Teofimo Lopez Menatap Tahta Penuh: Setelah Taklukkan Romero, 'The Takeover' Incar Unifikasi di Kelas Welter
Baca dalam 60 detik
- Lopez merebut sabuk WBA kelas welter usai mengalahkan Romero, dan kini menargetkan duel unifikasi melawan Garcia, Haney, atau Paro.
- Kemenangan ini menjadi titik balik setelah kekalahan telak dari Stevenson, menunjukkan ambisi Lopez untuk membangun kembali warisannya.
- Langkah berani Lopez untuk menolak laga gampang demi menantang sesama juara bisa memicu laga-laga besar yang menguntungkan industri tinju.

Teofimo Lopez resmi menyandang sabuk kelas welter WBA setelah menumbangkan Rolando Romero di T-Mobile Arena, Las Vegas, Minggu (23/8). Namun, gelar tersebut hanyalah permulaan. 'The Takeover' langsung mengarahkan bidikan ke nama-nama besar di divisinya, menegaskan ambisinya untuk menjadi juara sejati di era empat sabuk.
Kemenangan atas Romero bukan sekadar menambah koleksi sabuk. Bagi Lopez, ini adalah pernyataan bangkit setelah ia menelan kekalahan angka telak dari Shakur Stevenson pada Januari 2026. Sebelumnya, ia pernah menjadi juara di kelas ringan dan super ringan, tetapi kekalahan itu sempat mempertanyakan masa depannya. Kini, dengan sabuk WBA di pinggang, Lopez merasa berada di jalur yang tepat untuk menuntaskan misi yang belum selesai.
Dalam wawancara dengan The Ring, Lopez menegaskan bahwa tiga pertarungan tersisa dalam kontraknya bersama DAZN akan diarahkan untuk meraih status tak terbantahkan. Ia tidak tertarik meladeni penantang wajib atau laga yang tidak bergengsi. Daftar keinginannya jelas: pemenang duel Ryan Garcia melawan Conor Benn pada 12 September, atau langsung menantang pemegang sabuk WBC, WBO, dan IBF, yakni Garcia, Devin Haney, dan Liam Paro.
Langkah Lopez ini menarik karena ia menolak jalur aman. Beberapa nama seperti Jack Catterall, Keyshawn Davis, atau bahkan Manny Pacquiao disebut-sebut sebagai lawan potensial yang menguntungkan secara finansial. Namun, Lopez menegaskan bahwa ia hanya tertarik pada duel melawan sesama juara. "Saya akan merebut gelar juara dunia berikutnya. Siapa pun juara berikutnya, itulah intinya," ujarnya.
Di antara semua opsi, duel melawan Ryan Garcia tampaknya paling menggoda. Keduanya sudah saling sindir selama bertahun-tahun. Jika Garcia berhasil mengalahkan Benn, pertarungan Lopez-Garcia bisa terwujud dengan relatif mudah karena keduanya di bawah manajer yang sama, Keith Connolly. "Saat ini ada rumor, itu pertarungan selanjutnya. Kita lihat saja apa yang terjadi. Kita akan mengamati. Jika Conor menang, itu akan menjadi pertarungan hebat untuk digelar di seberang lautan. Saya mendukungnya apa pun hasilnya," kata Lopez.
Bagi penggemar tinju Indonesia, perkembangan ini menambah daftar laga super yang sayang untuk dilewatkan. Meski tidak ada petinju Indonesia yang terlibat langsung, dinamika kelas welter ini kerap menjadi tontonan yang dinanti, terutama dengan maraknya platform streaming yang menayangkan laga-laga tinju dunia. Jika Lopez berhasil mengunci duel unifikasi, bisa dipastikan akan ada malam pertarungan yang menghibur dan menguntungkan bagi industri olahraga global.
Pertanyaannya kini, akankah Lopez mampu mewujudkan ambisinya? Atau akankah nama-nama seperti Haney dan Paro menjadi batu sandungan? Yang jelas, 'The Takeover' tidak akan berhenti sampai ia menjadi satu-satunya raja di kelas welter.



