Roma Bantai Fiorentina 4-0: Hattrick Malen dan Assist Sempurna Dybala Buka Musim Serie A
Baca dalam 60 detik
- Donyell Malen mencetak hattrick dan Paulo Dybala mencatatkan tiga assist saat Roma menang telak 4-0 atas Fiorentina di laga perdana Serie A.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Roma di bawah Gasperini, sementara Fiorentina yang baru dilatih Grosso belum mampu mengembangkan permainan.
- Hasil ini menjadi sinyal awal persaingan ketat di papan atas Serie A, sekaligus ujian bagi proyek jangka panjang kedua tim.

AS Roma memulai petualangan mereka di Serie A musim 2025/2026 dengan pesta gol. Menjamu Fiorentina di Stadio Olimpico, tim ibu kota menang telak 4-0, dengan Donyell Malen menjadi bintang lewat hattrick-nya, sementara Paulo Dybala tampil sebagai kreator utama dengan tiga assist. Satu gol tambahan dicetak Niccolo Pisilli yang masuk dari bangku cadangan.
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, melainkan pernyataan ambisi. Di bawah arahan Gian Piero Gasperini, Roma tampil menekan sejak menit awal. Mereka menguasai lini tengah dan rajin menusuk pertahanan lawan lewat kombinasi cepat. Satu gol Mario Hermoso sempat dianulir karena offside, namun hal itu tidak menyurutkan agresivitas tuan rumah. Malen akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-27, memanfaatkan umpan terukur Dybala.
Bagi Fiorentina, laga ini menjadi debut pahit bagi pelatih anyar Fabio Grosso. Sepanjang pertandingan, La Viola kesulitan membangun serangan berbahaya. Mereka nyaris tidak pernah mengancam gawang Mile Svilar, kiper Roma yang justru relatif menganggur. Ketidakmampuan membaca permainan Roma membuat Fiorentina tampil inferior, baik secara taktik maupun mental.
Kemenangan telak ini mengirim pesan jelas ke para pesaing Scudetto. Roma tidak hanya mengandalkan individu, tetapi juga kolektivitas yang diracik rapi oleh Gasperini. Sementara itu, Fiorentina harus segera berbenah sebelum terlindas lebih jauh. Tekanan kini berada di pundak Grosso untuk membuktikan bahwa ia layak menangani klub sekelas Fiorentina.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menunjukkan tren taktik modern. Gasperini, yang dikenal dengan gaya pressing tinggi dan transisi cepat, berhasil menerapkannya di Roma. Ini bisa menjadi referensi bagi pelatih lokal yang ingin mengadopsi pendekatan serupa. Selain itu, performa Dybala yang luar biasa mengingatkan kita pada pentingnya playmaker klasik di tengah dominasi sepak bola berbasis kecepatan.
Melihat ke depan, Roma di bawah Gasperini berpotensi menjadi penantang serius bagi Inter Milan, Juventus, dan AC Milan. Namun, konsistensi tetap menjadi kunci. Pertanyaan besarnya: akankah Roma mampu mempertahankan performa ini sepanjang musim, atau justru Fiorentina yang akan bangkit dan menjadikan kekalahan ini sebagai pelajaran berharga? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti, Serie A musim ini akan semakin menarik untuk diikuti.



