bersaing menutup jarak dengan mereka," tegas Hamilton. Menurutnya, Ferrari kehilangan 0,4 detik di trek lurus dibandingkan Mercedesโangka yang signifikan di sirkuit modern yang mengandalkan aerodinamika.
Kritik Hamilton ini menjadi sinyal bahwa tekanan mulai dirasakan di kubu Ferrari. Dengan sisa musim yang semakin menipis, setiap keputusan strategi dan peningkatan teknis akan menjadi penentu. Pertanyaannya, akankah Ferrari mampu merespons dengan perbaikan mesin yang signifikan, atau justru terus kehilangan poin berharga dalam persaingan ketat menuju gelar juara? Musim ini masih menyisakan banyak balapan, dan peluang untuk memperbaiki keadaan masih terbuka lebar.



